
Usai makan, Syafa membantu bunda Viona membereskan meja makan. Dari raut wajah Syafa, bunda Viona bisa menebak Syafa dan Rivan sedang bertengkar. Namun, ia berpura pura tidak tahu karena tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Ia ingin mereka berdua bisa menyelesaikan masalah sendiri.
" Istirahatlah nak, biar bibi aja nanti yang cuci piring " Ujar bunda Viona. Syafa yang sedang mencuci piring menoleh dan tersenyum.
" Nggak papa bun, biar Syafa aja. Lagian ini kan piring bekas kita makan, masa iya bibi yang nyuci " Jawab Syafa membuat bunda Viona kagum pada menantunya ini. Ia benar benar tidak menyesal memilih Syafa sebagai menantunya. Apalagi setelah mengetahui jika Rivan mencintai Syafa.
" Masyaallah!! kau tahu nak, bunda begitu beruntung memiliki menantu sepertimu " Syafa tersipu malu mendengar pujian bunda mertuanya.
" Bunda bisa aja! "
" Bunda kekamar dulu ya, bunda mau menyiapkan baju ganti ayah. Jika sudah selesai, kamu langsung istirahat aja ya " Ujar bunda Viona kemudian yang diangguki.
" Siap bunda. " Bunda Viona keluar dari dapur. Namun, saat hendak keluar ia berpapasan dengan Rivan.
" Kau apakan menantu bunda hemm? Kenapa dia terlihat kesal? " Tanya bunda Viona.
" Nggak ada bunda, hanya masalah kecil " Jawab Rivan enteng membuat bunda Viona mendelik kesal.
" Awas kalo macem²! " Setelah itu bunda Viona pergi dari hadapan Rivan.
...****...
Sementara Rivan menghampiri Syafa yang masih mencuci piring.
" Bunda nggak jadi ke kamar? " Tanya Syafa saat merasakan ada seseorang yang mendekatinya. Ia kira bunda Viona yang kembali.
" Bunda udah masuk kamar sayang! "
Deg!!
Syafa sontak menoleh mendengar suara yang sangat ia kenali itu.
" Mas Rivan!! " Kagetnya membuat Rivan tersenyum lalu perlahan mendekati Syafa. Ia melingkarkan tangannya diperut Syafa.
" Sudah selesai sayang? " Tanya Rivan. Ia juga menyadari Syafa kesal padanya karena lebih mementingkan kerjaannya.
" Masih lama! "
" Mas bantuin ya "
" Nggak perlu, nanti ganggu waktu mas kerja lagi " Jawab Syafa sarkas yang justru membuat Rivan tersenyum. Ia sangat menyukai wajah istrinya yang marah seperti ini. Terlihat sangat menggemaskan.
" Maaf sayang! Ada masalah diperusahaan yang membuat mas terpaksa membuka laptop " Ujar Rivan. Syafa hanya diam, seraya meneruskan pekerjaannya.
" Bisa bergeser sedikit mas! Biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku " Ujar Syafa.
" Mas bantu sayang "
" Nggak perlu " Syafa melepaskan tangan Rivan yang memeluknya. Ia bergerak menyusun piring yang sudah dicucinya dan bergegas menuju kamar. Tanpa peduli pada Rivan.
" Kakak ipar "
" Kalista, sudah pulang? " Tanya Syafa seraya membalas pelukan adik iparnya itu.
" Iya kak! Maaf ya kita nggak nungguin kakak dulu. Lain kali kita pergi sekeluarga " Ujar Kalista yang sudah melepas pelukannya. Tak lama, seluruh anggota keluarga itu masuk ke dalam rumah.
" Syafa, kapan datang? " Tanya Hana yang juga memeluk adik ipar barunya itu.
" Tadi pagi kak " Jawab Syafa. Ia senang bisa disambut dengan hangat oleh keluarga Pranata.
" Yaampun, tahu gitu kita nggak bakal hangout hari ini! Maaf ya jadi nggak ada acara penyambutan " Sahut Nabila yang sedang menggendong Tari.
" Nggak papa mbak, nggak perlu acara penyambutan segala. Kayak mau nyambut artis aja " Ujar Syafa. Nabila terkekeh mendengarnya.
" Selamat datang di keluarga kami adik ipar! Mulai sekarang kita adalah keluarga, jadi jangan sungkan hemm.. " Ujar Vivto yang diangguki Axel juga.
" Kalau ada perlu, bicara aja.. anggap kami kakakmu sendiri " Sambung Axel
" Iya bang, mas! Makasih udah nerima Syafa dikeluarga ini "
" By, matamu tolong dikondisikan. Jaga image didepan adik ipar " Protes Shalsa membuat semua orang terkekeh. Biman memang selalu bersikap romantis tanpa tau tempat.
" Bercanda sayang! Lihat Ivan, mamamu suka sekali merajuk " Aduh Biman pada anaknya yang tertidur di gendongan sang istri.
" Istrimu itu nggak merajuk Biman, hanya malu saja padahal dia juga mau " Sahut Axel ikut menggoda sang adik.
" Apaan sih mas Axel ikut² aja. "
" Tapi benar kan? " Kini Vivto juga ikut menyahut.
" Ya, terserah kalian " Shalsa pergi begitu saja diikuti oleh Biman yang mengerjarnya.
" Sayang maaf!! " Kedua pasangan suami istri itu berlalu dari ruang tamu.
" Yasudah, kakak juga mau ke kamar ya! " Syafa mengagguk. Setelah semua masuk kedalam kamar, Syafa meneruskan langkahnya. Namun, terhenti ketika tiba tiba Rivan menahan lengannya.
" Sayang! Kamu marah? "
" Enggak, siapa yang marah " Kilah Syafa seraya melepas tangan Rivan yang menggenggam tangannya. Rivan membiarkannya dan menyusul ke kamar.
...*****...
" Maaf! " Syafa kini duduk di balkon kamar Rivan. Rivan yang melihat Syafa duduk disana langsung menyusul dan duduk disamping sang istri seraya merangkul pundaknya.
" Mau kemana, sayang? Mas tau mas salah karena mengabaikanmu tadi. I'm sorry " Syafa yang hendak masuk kembali di tahan oleh Rivan. Syafa menghelah napasnya. Ia sebenarnya tak benar benar marah. Ia hanya memberi sedikit pelajaran pada Rivan, supaya Rivan juga ingat akan statusnya sekarang.
" Mas, bisa tolong lepaskan! Aku mau membereskan bajuku dilemari " Ujar Syafa tanpa menoleh ke belakang.
" Tidak, sebelum kamu memaafkan mas " Tegas Rivan. Syafa memundurkan langkahnya dan kembali duduk di samping Rivan.
" Bisakah lain kali kamu lebih menghargaiku mas. Sedih sekali rasanya diabaikan walaupun kamu sibuk sekalipun " Ungkap Syafa dengan tatapan sendu membuat Rivan semakin merasa bersalah. Rivan menarik Syafa kedalam dekapannya.
" Maaf sayang! Mas janji nggak akan kayak gitu lagi " Lirih Rivan seraya mengelus pelan rambut panjang istrinya. Sejenak mereka terdiam, hanya menyalurkan rasa sayang mereka lewat sebuah pelukan.
" Masih marah? " Tanya Rivan kemudian.
" Iyaa.. " Jawab Syafa.
" Baiklah, kalau begitu jurus ini pasti ampuh untuk mengurangi rasa amarah didalam dirimu " Ujar Rivan.
Cup..
Tanpa permisi, Rivan mengecup pipi Syafa membuat Syafa lagi lagi merasa malu. Ia bahkan langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
" Mau lagi sayang? " Syafa menggeleng seraya memukul pelan dada bidang Rivan. Sementara Rivan hanya terkekeh. Istrinya begitu menggemaskan.
" Atau mau yang lebih dari ini? " Goda Rivan mengedipkan sebelah matanya.
" Apa sih mas, minggir ah! " Syafa beranjak dari duduknya diikuti Rivan dari belakang.
" Mau dibantu sayang? "
" Nggak usah! Mending mas Rivan istirahat aja " Ujar Syafa yang sibuk memasukkan sebagian bajunya di lemari Rivan.
" Yakin? "
" Iya mas! "
" Baiklah, setelah itu langsung menyusul tidur ya. Nanti sore mas mau mengajakmu ke suatu tempat " Ucap Rivan.
" Kemana mas? "
" Surprise dongg! Pokoknya nanti sore kamu harus cantik. Mas juga sudah minta asistenmu membawakan gaun yang cantik untuk kamu kenakan " Rivan berjalan keluar dari walk in close miliknya setelah membuat Syafa penasaran.
" Mas Rivan mau mengajakku kemana nanti sore? Sampai² memesankanku gaun " Syafa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rivan tadi. Kenapa Rivan harus membuatnya penasaran seperti ini? Syafa akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan menyusul Rivan yang sudah lebih dulu tertidur meski masih penasaran kemana nanti Rivan mengajaknya.
To be continued!!!