
Siap dengan ritual siap tempurnya, Ikhsan bergegas menuju ke ruang keluarga. Disana sudah menanti ayah dan mama cantiknya, serta adiknya, yang tentu saja tersenyum bahagia menyambut kehadiran abangnya tercinta, berbagai intrik dipersiapkannya untuk habis-habisan mengerjai abangnya tersebut. Hasna menyeringai penuh makna.
" Pagii mama... Ayah dan tuan putri... " Sapa Ikhsan memusatkan perhatian para manusia itu diruang keluarga.
" Yeeaaayyyy... Pagi juga abangku sayang, yuk kita kemoooonn, Hasna udah gak sabar pengen shoping hahahahhaha... "
Tawanya begitu renyah mengisi ruang rumah itu.
Sang ayah menimpali : " Kalian hati-hati di jalan yaa, jangan bikin abangmu babak belur yaa, Hasna! " Kata-katanya begitu ditekan kearah anak gadisnya itu. Hasna hanya mengedipkan sebelah matanya sambil memaksakan senyumnya.
Mama : " Ikhsan, jangan lupa bawa kartu kredit mama yah! Adikmu itu suka kalap kalo sudah ada di toko buku, semua buku terbitan baru pasti di borongnya! "
Hasna terlihat sebal saat mamanya mengucapkan hal itu, lalu memutarkan kedua bola matanya menandakan ia sangat jengah setiap hari mendengar jamuan nasihat dan petuah dari orangtuanya.
" Abang, yuk ah, kita cawwww aja, bete tau denger ceramah muluuuu... " Kata Hasna sambil menggeret lengan abangnya yang badannya pun masih nyangkut di tangga rumah.
Rencananya, Ikhsan pengen menghabiskan dulu jatah sarapan buatan mamanya di meja makan, tapi apa daya, ulah si tuan putri itu betul-betul bikin Ikhsan kelabakan. Akhirnya, dengan jiwa baik hati dan pengertian dari mamanya, jatah sarapan Ikhsan sudah dibekalkan di sekotak tempat makan yang kemudian dibawakan kepada anak sulungnya itu, sambil berkata :
" Nak, ini bekal sarapan untuk di mobil, tolong dimakan yaa, kamu juga butuh energi untuk menghadapi singa betina macam adikmu itu! "
" Ha... Ha.... Ha.... Mama ini, suka kalik cakap hal yang bikin aku ketawa gini.... Gkgkgkgkk.... " Kata Ikhsan sambil mengambil kotak makannya itu.
Dalam hati, Ikhsan bersyukur memiliki keluarga yang sangat perhatian dan saling memberikan support satu sama lain. Keadaan keluarga yang seperti ini tidak serta merta membuat mereka menjadi takabur dan sombong. Karena segala keberhasilan ini digapai melalui rintangan, ujian dan cobaan yang begitu berat, dulunya pun mereka mengalami bagaimana kehidupan mengajari bahwa kenyataan tak melulu sesuai dengan ekspektasi.
Namun walau bagaimanapun keadaannya, ayah dan mamanya selalu mengajarkan bahwa hanya Allah SWT tempat untuk meminta dan bermohon.
Ikshan sudah siap dibalik setir mobil. Sedangkan Hasna, jangan ditanya. Senyum dari bibirnya begitu merekah sesekali diiringi dengan lantunan lagu yang terdengar dari dashboard mobil yang mereka naiki.
" Hati-hati sayang... Jangan ngebut yaa, Hasna Ikhsan... " Yang didalam mobil hanya mengangguk sambil membalas lambaian tangan mereka.
Mobil berlalu meninggalkan rumah itu. Didalam mobil, dua kakak beradik itu saling melempar pertanyaan, bahkan candaan serta ejekan satu sama lain.
Ikhsan : " Buku apa yang mau kamu beli, dek? "
Hasna : " Itu loh kak, judulnya 'my introvert husband' karya nya Nona Lancaster. Seru loh isi novelnya! "
Ikhsan : " Oohh... " Sampai mulut Ikhsan sempurna membentuk huruf O bulat.
Hasna : " Sebenarnya itu yang kemaren aku incar loh, tapi masih baaaanyaaaaaaak lagi karya author keren jebolan noveltoon yang akhirnya di cetak loh bang! " Kata Hasna bersemangat.
" ......... " Tak ada jawaban, hanya anggukan saja.
Hasna : " Nanti Hasna juga mau bikin novel hmmm judulnya.... hmmm apa yaa? " Sambil mikir keras. Tetiba, sang abang nyeletuk :
" Hmm, gimana kalo judulnya 'Adikku, singa betina' aja ! " Yang kemudian disusul tawa menggema dari suara Ikhsan.
Sontak itu membuat Hasna cemberut sambil melirik tajam ke arah abangnya. Sejurus kemudian, Hasna menyerang abangnya dengan pukulan telak di lengan kiri abangnya, sang abang berusaha menghindar dari serangan adiknya, namun ia tetap berusaha mengendarai laju mobil dengan normal menggunakan tangan kanannya.
Mall of Artha Graha
Sudah sampai juga. Perjalanan tadi tidak terasa membosankan karena dua kakak beradik itu menikmati waktu kebersamaan mereka. Ikhsan memasuki pelataran parkir di gedung bertingkat itu. Ikhsan melajukan mobilnya menuju basement bawah tanah Mall terbesar di kota XX tersebut.