The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Kencan bertiga



" Uncle, kita jadi mampir ke timezone kan? Ila udah lama nggak kesana " Ujar seorang anak perempuan yang duduk dipangku oleh seorang wanita. Sontak orang yang dipanggil uncle olehnya menoleh.


" Iya! "


" Yeayy!! Sayang uncle Livan "


" Sayangnya sama uncle Rivan doang? Auntynya nggak dong? " Protes wanita yang memangkunya. Anak perempuan yang tadi fokus pada sang uncle kini menatap wanita itu.


" Sayang onty Cyafa juga " Tangan kecilnya memeluk Syafa membuat Syafa mencubit hidungnya karena gemas.


" Kita ke timezone dulu mas " Ujar Syafa beralih menatap Rivan yang tengah fokus menyetir mobilnya. Tadi sebelum pergi, keduanya mampir ke kediaman Rivan karena dompet Rivan ketinggalan. Tak disangka ternyata disana ada Axel, Nabila juga si kecil Bahira. Ketika hendak pergi, Bahira merengek ingin ikut unclenya. Alhasil kencan berdua yang direncanakan kini menjadi bertiga.


" Kamu nggak masalah? Kencan kita jadi batal loh " Jawab Rivan.


" Nggak papa kok mas! Bener kata mama, kalo udah nikah nanti kita bakal punya banyak waktu buat berduaan. Kalo sekarang sih masih was was, belum halal. Kita nggak tau kan kapan saja syaiton itu bisa mempengaruhi otak kita! " Ungkap Syafa membuat Rivan tersenyum.


" Baiklah! Kalau begitu anggap aja kita latihan jadi orangtua, gimana? " Syafa terkekeh mendengar ucapan Rivan.


" Ehmm.. terserah mas Rivan! " Jawab Syafa.


...****...


Pranata's Mall


Kini mereka sudah sampai pada sebuah mall terbesar di kota itu. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka bertiga segera turun dan masuk area mall.


" Ira nggak mau makan dulu? " Tanya Rivan pada ponakannya yang berada digendongan Rivan. Sementara Syafa berjalan berdampingan dengan Rivan. Seperti biasa, tanpa adegan gandengan tangan. Bahira menggeleng.


" Ndak mau! Ila mau langsung main.. " Jawab Bahira cemberut.


" Oke²! Kita main ya " Bujuk Rivan membuat sebuah senyum terbit di bibir mungil Bahira.


" Ila mau main itu uncle! " Ujar Bahira menunjuk sebuah permainan saat mereka sudah memasuki area timezone.


" Tunggu ya, aunty beli tiket masuknya dulu " Sahut Syafa membuat Bahira tersenyum senang.


" Makasih onty! Onty Cyafa yang telbaikk "


" Iya dong, aunty yang terbaikk " Balas Syafa seraya berjalan mendekati loket pembelian tiket masuk wahana permainan diarea itu.


" Ira suka nggak sama aunty Syafa? " Tanya Rivan pada ponakannya seraya mengikuti langkah Syafa dengan perlahan.


" Cuka banget uncle! onty Cyafa itu baik, kayak onty onty Ila yang lain " Jawab Bahira membuat Rivan tersenyum senang.


" Nah, ini tiketnya! Ayo masuk " Syafa tiba tiba sudah berada disamping mereka membuat perbincangan mereka berdua jadi terhenti.


" Horee, uncle tulun! Ila mau jalan aja "


" Yakin? "


" He'em " Bahira mengagguk berkali kali. Rivan segera menurunkan Bahira dan membiarkan balita itu berlarian sesuka hatinya.


" Ira awass!! " Pekik Syafa saat Bahira hendak menabrak seseorang.


Bukkk..


" Aduhh " Rivan dan Syafa segera berlari kearah Bahira yang terjatuh karena menabrak seorang wanita. Wanita itu tampak membantu Bahira berdiri.


" Adek manis! Maaf ya, tante nggak sengaja tadi. Jangan nangis ya cantik.. " Bujuk wanita itu. Bahira menatap wanita itu.


" Ila juga salah! Maafin Ila ya tante " Wanita itu mengangguk.


" Adek sama siapa kesini hem? " Belum sempat Bahira menjawab, Syafa dan Rivan sudah lebih dulu menghampiri.


" Ira sayang! Kamu nggak papa nak? " Tanya Syafa seraya berjongkok dihadapan Bahira yang sudah berdiri. Bahira menggeleng seraya tersenyum manis.


" Nggak papa mbak! Saya juga minta maaf karena membiarkan ponakan saya berlarian seperti tadi " Jawab Syafa merasa bersalah.


" It's okey, kalau begitu saya duluan ya! " Pamit wanita itu seraya meninggalkan mereka.


" Ira benar benar nggak papa kan? " Tanya Syafa lagi setelah wanita itu pergi. Kini ia mengajak Bahira dan juga Rivan duduk di salah satu bangku yang tersedia disana.


" Ila nggak papa onty! " Jawab Bahira seraya tersenyum lebar.


" Lain kali Ira harus hati hati ya, nggak boleh lari larian kayak tadi. Gimana kalau Ira terluka? Untung juga tante yang tadi baik mau bantuin Ira kan? " Ujar Syafa lembut seraya mengelus rambut panjang Bahira yang kini duduk dipangkuannya. Rivan tersenyum melihat Syafa yang begitu tulus menyayangi keponakannya.


" Iya onty, maafin Ila ya! Ila janji nggak akan lali lali kayak tadi lagi "Jawab Bahira seraya menunduk.


" Iya, aunty maafin! Ayo, katanya Ira mau main. Kita kesana ya " Bujuk Syafa yang melihat perubahan pada raut wajah Bahira. Benar saja mendengar ucapan Syafa, Bahira mengagguk antusias.


" Ayo aunty! "


" Uncle yang gendong ya? Kasihan auntynya capek gendong Ira " Tawar Rivan yang sedari tadi diam saja.


" No, Ila mau jalan aja kayak meleka " Bahira menunjuk dua orang anak yang berjalan digandeng oleh orangtuanya ditengah.


" Baiklah, ayo uncle dan aunty temani Ira bermain " Rivan menurunkan Bahira dari pangkuan Syafa dan menggandeng tangan kecil Bahira.


" Onty ayo!! " Bahira juga menarik tangan Syafa yang baru saja hendak berdiri.


" Iya sayang "


...****...


" Fa! " Panggil Rivan tiba tiba. Syafa yang sedang fokus memandangi Bahira yang sedang bermain di area permainan anak sontak menoleh.


" Kenapa mas? " Tanya Syafa.


" Maaf ya! Kencan berdua yang kita rencanakan kemarin harus gagal karena Bahira yang merengek ingin ikut " Tutur Rivan dengan raut wajah yang penuh penyesalan. Sementara Syafa tersenyum mendengarnya.


" Nggak papa mas! Lagian nggak baik juga kita sering jalan berduaan sebelum jadi suami istri. Nanti malah timbul fitnah. Aku malah seneng ada Bahira, karena orang bilang jika perempuan dan laki laki bukan mahram berduaan yang ketiganya syaiton. " Balas Syafa kemudian terkekeh.


" Setelah nikah nanti, aku akan berusaha luangkan waktu untuk kita berdua " Jawab Rivan membuat wajah Syafa merona mendengarnya.


" Selama dipingit, aku harap kamu istirahat dirumah! Jangan mikirin kerjaan. Karena hari H nanti pasti aka menguras tenaga " Sambung Rivan kemudian. Syafa hanya mengangguk.


" Mas Rivan juga! Pokoknya harus benar benar istirahat " Sahut Syafa.


" Jangan lupa berkirim kabar lewat chat ya, bakalan rindu soalnya! Dan benar kata Dilan, rindu itu berat " Goda Rivan lagi membuat Syafa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.


" Onty, uncle!! " Teriak Bahira berlari kearah keduanya. Rivan merentangkan tangannya menangkap tubuh mungil itu.


" Kenapa hem? " Tanya Rivan.


" Ila capek uncle! " Jawab Bahira. Syafa dengan sigap mengambil air mineral yang tadi di dibawanya dari mobil. " Ini, Ira minum dulu ya " Syafa membuka segelnya dan memberikan air mineral itu pada Bahira.


" Telima kacih onty! " Bahira segera mengambil air mineral yang disodorkan Syafa padanya dan meneguknya.


" Pelan pelan Ira sayang! "


" Hehe.. maaf uncle " Bahira menyerahkan air mineral yang sudah diminum seperempatnya pada Rivan.


" Ila juga lapal uncle "


" Yasudah, kita cari makan dulu ya " Sahut Syafa. Rivan mengagguk setuju. Mereka akhirnya beranjak dari tempat duduk dan mencari restoran seafood kesukaan Bahira.


To be continued!!!