
Syafa terus saja tertawa mengejek Rivan yang menganggap kakak pertamanya sebagai calon suaminya.
" Disini rupanya calon pengantin baru! "
" Kalian " Pekik Syafa girang. Ia lantas berdiri dan memeluk kedua sahabat perempuannya itu.
" Congrats ya Fa! Gue ikut seneng. " Ucap Asya memeluk sahabatnya dengan erat.
" Sorry ya kita telat. Soalnya tadi ada tugas dadakan dari bokap " Ujar Rara membalas pelukan sahabatnya. Rara sekarang menggantikan sang ayah memimpin perusahaan keluarga yang bergerak di bidang desain. Sementara Asya, ia lebih menekuni desain bangunan. Dengan kata lain, ia kini menjadi seorang arsitek.
" Iya gue ngerti kok! Semua pada sibuk sekarang " Jawab Syafa dengan nada meledek.
" Lo juga lebih sibuk sekarang! Pulang ke Surabaya sampai nggak pamit " Sindir Asya seraya melepas pelukannya.
" Iyalah! Orang gue lagi ngambek sama papa " Sahut Syafa dengan wajah cemberut.
" Sok²an ngambek! Padahal seneng " Ledek Rara lagi.
" Mas Rivan, selamat ya! " Pandangan Rara dan Asya kini beralih pada Rivan yang menatap ketiganya yang asyik berbicara. Rivan tersenyum tipis.
" Iya, makasih ya sudah menyempatkan hadir " Jawab Rivan.
" Syafa! " Seorang pria muncul dari belakang keduanya membuat Syafa kaget. Pasalnya tadi pria itu bilang ia tidak dapat hadir. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Ia datang bersama seseorang yang juga Syafa kenal.
" Kak Nic! " Syafa memeluk kakak sepupunya yang katanya sibuk itu.
" Jahat banget sih! Katanya nggak bisa dateng. Padahal papi dan mami sudah menginap sejak kemarin " Rajuk Syafa. Nico tersenyum seraya membalas pelukan adik sepupunya itu.
" Surprise dong! " Jawab Nico santai membuat Syafa mendengus kemudian melepas pelukannya.
" Selamat bro! Moga lancar sampai hari H " Ujar Nico menyalimi Rivan yang juga sudah ikut berdiri.
" Makasih Nic, kapan nyusul kita? " Canda Rivan.
" Doain aja "
Sementara pria yang datang bersama Nico tadi mendekati Syafa.
" Jadi ini mas Rivan yang bikin kamu galau tiap hari itu Fa? " Ledek Kenan seraya melirik Rivan yang juga menatap kearahnya.
" Kenn!! Jangan macam macam " Ujar Syafa menatap tajam sahabatnya itu.
" Ohoo!! Santai dong. Kemarin aja nangis nangis nggak mau dijodohin! Sekarang malah happy, karena ternyata yang pria yang dijodohin ya sih mamas pujaan hati! " Ejek Kenan lagi.
" Kenannn!! " Teriak Syafa kesal. Pasalnya Kenan membuka semua kartunya didepan calon suami, kakak sepupu juga sahabatnya.
" Okey² maaf! "
" Selamat ya bro! Gue titip sahabat yang udah gue anggep adik sendiri ini " Ujar Kenan seraya mengulurkan tangannya pada Rivan.
" Thanks bro " Balas Rivan seraya menyambut uluran tangan Kenan.
" Eh, btw kenapa kak Nic bisa barengan sama Kenan? " Tanya Syafa lagi.
" Kebetulan ketemu didepan tadi "
" Oh!! "
Kedua sahabat Syafa menariknya menjauhi para lelaki. Mereka tampak berbincang dengan serius. Apalagi yang dibahas jika bukan masalah bisnis. Bahkan Kenan dan Rivan yang sebelumnya tak saling kenal, kini tampak berbincang hangat layaknya sahabat lama.
...****...
" Gimana ceritanya lo sama mas Rivan yang lamaran. Padahal kan.. " Rara menggantung ucapannya karena tak enak harus menyebut nama Ando.
" Ando yang sering diceritain sama papa gue itu ya mas Rivan " Jawab Syafa santai. Mereka duduk di sofa yang tak jauh dari para lelaki seraya mengamati keponakan Syafa dan Rivan yang masih asyik bermain.
" Yaampun so sweet banget sih! " Celetuk Asya.
Tak lama kemudian, kedua pria muda kembali menghampiri mereka.
" Van! " Sapa keduanya ketika sampai didepan Rivan. Rivan yang asyik mengobrol mengalihkan perhatiannya. Ia tersenyum melihat kedua pria itu.
" Ya kali kita nggak dateng diacara penting sahabat kita ini " Ujar Bagas melerai pelukan keduanya.
" Congrats ya, gak nyangkah lo duluan yang bakal nikah. Padahal yang playboy itu Bagas " Ujar Arka melirik sahabatnya.
" Apaan lo bawa bawa nama gue! " Bagas menatap tajam Arka.
" Kalau mau adu fisik nanti, tunggu acara gue kelar " Sambung Rivan.
" Oh big no!! Persahabatan kita tanpa kekerasan " Sahut Arka lagi. Sementara kedua pria lainnya hanya menonton perdebatan ketiga sahabat itu.
" Oiya, calon lo mana? " Tanya Arka.
" Tuh, lagi ngobrol sama sahabatnya " Tunjuk Rivan pada Syafa dan kedua sahabatnya yang sedang tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan.
" Bro, kita kesana dulu ya! Mau ngenalin Kenan sama papa Rizky dan mama Lesty " Ujar Nico menepuk pelan bahu Rivan.
" Nico kan? " Tanya Bagas yang baru sadar ada dua pria lain disana.
" Iya! " Jawab Nico mengulurkan tangannya.
" Gue Bagas dan ini Arka! Kami sahabatnya Rivan " Bagas dan Arka kemudian mengulurkan tangannya pada Kenan.
" Gue Kenan! " Ujar Kenan memperkenalkan dirinya.
" Gue kayak nggak pernah liat " Sahut Arka.
" Dia temen Syafa dari Surabaya " Jawab Rivan. Keduanya mengangguk paham.
" Yaudah kita kesana dulu ya! Selamat menikmati pesta " Ujar Nico kemudian berlalu bersama Kenan. Sedangkan Rivan, Bagas dan Arka kini mendekati Syafa yang duduk dengan sahabatnya juga.
" Fa " Panggil Rivan. Sontak Syafa menoleh.
" Iya? Eh, ada kak Bagas dan kak Arka " Syafa berdiri dan menangkupkan kedua tangannya didepan dada, menyapa kedua sahabat Rivan itu.
" Wah² ternyata jodoh nggak kemana ya " Celetuk Bagas. Sedangkan Syafa hanya tersenyum mendengarnya. Benar, ia bahkan tak tahu jika Rivan yang melamarnya hari ini. Jodoh memang tak bisa ditebak. Satu yang ia pelajari dari kejadian ini, puncak tertinggi mencintai yaitu mengikhlaskan. Saat ia sudah mengikhlaskan segala sesuatunya, ia kembali di antarkan pada cinta yang sejati. Entahlah, Syafa masih belum yakin dengan perasaannya. Tapi tak dapat di pungkiri ia merasa bahagia hari ini. Sangat bahagiaa!!
" Selamat ya neng geulis. Moga lancar sampai hari H dan langgeng sampai kakek nenek " Ujar Bagas.
" Aamiin.. Makasih doanya kak "
...****...
" Jadi sebaiknya mulai sekarang om dan tante panggil aku Rivan saja. Sedangkan bunda dan ayah jangan panggil Syakilah lagi biar nggak salah paham " Ujar Rivan sesaat sebelum mereka semua meninggalkan tempat acara.
" Iya, lagipula udah bagus bagus mas Rivan namanya, kenapa harus diganti Ando sih ma, pa? " Sambung Syafa menatap kedua orangtuanya.
" Biar beda dari yang lain kak! " Bela mama Lesty.
" Tapikan kakak jadi salah paham ma! Coba aja dari kemarin mama panggil Rivan. Kakak kan nggak akan.. "
" Nggak akan nolak! Pasti langsung mau, nggak pake acara kabur-kaburan dulu " Sambung Dafa seraya bergegas masuk mobil sebelum sang adik mengamuk.
" Mas Dafaaa ngeselinnn " Teriak Syafa.
Rivan hanya tersenyum melihat tingkah Syafa. Syafa benar benar menjadi apa adanya dirinya. Tidak ada sikap jaim alias jaga image didepan Rivan dan calon mertuanya. Dan itu menjadi satu poin plus untuk Rivan. Karena itu artinya Syafa orang yang apa adanya bukan ada apanya.
" Jaga mata! Ntar jatuhnya jadi zina mata. Belum halal buat dipandang " Bisik Axel, kakak kedua Rivan yang melihat adiknya senyum-senyum tak jelas menatap calon istrinya itu.
" Mass.. " Kesal Rivan. Sementara Axel hanya terkekeh seraya menyusul anggota keluarga yang lain masuk kedalam mobil masing masing.
" Baiklah, calon besan kami permisi dulu! Weekend nanti kita akan bertemu lagi untuk tentuin acara akad dan resepsi pernikahannya " Ujar mama Lesty memeluk sahabatnya.
" Iya! Aku benar benar nggak sabar " Sahut bunda Viona membalas pelukan mama Lesty. Papa Rizky dan ayah Andra pun berpelukan sebentar sebelum akhirnya saling berpamitan.
" Aku pamit dulu Fa! See you " Pamit Rivan pada Syafa seraya melangkah menuju mobil sang ayah.
" See you too " Jawab Syafa yang juga masuk mobil papanya.
To be continued!!!