The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Mengasuh Twins



Setelah mobil yang ditumpangi papa Rizky, mama Lesty dan Rasya menghilangkan dibalik gerbang, Syafa mengajak kedua ponakannya itu masuk kedalam rumah.


" Ain.. ain.. ancel Van " ( Main, main Uncle Rivan )


Hanna menarik-narik ujung baju yang dikenakan oleh Rivan. Rivan mengangkat tubuh mungil Hanna.


" Adek Hanna mau main? " Dengan antusias Hanna mengangguk membuat Rivan gemas dan mencubit pelan hidung gadis kecil itu.


" Yasudah, ayo kita susul abang " Rivan mengajak Hanna menghampiri abangnya yang sedang main mobilan yang dibelikan Rivan tadi ditemani oleh Syafa.


" A..bang, ain.. " Rivan menghampiri Syafa yang duduk manis mengawasi keponakannya bermain.


" Sepertinya menyenangkan jika kita punya anak " Rivan ikut duduk disamping sang istri seraya merangkul pundak istrinya itu. Syafa menoleh mendengar Rivan berbicara.


" Kamu udah nggak sabar mas? " Tanya Syafa.


" Mas akan sabar menunggu sampai saat itu tiba sayang. Untuk sekarang kita nikmati saja dulu waktu pacaran kita " Ujar Rivan menggenggam tangan Syafa membuat Syafa tersenyum.


" Ti... fa, bobok " ( Aunty Syafa, bobok ) Hanif menghampiri keduanya dengan mata yang sudah mulai sedikit memerah. Syafa melirik jam dinding yang menempel cantik di dinding ruang keluarga itu. Memang sudah waktu kedua anak itu tidur.


" Abang sudah mengantuk? " Tanya Syafa. Hanif mengangguk. Tak lama Hanna juga menghampiri mereka.


" Baiklah, ayo bereskan dulu mainannya! Kalau sudah selesai kita bobok ya " Kedua anak itu langsung membereskan mainan yang berserakan dilantai dibantu oleh Syafa. Setelah selesai, Syafa menggendong Hanna sementara Rivan menggendong Hanif menuju kamar Syafa, lebih tepatnya kamar mereka berdua.


" Cu.. cu " ( Susu ) Hanna berkata lirih.


" Tunggu disini aja sayang, biar mas yang ambilin " Rivan segera turun dari ranjang.


" Makasih mas "


Tak lama Rivan kembali masuk kedalam kamar dengan menenteng tas berisi perlengkapan susu twins. Syafa bangkit dari ranjang, dan mulai membuatkan susu untuk twins. Sementara Rivan menemani keduanya yang kini berbaring diatas ranjang.


" Sebentar ya sayang, aunty Syafanya lagi bikin susu untuk abang sama adek "


" Susunya datang " Syafa kembali naik keatas ranjang seraya membawa dua botol susu dan menyerahkannya pada twins.


" Tidur yang nyenyak kesayangan " Syafa mencium kening keduanya. Kemudian ia ikut berbaring disamping kiri twins sementara Rivan di samping kanan.


" Kamu lelah sayang? " Setelah menghabiskan waktu untuk mengasuh twins, Rivan yakin istrinya itu pasti lelah. Apalagi twins yang sedang aktif aktifnya.


" Sedikit mas " Jawab Syafa.


" Apa kita tunda saja untuk punya anak cepat? Mas juga nggak tega liat kamu lelah ngurusin mereka nanti "


" No, kalau Tuhan udah kasih kenapa harus kita tunda. Lagipula ada kesenangan tersendiri saat kita menjadi orangtua " Jawab Syafa membuat Rivan tersenyum lebar.


" Kamu yang terbaik sayang "


" Kamu juga terbaik mas... "


" Cu.. cu.. " Tiba tiba Hanif mengigau membuat keduanya langsung terdiam. Syafa langsung menepuk pelan punggung Hanif.


" Shutt.. tidur yang nyenyak sayang " Syafa mencabut botol susu yang masih melekat di mulut twins saat keduanya sudah nyenyak dan susunya juga sudah habis. Setelah itu ia juga ikut berbaring.


" Istirahatlah juga sayang, mumpung twins tidur "


" Iya mas "


...****...


" Tuan Rivan besok mulai masuk kerja. Jadi saya harap besok semua laporan keuangan perusahaan sudah siap " Ujar Leo saat memasuki divisi keuangan.


" Baik tuan " Mata Leo menatap pada sosok wanita bule yang sepertinya karyawan baru.


" Kamu, siapa namamu? " Tanya Leo menunjuk wanita itu.


" Saya Celine tuan "


" Kamu karyawan baru? " Tanya Leo heran. Pasalnya jika ada karyawan baru orang pertama yang tau adalah dirinya. Tapi ini?


" Benar tuan, saya dulu bekerja sebagai sekretaris tuan Rivan di Relace Prant Group di Kanada. Karena itu tuan Rivan langsung menempatkan saya disini ketika saya meminta pekerjaan " Ujar Celine. Leo tampak mengagguk walaupun ia sendiri tidak yakin. Rivan tidak pernah seperti itu. Semua calon karyawannya berasal dari mana pun itu harus melalui semua tahapan tes terlebih dahulu.


" Sepertinya ada yang tidak beres. Aku harus menyelidikinya "


" Baiklah, kembalilah bekerja! Dan jangan lupakan apa yang saya katakan tadi " Pria muda itu keluar dari divisi keuangan. Sementara Celine tersenyum licik.


" Permainan akan dimulai " Gumamnya. Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chat.


...Reyhan...


...terakhir dilihat 12.33...


^^^Me^^^


^^^Tuan Rivan akan masuk kerja besok^^^


^^^☑️☑️^^^


Tak lama Reyhan membaca pesan itu dan segera membalasnya


Reyhan


Bagus, tugasmu besok pantau kegiatannya dan laporkan padaku. Baru setelah itu kita ambil langkah selanjutnya.


^^^Me^^^


^^^Oke, aku akan terus memantaunya^^^


^^^☑️☑️^^^


Reyhan


Good Luck!


" Hahaha... kehancuran sudah didepan matamu Syafa. "


...*****...


Mama Lesty dan papa Rizky yang baru pulang dari rumah sakit mengernyitkan dahinya. Pasalnya rumah itu tampak sepi. Padahal biasanya jika ada twins rumah itu pasti akan sangat ramai dengan teriakan keduanya.


" Tuan, nyonya " Sapa bi Mirnah


" Apa Syafa sama Rivan nggak ada dirumah bi? " Tanya mama Lesty pada pelayan itu.


" Mereka ada di kamar nyonya. Tadi twins ingin tidur " Jelas bi Mirnah.


" Kemungkinan tuan Rivan dan nona Syafa juga tidur nyonya "


" Yasudah, saya lihat mereka kekamar dulu. Bibi lanjutkan pekerjaannya lagi " Mama Lesty segera memastikan kekamar sang anak. Beruntung pintu kamar Syafa tidak terkunci. Mungkin mereka terlalu terburu buru tadi. Begitu pintu terbuka, mereka melihat Syafa dan Rivan yang tertidur di samping twins sembari memeluk kedua anak itu. Sungguh benar benar pemandangan yang indah.


" Nggak usah khawatir ma. Lihat twins bahkan tertidur dengan nyaman di pelukan aunty dan unclenya. " Ujar papa Rizky pelan. Mama Lesty mengangguk.


" Ayo kita istirahat dikamar " Papa Rizky merangkul pundak sang istri.


" Iya pa "


To be continued!!!