The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Makan Siang



Semua orang berkutat ada komputer di hadapan mereka masing masing. Hingga tiba tiba seorang wanita berperawakan tinggi dengan rambut coklat kehitaman digerai sebatas bahu memasuki ruangan itu.


" Kamu, hari ini kamu yang mewakili divisi keuangan untuk menemui tuan Rivan dan memberikan laporan keuangan perusahaan dua bulan terakhir ini " Tunjuk wanita itu pada karyawan baru di divisi keuangan.


" Yess.. inilah yang aku inginkan "


" Heii.. kau mendengar ku " Sentak wanita itu membuat karyawan itu kaget.


" I..iya nona, saya bersedia "


" Bagus.. Pelajari ini, dan segera temui tuan Rivan di ruangannya jika sudah selesai " Wanita itu menyerahkan dokumen² berisi laporan keuangan dan segera keluar dari ruangan itu.


Tok.. tok.. tok..


" Masuk " Seseorang yang mengetok pintu itu langsung masuk kedalam begitu mendengar instruksi dari dalam.


" Tuan, maaf saya mau memberikan laporan keuangan perusahaan dua bulan ini " Ujarnya. Rivan mendongakkan kepalanya mendengar suara wanita yang tak asing baginya.


" Celine "


" Kamu? Kenapa kamu disini? " Tunjuk Rivan pada Celine. Ia sungguh terkejut, rasanya dia tidak pernah menerima CV pelamar kerja di perusahaannya selama ia cuti.


" Saya bekerja disini tuan. Tuan Leo yang menyeleksi saya dan menempatkan saya sesuai bidang yang saya bisa " Jawab Celine. Ia memberanikan diri untuk mendekati Rivan yang duduk dikursi kebesarannya.


" Leo? " Gumam Rivan. Rivan tak percaya begitu saja, karena Leo tidak pernah berani bertindak dan mengambil keputusan jika tidak atas perintah Rivan.


" Tuan, ini berkasnya " Celine menaruh berkas yang ia bawa di atas meja kerja Rivan seraya sedikit menunduk. Mencoba menarik perhatian Rivan. Tapi sayang sekali, melirik pun Rivan enggan.


" Hemm.. kau boleh keluar sekarang! " Titah Rivan.


Drett.. drett...


Suara dering ponsel Rivan berbunyi, Rivan langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


My Sweet Wife💕


" Hallo, assalamualaikum Zaujatii " Sapa Rivan dibalik ponsel.


" Waalaikumsalam, Zaujii "


" Kamu udah mau pulang? Mau mas jemput sekarang? "


" Belum mas, aku mau izin ketemu klien "


" Ketemu dimana sayang? "


" Di restoran dekat Ferdian Jewelry mas "


" Baiklah, selamat bekerja istriku! Jangan terlalu diporsir, istirahat kalau capek. Kabari mas kalau udah mau pulang "


" Siap mas suami. Mas juga jangan terlalu capek kerja. I Love you "


" Love you too, Zaujatii "


" Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam "


" Kalian tersenyumlah sepuasnya sekarang, setelah ini jangan harap bisa tersenyum " Celine keluar dari ruangan Rivan.


" Panggil Leo keruangan saya sekarang! " Titah Rivan pada OB yang kebetulan datang mengantarkan segelas teh pesanannya.


" Baik tuan " OB itu segera keluar dari ruangan Rivan dan segera memanggil tangan kanan CEO mereka.


" Tuan Leo, anda dipanggil tuan Rivan keruangannya " Ujar OB itu setelah sebelumnya diizinkan masuk oleh Leo.


" Baik, saya akan segera kesana "


" Baik tuan, kalau begitu saya permisi "


...****...


" Kenapa kau menerima karyawan baru tanpa seizinku " Ujar Rivan saat Leo masuk kedalam ruangannya.


" Karyawan baru tuan? " Tanya Leo bingung. Pasalnya ia juga tidak pernah menerima karyawan baru di kantor.


" Hemm.. Celine, di divisi keuangan " Jawab Rivan seraya menatap Leo intens. Seketika Leo teringat wanita berperawakan bule yang mengaku kerabat dekat Rivan kemarin.


" Saya ingat tuan. Tapi bukankah tuan sendiri yang memintanya bekerja di perusahaan ini? " Tanya Leo balik.


" Saya? "


" Nona Celine mengaku jika tuan yang mengajaknya bekerja disini karena dulu dia juga pernah menjadi sekretaris tuan Rivan di Kanada. " Jawab Leo membuat Rivan menggertakkan giginya geram.


" Cari tahu siapa yang berani menerima dia bekerja disini, sekarang! " Titah Rivan. Leo mengangguk.


" Baik tuan, kalau begitu saya permisi "


...*****...


Saat waktu makan siang, seorang wanita dengan dress coklat sebatas lutut dan high heels yang senada dengan dress nya. Tampak begitu anggun dan mewah.


" Saya konfirmasi dengan tuan Leo dulu nona. Biasanya tuan Leo selalu memberitahu jika ada tamu tuan Rivan yang sudah membuat janji " Jawab resepsionis itu membuat wanita itu geram.


" Heh? Memangnya siapa dirimu sampai Leo harus memberitahumu! " Tanpa banyak kata lagi, wanita itu langsung berlalu menuju lift membuat resepsionis itu kalang kabut.


" Nona tapii.. "


" Sudahlah, mungkin tuan Leo lupa memberitahu kita " Ujar teman yang duduk disampingnya.


" Tetap saja aku takut, gimana kalau ternyata nona tadi belum membuat janji. Pekerjaan kita jadi taruhannya. "


" Tenanglah! dia itu nona Lawyer, rekan bisnis tuan Rivan kemarin. Sebaiknya kamu segera istirahat! Aku juga sudah selesai makan "


" Hemm.. baiklah "


Sementara Liona segera menuju ruangan Rivan. Ia sudah membawakan makan siang untuk Rivan. Tidak ada sekretaris Rivan ataupun Leo membuat Liona begitu bebas masuk ke dalam ruangan Rivan.


" Siang tuan Rivan " Ujar Liona seraya menghampiri Rivan yang duduk dikursi kebesarannya. Rivan menoleh ke sumber suara. Ia juga sedikit kaget melihat Liona ada disini.


" Ada perlu apa nona? " Tanya Rivan dengan nada datarnya.


" Tidak ada, saya hanya mengantarkan ini. Aku tahu kamu belum makan siang kan? Jadi nikmatilah, ini spesial aku buatkan untukmu " Liona mencoba mengakrabkan diri pada Rivan membuat Rivan menjadi muak.


" Saya sedang sibuk! "


" Ayolah Rivan, setidaknya cicipi sedikit. Hargai usahaku " Bujuk Liona seraya membongkar isi paper bag yang dibawanya.


" Aku suapi kalau kamu sibuk.. buka mulutnya!! " Liona mengarahkan sendok yang berisi makanan di depan mulut Rivan.


" Jaga sikapmu nona Lawyer! Atau saya akan membuatmu menyesal. Keluar dari ruangan saya sekarang!! " Bentak Rivan. Liona tak menyerah, ia meletakkan kembali sendok itu di wadah makannya. Dan mendekati Rivan bersiap memeluk Rivan dari belakang.


Ceklek..


Bersamaan dengan itu, seorang wanita muda masuk kedalam ruangan seraya menenteng sebuah rantang makanan.


" Assalamualaikum, mas aku bawakan.. " Ucapannya terhenti saat melihat Rivan sedang berdua bersama seorang wanita di ruangannya. Tak hanya itu, wanita itu bahkan berdiri dibelakang Rivan dan memegang pundak Rivan. Meja kerja Rivan pun dipenuhi berbagai makanan.


" Sayang! " Rivan terkejut melihat Syafa. Ia takut istrinya akan salah paham lagi. Sontak Rivan berdiri dan menghampiri Syafa. Sementara Liona tersenyum sinis.


" Permainan baru dimulai "


" Mas, maaf menganggu! Aku kira mas Rivan sedang istirahat " Walaupun tak bisa dipungkiri ia begitu kaget melihat Rivan dan seorang wanita berdua saja dalam satu ruangan. Ia tetap mencium tangan Rivan. Rivan langsung membawa Syafa kedalam pelukannya.


" Ini nggak seperti yang kamu pikirkan sayang! Mas bisa jelaskan " Bisik Rivan ke telinga Syafa.


" Memangnya apa yang aku pikirkan mas? " Tanya Syafa membuat Rivan menggarukkan tengkuknya yang tak gatal. Syafa melepas pelukan Rivan saat melihat Liona mendekati mereka berdua.


" Haii, Kenalkan aku Liona teman dekatnya Rivan " Liona mengulurkan tangannya pada Syafa. Dengan senang hati Syafa menyambut uluran tangan Liona.


" Saya Syafa, ISTRI SAH mas Rivan " Syafa menekan kata istri sah membuat Liona mendengus kesal.


" Oiya, kamu pasti mau bawain makan buat Rivan ya? Ups.. sayang sekali, aku sudah lebih dulu membawakannya dan sepertinya Rivan juga sudah kenyang karena makanannya tinggal sedikit " Ujar Liona membuat Rivan bertambah geram. Ia hendak menyela namun sebelum ia anggap suara, Liona sudah lebih dulu bersuara lagi.


" Kamu tuh sebenarnya perhatian nggak sih sama suami, masa iya jam istirahatnya udah mau habis kamu baru dateng bawain makanan. Gimana kalau suamimu itu kelaparan karena nungguin kamu. Dasar!! " Sambung Liona lagi. Syafa hanya tersenyum mendengar celotehan Liona yang menurutnya sangat membosankan.


" Terima kasih untuk perhatianmu pada suamiku Liona. Tapi sayang sekali sepertinya suamiku tidak tertarik diperhatikan oleh calon pelakor. Dan ya, makanan yang utuh ini kamu bilang tinggal sedikit? Aku rasa matamu benar benar bermasalah " Syafa melirik makanan yang tergeletak di meja kerja Rivan.


" Itu hanya sebagian saja. Sisanya tentu sudah dihabiskan oleh suamimu itu " Sahut Liona lagi mencoba memprovokasi Syafa supaya Syafa dan Rivan bertengkar.


" Mas, kamu sudah makan? " Rivan menggelengkan kepalanya.


" Mas sama sekali tidak berselera makan makanan instan seperti itu sayang! Kamu tahu itu kan? Bagi mas, masakan kamu yang paling enak " Sahut Rivan seraya mengecup pipi Syafa. Sengaja ia lakukan agar Liona sadar diri.


" Yaampun, maaf ya mas aku telat bawain makanannya! Soalnya tadi aku terjebak macet. " Ujar Syafa menundukkan kepalanya. Rivan tersenyum.


" It's okey sayang! Yang terpenting kamu sudah sampai kesini dengan selamat. Ayo sajikan makanannya, rasanya perut mas sudah keroncongan membayangkan masakanmu " Goda Rivan.


" Tunggu sebentar mas suami " Syafa membereskan makanan yang dibawakan Liona dan kembali memasukkannya kedalam paper bag. Setelah itu, ia melangkah menuju ke sofa dan menyajikan makanan yang dibawanya di atas meja yang ada di depan sofa itu.


" Kau tahu, trik murahanmu itu begitu memuakkan. Aku bahkan sama sekali tidak terpengaruh! " Bisik Syafa saat melewati Liona seraya menyerahkan kembali makanan yang dibawa Liona dengan sedikit kasar.


" Kauu.. " Liona yang merasa harga dirinya sudah diinjak oleh Syafa merasa tak terima. Ia mencengkram tangan Syafa dengan erat.


" Aku tidak akan menyerah! " Pekik Liona semakin menguatkan cengkraman tangannya pada tangan Syafa.


" Selamat berjuang calon pelakor "


" Kau.. " Liona mengangkat tangannya hendak menampar Syafa, namun tangannya hanya melayang di udara.


" Berani sekali kau berbuat kekerasan pada istriku! Sepertinya ucapanku barusan kau anggap main main " Rivan balas mencengkram tangan Liona dengan erat. Bahkan tangan Liona sampai memerah karenanya.


" awhh.. sakit " Liona meringis.


" Mas, sudah! Nanti urat nadinya putus. Ayo katanya udah lapar " Ujar Syafa menarik tangan Rivan. Rivan menurut, ia merangkul istrinya dan duduk di sofa.


" Keluarlah jika kau masih punya harga diri Liona "


To be continued!!!