The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Bahagia



" Syafa.. " Lirih Rivan menatap lekat Syafa yang tak berani menatapnya. Ia terlihat menundukkan kepala seraya memelintir ujung hijabnya. Ia sungguh takut melihat reaksi Rivan. Pria yang terang terangan ditolaknya demi menerima perjodohan yang diatur kedua orangtuanya.


Sementara Rivan menatap intens Syafa dengan perasaan yang campur aduk. Antara bahagia, haru dan juga bersalah. Ia yang tidak terlalu tertarik dengan perjodohan ini memilih untuk menerima saja. Tanpa mau mencari tahu tentang siapa dan bagaimana calon istrinya. Di satu sisi ia bahagia karena ternyata Syakilah yang dimaksud oleh bundanya ternyata adalah Syafa. Rivan menoleh kepada kedua orangtuanya yang tampak terkejut karena ternyata Rivan mengenal Syakilah. Padahal mereka belum pernah bertemu.


" Apa Syakilah yang ayah dan bunda maksudkan benar dia? " Tanya Rivan menunjuk Syafa yang tertunduk didepannya. Ayah Andra dan bunda Viona tampak mengagguk pelan.


" Apa kamu mengenalnya nak? " Tanya bunda Viona.


" Di.. dia wanita yang aku maksud malam itu. Dia wanita yang Rivan cintai, bun! " Jawab Rivan kemudian membuat semua orang menatapnya tak percaya. Benarkah seperti itu? Oh, sungguh manisnya kisah cinta pria muda ini.


Rivan pun merasa demikian. Ia membuktikan sendiri ucapan Syafa waktu itu. Disaat ia mulai mengikhlaskan semuanya, ia malah disatukan dengan wanita yang ia cintai. Benar saja, ketika ia memikirkan kebahagiaan kedua orangtuanya, kebahagiaan itu kembali menghampirinya. Ia kembali menatap Syafa yang masih menunduk.


" Syafa, jika tadi aku bertanya sebagai orang asing yang tidak mengenali siapa itu Syakilah. Maka kali ini aku kembali bertanya padamu sebagai Rivan yang sangat mengenali Syafa. Will you marry me? " Tanya Rivan dengan mata yang mulai berkaca kaca. Ia sungguh tak menyangkah, Syafa berdiri dihadapannya saat ini. Sebagai calon istrinya. Demi apapun, Rivan sangat bahagia.


Syafa sontak mengangkat wajahnya. Sedikit tak percaya dengan perkataan Rivan. Benarkah seluas itu hati pemuda didepannya ini hingga dengan kata kata manisnya ia kembali melamar Syafa didepan kedua orangtua mereka dan seluruh tamu undangan yang hadir? Bukankah seharusnya Rivan marah padanya?


Deg, deg, deg!!


Jantung keduanya berpacu lebih cepat saat pandangan mereka bertemu.


" M.. mas Rivan nggak marah? " Lirih Syafa.


" Marah kenapa? Bukankah kamu menolakku karena ingin membahagiakan kedua orangtuamu? Aku rasa nggak ada alasan untuk aku marah padamu " Jelas Rivan membuat lidah Syafa semakin keluh. Ia semakin dilanda rasa bersalah karena menolak pria sebaik Rivan. " Dan kamu tahu, bertemu denganmu hari ini mengingatku akan perkataanmu waktu itu. Jika kita memikirkan kebahagiaan orang lain terutama kedua orangtua kita maka kebahagiaan itu akan kembali pada kita. Aku merasakannya saat ini. Ucapanmu terbukti benar " Sambung Rivan seraya tersenyum.


" Syafa, kau ingat pertemuan pertama kita? sejak saat itu aku mulai mengagumimu. Tutur katamu yang lemah lembut, kebaikan hatimu dan yang terpenting ketaatanmu pada Tuhan sungguh menggetarkan hatiku. Hingga tanpa aku sadari rasa kagum ini menjelma menjadi rasa cinta... " Rivan menjeda kalimatnya.


" Namun, ternyata semesta tidak berpihak padaku. Disaat aku mengungkapkan perasaanku aku malah dihadapkan pada kenyataan jika kamu dijodohkan oleh orangtuamu. Hatiku hancur saat itu, aku berusaha untuk ikhlas. Dan pada akhirnya aku terima tawaran dari ayah untuk menjodohkanku dengan anak sahabatnya. Dengan begitu aku harap aku bisa melupakan wanita yang bahkan akan menjadi milik pria lain. Dan ternyata wanita yang dijodohkan denganku adalah kamu sendiri Syafa. Bukankah ini kisah yang menarik? "


" Maaf " Cicit Syafa lagi. Ia merasakan setiap kalimat yang Rivan ucapkan tersirat luka yang mendalam. Tentang dia yang tidak bisa menggapai cintanya. Hingga permainan takdir yang mempertemukan mereka di acara lamaran yang mulanya mungkin tidak begitu diharapkan oleh keduanya.


Bunda Viona merangkul anaknya. Ia juga merasakan kesedihan anaknya yang tak bisa menggapai cintanya seperti harapannya.


" Bukankah sekarang dia sudah berada di depanmu? Langsung halalkan dong, gimana kalau dia keburu dilamar orang lain? " Ujar Axel yang tiba tiba datang dan membawa cincin yang dipersiapkan untuk acara lamaran.


" Tolong berikan jawabanmu Syafa " Pinta Rivan menatap Syafa penuh harap. Syafa menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.


" Seperti jawabanku yang pertama. Insyaallah aku bersedia mas! " Jawab Syafa lagi membuat semua orang tersenyum lega. Bunda Viona mengambil cincin yang dibawa Vivto dan memakaikannya pada Syafa.


" Syakilah dengan ini kamu resmi menjadi tunangan Rivan. Tante harap semoga semuanya berjalan lancar hingga hari pernikahan kalian nantinya " Ujar bunda Viona seraya menyematkan cincin putih bertahta berlian itu ke tangan Syafa.


" Tante, sebaiknya mulai sekarang panggil Syafa aja. Supaya lebih terasa akrab, karena biasanya panggilan itu disematkan oleh orang yang tak terlalu dekat dengan Syafa " Ujar Syafa membuat bunda Viona mengagguk lalu memeluk calon menantunya itu.


" Tentu saja sayang! "


Serangkaian acara selesai dilaksanakan. Semua tamu undangan berangsur pulang setelah menikmati hidangan dan juga berfoto bersama calon mempelai. Kini, diruangan ini hanya tersisa keluarga inti dari keduanya. Mereka asyik bercengkrama. Sementara Syafa dan Rivan memilih memojok di sudut ruangan bersama Nara, Nabil, Ciko dan juga Bahira.


" Kakak minggil dong! Abil mau duduk di dekat aunty dan uncle juga " Ujar Nabil seraya mendorong pelan bahu Nara yang sudah duduk ditengah Syafa dan Rivan.


" Ihh adek, nggak usah dorong² juga dong. " Protes Nara.


" Abisnya kakak ngecelin, kan Abil juga mau duduk sama aunty, uncle " Sahut Nabil menarik tangan Nara.


" Nabil.. sakit tahu " Nara menggeser duduknya seraya menampakkan wajah masamnya.


" Sama adik sendiri, harus bisa ngalah dong! Kan udah besar " Sahut Ciko yang baru saja kembali membawa dua potong kue seraya menggandeng tangan Bahira, adik sepupunya.


" Biarin!! Orang Nabil yang nakal " Balas Nara menatap tajam Ciko. Sementara Ciko dengan santainya duduk di depan Syafa dan Rivan.


" Kakak!! " Tegur Syafa.


" Abang bantuin!! " Pinta Bahira yang kini sudah berusia empat tahun setengah.


" Iya, ayo naik " Ciko meraih tangan Bahira dan menuntunnya duduk dikursi yang ada disampingnya.


" Kenapa kamu sewot banget sih " Kesal Nara memanyunkan bibirnya.


" Kakak, nggak boleh gitu kalau ditegur orang! Apalagi sama yang lebih tua, nggak sopan " Ujar Syafa seraya mengelus pelan rambut ponakannya.


" Tapi, dia bikin kesel aunty "


" Bang Ciko bener loh, sesekali memang kita harus mengalah apalagi sama adik sendiri " Sahut Syafa


" Adek juga kasar, coba kalau nggak narik² tangan kakak tadi. Kakak bakal geser kok " Keluh Nara menatap tajam adiknya yang duduk disampingnya.


" Adek juga nggak boleh kayak gitu sama kakak, kan bisa ngomong baik baik. Nggak boleh kasar, oke? "


" Iya, maaf aunty " Sahut Nabil


" Tuh, adiknya aja bisa ngerti. Masa yang lebih tua nggak " Sahut Ciko lagi. Memang pada dasarnya Ciko sifatnya usil.


" Diem kamu! "


" Sudah², sekarang kalian berdua saudara! Jadi nggak boleh ribut lagi. Ayo kakak minta maaf sama bang Cikonya " Syafa melerai keduanya yang sama sama tidak mau mengalah. Sementara Rivan hanya menjadi penonton.


" Nggak mau "


" Yaudah kalau nggak mau saling minta maaf aunty nggak akan.. "


" Iya! bang Ciko, Nara minta maaf " Potong Nara membuat Syafa mengulum senyum.


" Iya "


" Seru juga liat anak anak berdebat! Jadi nggak sabar punya anak sendiri " Ujar Rivan mengamati anak anak itu yang kini bermain kejar kejaran didepan mereka.


" Mas.. Masih lama itu! Halal aja belum " Keluh Syafa memanyunkan bibirnya.


" Kalau gitu sekarang aja mas halalin yuk " Ujar Rivan dengan nada dibuat serius membuat Syafa yang mulanya fokus kepada keponakannya kini beralih menatap Rivan.


" Jangan bercanda deh, mas! "


" Nggak bercanda Fa, serius ini "


" Mas Rivann!! "


" Iya bercanda kok "


" Oiya, makasih ya udah mau terima aku menjadi calon imammu dengan segala kekuranganku ini " Ujar Rivan setelah lama terdiam. " Ya, walaupun pernah ditolak " Sambungnya lagi membuat Syafa serba salah.


" Mas, maaf! Andai aku nggak gegabah, mungkin aku udah tahu dari awal jika Ando yang mama papa maksudkan itu ya mas Rivan " Sahut Syafa dengan tatapan sendu.


" Aku juga nggak terlalu fokus sama perjodohan ini. Karena jujur aku juga masih memikirkanmu. " Jawab Rivan.


" Dan dia.. Maaf aku mengira dia calon suami pilihan orangtuamu. Habisnya aku pernah liat kamu mesra banget sama dia waktu di Surabaya " Ujar Rivan seraya menunjuk Raka yang asyik bercengkrama dengan istrinya. Selagi kedua anaknya sedang bersama adiknya.


" Hahah.. mas lucu juga! Itu bang Raka, kakak pertamaku " Tawa Syafa pecah mendengar pengakuan Rivan.


" Ya maaf! Habisnya yang ku tahu kakakmu hanya Mas Dafa " Jelas Rivan membuat Syafa geleng geleng kepala.


" Jangan bilang, mas juga emosi ngeliat bang Raka mesra sama kak Nay? " Ledek Syafa yabg justru disambut anggukan kepala oleh Rivan.


" Memang! Bahkan aku mengira dia menduakanmu "


" Hahaha.. " Pecah sudah tawa Syafa sementara Rivan hanya menunduk malu.


To be continued!!