
" Liona? "
" Selamat siang nona Syafa! Silahkan duduk " Ujar Liona mempersilahkan Syafa duduk. Tanpa basa basi, Syafa duduk di depan wanita itu.
" Pesanlah sesuatu dulu nona, kita bicara santai saja " Liona menyodorkan daftar menu kepada Syafa. Tapi Syafa mendorongnya kembali kearah Liona.
" Tidak perlu berbasa basi! Langsung saja pada intinya. Apa yang kau inginkan? " Tanya Syafa dengan nada tegasnya.
" Santai nona! Saya juga tidak sedang berbasa basi. Kau ingat foto yang dikirim melalui pesan beberapa hari lalu? " Syafa mengerutkan keningnya, mencoba mengingat sesuatu.
" Itu adalah foto asli, dan asal kau tahu suamimu itu sudah terpikat dengan pesonaku. Jadi, saya tegaskan mulailah mundur secara perlahan jika tidak ingin semakin terluka. Atau jangan salahkan saya jika kamu terluka lebih parah. " Syafa terkekeh pelan mendengar omong kosong dari wanita di depannya ini yang katanya wanita berpendidikan. Namun, satu hal yang baru dia ketahui jika Liona yang mengirim foto itu secara sengaja padanya.
" Anda bodoh atau bagaimana nona Liona? Jelas jelas suamiku sama sekali tidak tertarik pada anda. Saya yakin anda masih ingat kejadian di Rivprant Company waktu itu kan? " Syafa menaikturunkan alisnya. Sementara Liona mengepalkan tangannya kesal. Seharusnya Syafa yang terprovokasi bukan dirinya. Tapi kemudian ia tersenyum sinis.
" Itu hanyalah akting belaka! Kami itu cerdik, tentu kami akan bermain dengan cara yang cantik. " Hasut Liona. Bukannya terprovokasi, Syafa justru ingin tertawa. Sepercaya diri itukah seorang Liona Lawyer ini? Oh no!
" Lagipula, wajar jika Rivan itu berpaling! Lihatlah, apa yang bisa kau banggakan dari pakaianmu yang serba tertutup ini. Tidak seperti diriku yang jelas saja memiliki body yang ideal " Sombong Liona. Mendengar itu, Syafa mengambil dua buah permen yang berada di dalam tasnya. Lalu membuka salah satunya dan menaruhnya diatas meja.
" Nona Liona! Jika saya meminta anda memilih salah satu permen ini, permen yang mana yang akan anda pilih " Bukannya menjawab, Syafa malah membuat sebuah teka teki baru. Liona yang awalnya kesal mulai mengikuti keinginan Syafa yang menurutnya konyol. Liona mengambil permen yang masih terbungkus.
" Kenapa anda pilih yang masih dibungkus? " Tanya Syafa membuat Liona merasa semakin kesal. Untuk apa bermain dengan permen permen ini. Membuang buang waktunya saja.
" Katakan saja apa maksudmu nona Syafa! Saya tidak punya banyak waktu. " Ujar Liona dengan suara yang mulai meninggi.
" Jawab saja! Anda akan mengerti maksudnya nanti "
" Ck, tentu saja yang ini lebih terjamin. Masih bersih, dan terlindungi " Liona menjawab dengan nada kesal. Syafa tersenyum penuh arti.
" Itulah filosofinya! Sama seperti seorang perempuan, ia membungkus diri dengan pakaian serba tertutup untuk melindungi dirinya dari pandangan dari yang bukan mahramnya. Dan hanya pria yang berani memperistrinya yang berhak melihat keindahan di balik bajunya yang serba tertutup itu. Ia juga jelas lebih berharga dibandingkan para wanita yang sering memamerkan auratnya untuk semua pria yang bahkan tidak halal untuk melihatnya " Jelas Syafa tersenyum penuh kemenangan. Satu kosong! Ia bahkan membuat lawannya terdiam seribu bahasa.
" Jangan mencoba memprovokasi saya dengan hal hal yang bahkan terdengar seperti lelucon nona Liona. Ingat, saya tidak seperti wanita di luaran sana yang mudah terprovokasi ucapan sampah sepeti itu. Saya tau seperti apa suami saya! Jadi jangan coba coba untuk membuang waktu saya dengan sia sia seperti ini. Assalamualaikum " Syafa beranjak dari tempatnya. Ia tak lagi memperdulikan Liona yang masih kesal.
Bugghh..
Saking terburu burunya, Syafa menabrak seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Syafa hampir saja terjatuh kelantai andai orang yang ditabraknya tidak menahannya.
" Syafa " Pekik orang itu terkejut. Syafa menoleh mendengar suara yang begitu familiar di telingannya.
" M.. mas Rivan " Sama seperti Rivan, Syafa juga terkejut melihat keberadaan Rivan disini.
" Kamu ngapain disini sayang? " Tanya Rivan pada Syafa.
" M..maaf mas! Aku nggak izin dulu sama mas Rivan. S.. sebenarnya aku bertemu dengan... "
" Sayang! Kamu sudah sampai rupanya " Tiba tiba Liona datang dan bergelayut manja di lengan kekar Rivan. Rivan reflek menghindar.
" Apa yang anda lakukan nona Liona? " Bentak Rivan kasar. Tubuh Liona hampir saja terhuyung karena dorongan Rivan.
" Aku hanya merindukanmu honey! Apa salah? " Ujar Liona dengan nada lirih membuat Rivan semakin ilfill saja.
" Tentu saja salah dan sangat salah! Karena saya adalah pria beristri. Dan tolong jaga sikap dan perkataan anda itu sebelum kesabaran saya habis. Atau anda akan melihat semuanya hancur lebur " Tegas Rivan dengan sorot mata tajamnya. Lagi lagi Liona dipermalukan didepan Syafa.
" Sayang, apa urusanmu sudah selesai? " Rivan mulai melembutkan suaranya seraya merangkul istrinya.
" Sudah mas " Jawab Syafa.
" Dua kosong untuk hari ini nona Liona! Sampai ketemu lain waktu " Bisik Syafa saat melewati Liona. Liona menggeram kesal.
" Agrhhh.. sial²! Kenapa aku yang terpojok seperti ini " Pekik Liona frustasi.
...****...
" Mas.. maaf! " Ujar Syafa sesaat setelah keduanya masuk kedalam mobil mewah milik Rivan.
" Maaf? "
" Maaf, karena aku keluar rumah tanpa seizin kamu mas. Demi Allah, aku benar benar lupa " Ujar Syafa membuat Rivan mengurungkan niatnya menghidupkan mesin mobil.
" Nggak masalah sayang! Mas hanya khawatir sama kamu kalau kamunya nggak ngomong sama mas. Selebihnya mas ridho dengan setiap langkahmu ketika keluar rumah entah izin ataupun nggak " Rivan mengelus pucuk hijab sang istri. Syafa mengangguk.
" Kamu bertemu sama klien sayang? " Tanya Rivan lembut.
" I..itu sebenarnya.. nona Liona yang menyuruh aku datang kemari mas. Dia bilang mau mengatakan sesuatu tentang mas Rivan. Awalnya aku nggak mau tau, tapi aku juga penasaran dengan apa yang mau di katakannya. Oleh karena itu, aku datang kemari " Syafa menunduk menunggu reaksi suaminya.
" Apa dia menyakitimu sayang? " Rivan memegang kedua bahu Syafa dan memeriksa tubuh sang istri, memastikan tidak ada yang terluka.
" Nggak mas, nggak mudah melukai seorang Syakilah Asyafa hehe " Rivan mencubit hidung Syafa saking gemasnya.
" Iya.. mas tau! Oleh karena itu mas memilihnya menjadi istri mas. " Rivan mulai menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melajukannya.
" Mas.. ehmm, ternyata yang mengirim foto mas dan Liona waktu di ruang rapat itu suruhannya Liona " Ujar Syafa.
" Apa? "
" Liona yang mengatakannya padaku tadi mas. "
" Apa dia mengatakan sesuatu lagi sayang? " Rivan hanya khawatir sang istri terprovokasi.
" Dia hanya memanas manasi ku mas. Tapi sayangnya istrimu yang cantik ini nggak akan pernah terpengaruh " Syafa kembali menyombongkan diri.
" Makasih sayang! Makasih untuk semua kepercayaan yang sudah kamu berikan untuk mas. Mas janji akan selalu berusaha menjaga kepercayaan itu " Rivan berkata sembari menggenggam tangan kanan Syafa dengan tangan kirinya. Sementara ia menyetir dengan sebelah tangannya.
" Mas.. lampu merah! " Pekik Syafa. Rivan sontak menginjak rem membuat tubuh keduanya terhuyung kedepan. Untung mereka menggunakan sabuk pengaman.
" Huftt.. hampir saja "
" Makanya, kalau nyetir itu yang fokus mas. Jangan pegang²! Untung nggak ada mobil atau motor dibelakang kita. Gimana kalau ada, pasti udah nabrak kita kan " Omel Syafa membuat Rivan kembali mencubit hidungnya.
" Iya, Zaujatii! Maaf.. "
" Awhh.. sakit mas "
" Maaf.. "
" Hemm "
To be continued!!