
" Sini mas! Biar aku aja yang nyetir " Syafa merebut kunci mobil dari Rivan.
" Tapi aku masih bisa kok! "
" No, biar aku aja. Mas Rivan masih emosian, aku nggak mau ya mati muda gara gara mas Rivan " Gerutu Syafa seraya membuka pintu samping kemudi.
" Masuk mas! "
" Tapi.. " Ucapannya terhenti saat melihat Syafa menatap tajam dirinya.
" Baiklah², aku mengalah "
" Itu lebih baik " Syafa tersenyum senang. Setelah memastikan Rivan duduk dengan nyaman, Syafa mengitari mobilnya dan duduk dibalik kemudi.
" Langsung ke perusahaanmu aja Fa! nanti aku nyetir sendiri ke kantorku " Ujar Rivan saat mobil mulai melaju.
" Mampir dulu ke rumah sakit dan obati lukanya dulu mas! " Ujar Syafa fokus pada jalanan. Jam istirahat tiba membuat jalanan memadat. Kemacetan pun tak bisa dihindarkan.
" Nggak usah, paling dikompres pake air hangat juga sembuh " Tolak Rivan.
" Nggak mau! Aku hanya ingin memastikan " Jawab Syafa melirik Rivan sekilas.
" Tapi.. "
" Mass "
" Begini rasanya dipedulikan istri! " Celetuk Rivan tiba tiba.
" Belum jadi istri juga "
" Nggak papa! Itung itung simulasi " Jawab Rivan lagi dengan santainya.
" Ishh.. dasar "
" Lagian kenapa sih udah tahu Reyhan gila, masih diladenin " Sambung Syafa kemudian. Kini mereka terpaksa berhenti karena lampu merah didepan sudah menyala.
" Aku nggak akan terima kalau dia ngerendahin kamu! " Jawab Rivan tegas membuat Syafa mengulum senyum. Sungguh calon suami ah maksudnya suami idaman para ladies.
" Uhh so sweet banget! Maaf ya mas gara gara aku, kamu jadi gini " Kini tatapan mata Syafa berubah sendu. Ia merasa bersalah pada Rivan, karena membelanya Rivan hampir babak belur.
" Jangan minta maaf, sudah kewajibanku melindungimu. Sudah, fokuslah pada jalan. Liat tuh lampunya udah kuning "
" Hemm.. iya! "
Tak lama lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Syafa kembali menjalankan mobilnya perlahan.
...****...
Shalsa's Medicial
Syafa memarkirkan mobilnya pada salah satu rumah sakit yang kebetulan paling dekat dari tempat mereka makan tadi.
" Ayo turun mas! " Ajak Syafa. Rivan hanya menurut dan mengikuti Syafa masuk kedalam rumah sakit.
" Mbak Shalsa " Sapa Syafa seraya mencium tangan calon kakak iparnya. Kebetulan sekali Shalsa baru saja kembali setelah makan siang bersama suami dan anaknya yang tadi datang.
" Apa ada yang sakit Fa? Kok disini? " Tanya Shalsa bingung. Di detik berikutnya netra Shalsa melirik sang adik yang tampak menunduk.
" Rivan kenapa wajahmu banyak lebam? " Tanya Shalsa sebelum Syafa angkat bicara.
" Ehmm.. ini karena mas Rivan belain Syafa tadi waktu temen Syafa.... "
" Cuma perkelahian biasa mbak! " Potong Rivan cepat.
" What? Perkelahian biasa? Lihat wajahmu sampai lebam begini kamu bilang biasa Rivan? " Ujar Shalsa dengan nada yang lebih tinggi membuat Syafa merasa bersalah.
" Ma.. af mbak! Karena Syafa, mas Rivan jadi kayak gini " Cicit Syafa menunduk.
" Mbak, udahlah! Apa salahnya aku belain calon istriku " Sanggah Rivan melihat Shalsa mulai emosi.
" Salah! Tentu saja salah " Bentak Shalsa membuat keduanya terdiam. Sementara Shalsa hanya tersenyum masam. " Harusnya kalau belain itu minimal wajah tampan kamu itu diperban kayak mumi " Sambung Shalsa lagi. Keduanya saling tatap.
" Mbakkk " Rivan memeluk kakak perempuan satu satunya itu. Sungguh ia merasa jengkel sekali. Bisa bisanya mbaknya itu membuat mereka tegang.
" Syafa, mbak hanya bercanda! Jangan diambil hati ya " Ujar Shalsa seraya memeluk calon adik iparnya.
" Ayo kita keruangan mbak aja! " Shalsa menggandeng tangan Syafa dan Rivan. Mereka bertiga berjalan menuju ruangan Shalsa.
...****...
" Ingat lain kali kalau belain adik ipar harus sampai babak belur! " Ujar Shalsa sebelum keduanya keluar.
" Pasti itu mbak! Sampai titik darah penghabisan pun akan aku lakukan " Ujar Rivan dengan semangat.
" Ck, gombal "
" Syafa pamit ya mbak " Ujar Syafa kembali mencium tangan calon kakak iparnya diikuti oleh Rivan.
" Ingat loh, lusa kalian berdua dipingit. " Ujar Shalsa
" Iya mbak! Inget kok " Sahut Rivan setengah kesal.
...****...
Reyhan, playboy kelas kakap yang sangat terobsesi dengan Syafa. Alasannya hanya satu, Syafa berbeda dengan wanita lain. Ia tak muda bertekuk lutut dan terbuai kata kata manis. Dari zaman SMA sampai kuliah ia tak pernah bisa menaklukkan Syafa. Bahkan semua teman Syafa menyangkah mereka berdua berpacaran sangking gencarnya Reyhan merebut perhatian Syafa. Dan semua itu diketahui oleh Rivan. Semenjak mereka lamaran, keduanya memutuskan untuk saling terbuka.
" Selama dipingit, aku harap kamu benar benar istirahat dirumah Fa! Aku nggak mau kamu kenapa napa apalagi karena pria itu " Ujar Rivan menatap Syafa yang fokus menyetir.
" Iya mas! Mas Rivan juga harus istirahat total pokoknya " Sahut Syafa.
" Oiya, katanya Celine ada disini mas. Mau cari kerjaan, bosen kali jadi gembel " Ujar Syafa sedikit mengejek.
" Kamu tau dari mana? "
" Sempet ketemu kemarin, bahkan udah fasih ngomong bahasa Indo " Sahut Syafa lagi.
" Lalu apa masalahnya? " Tanya Rivan santai. Ia merasa tak memiliki masalah dengan Celine.
" Masalahnya dia itu suka sama mas Rivan! " Kesal Syafa
" Tapi aku cuma sukanya kamu " Gombal Rivan membuat wajah Syafa memerah bak kepiting rebus.
" Intinya, kalau kita sama sama bisa jaga hati. Insyaallah hubungan kita terus awet dan langgeng. Cukup sama sama saling percaya. Baik Celine ataupun Reyhan tak ada yang akan menjadi penghalang kita " Sambung Rivan.
...****...
Seorang gadis cantik dengan tinggi semampai dan rambut pirang sebahu turun dari sebuah mobil. Bukan mobil mewah seperti yang dibayangkan, tapi hanya mobil sekelas Avansa.
" Rivprant Corp, saya mau kerja disana " Ujarnya pada seorang rekan yang sudah menunggu tak jauh dari tempatnya turun.
" Oh astaga miss Celine! Tidak ada perusahaan lainkah? Bukankah anda mencari kerjaan dimana saja yang penting bisa menaikkan derajat keluarga anda lagi? " Sahut seorang wanita berwajah khas Asia dengan rambut hitam panjang seraya menggelengkan kepalanya.
" Tidak! Pokoknya masukkan saya disana " Jawab Celine seraya melangkah menuju apartemen yang baru ia sewa.
" Miss, seleksi karyawan baru disana sangat ketat. Susah sekali memasukkan orang asing bekerja disana " Wanita itu mengikuti langkah Celine memasuki apartemen.
" Ginaa! "
" Ehmm.. bagaimana kalau Ferdian Corp saja miss. Saya bisa minta koneksi dari paman Damar " Gina mencoba bernegosiasi dengan Celine.
" Big no! hanya Rivprant Corp. Dan kau harus membantuku, lakukan apapun supaya aku bisa masuk kesana " Celine menghempaskan dirinya pada sofa diruang tamu.
" Miss.. tapi disana.. "
" Tidak ada tapi tapian Gina! Kalau kamu tidak mampu, silahkan mundur "
" Ti.. tidak miss. Saya akan berusaha " Jawab Gina dengan gugup.
" Good, sekarang pulanglah! Saya mau beristirahat " Celine mengibaskan tangannya kepada Gina.
" Permisi miss "
" Hemm.. "
" I'm come back! Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia setelah kalian menghancurkan hidupku. Lihat saja, kalian akan menyesal telah mengusikku.. hahaha.. " Gumam Celine tertawa penuh misteri.
To be continued!!!!
Wah wah... Celine udah come back nich! Kira kira apa rencananya ya🤔.. ikuti terus cerita Syafa dan Rivan ya readers. Thank u😍
With love,
Nnda Utamy