
Esok paginya, karena kuliah sedang libur, Safira hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar. Matahari sudah menghangatkan sebagian belahan bumi dengan sinarnya, namun tak menyurutkan niat si gadis cantik itu untuk tetap berselonjoran di tempat tidurnya. Safira sedang asyik berselancar di dunia maya dengan gadgetnya, setelah bosan dengan aktivitas itu, dia menuju ke rak buku dimana banyak buku berjejer disana. Safira mengambil satu judul buku yang bertema roman remaja. Saat melihat sampul buku yang didominasi warna pink tersebut, entah kenapa dia tersenyum sembari mengingat si lelaki penyelamat itu. Ya, seandainya dia diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi, maka Safira tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu!
'Ya, aku harus bertindak, entah mengapa hati selalu tergelitik bila mengingatnya.' Gumamnya sambil menerawang ke arah luar jendela rumahnya.
Tok...tok...tok...
Suara pintu diketuk seseorang membuyarkan lamunan Safira tentang lelaki penyelamat itu. Sejurus kemudian, terlihatlah sosok sang mommy yang terlihat sudah rapi, sepertinya mommy mau keluar rumah. Entahlah.
Safira menyambut mommy nya dengan mengukir senyum manisnya.
"Hai mom, good morning!"
Mommy : "Aduh, anak gadis mama jam segini masa belum mandi. Ih, bau kecut ahh. Mandi dulu donk sayaaang..."
Safira : " Hmm mommy jahat deh, masa ngatain aku bau kecut... " Safira mengerucutkan bibirnya, menandakan ia sedang ngambek sama sang mommy.
Mommy hanya tersenyum gemas sambil mencubit lembut pipi anak gadisnya tersebut.
Mommy : " Ya sudah, sekarang anak mommy mandi yah, mommy tunggu dibawah. Kita shoping ke mall yuk!"
Seketika wajah cemberut Safira berubah menjadi begitu bersemangat.
" Asiiikk... siap mommy...! Safira siap-siap dulu yaa... "
Dengan bergegas, Safira menuju kamar mandi, membersihkan badan lengketnya dan segera berpakaian yang tentu saja sopan, serta kemudian memoleskan make up tipis nan minimalis di wajah cantiknya.
Safira terlihat sangat anggun dan elegan dengan pakaian dress dibawah lutut dan pantulan make up nya minimalis menambah aura inner beauty nya.
Dibelahan bumi lain, alias dirumah lelaki tampan bernama Ikhsan Samudera.
Ketukan pintu nan rusuh menggema ke setiap penjuru rumahnya. Itu adalah suara gedoran pintu kamar Ikhsan yang digedor kasar oleh adiknya, Hasna.
"Abaaang... abaaang...!!! Bangun Abang... Udah sholat subuh tadi kenapa malah tidur lagi sih?! Abaaang..." Teriak Hasna sambil menggedor-gedor pintu kamar Ikhsan.
" Abang, kalo gak dibuka aja pintunya, aku dobrak nih ya pintunya sekalian!" Ancam Hasna.
" Satu... "
" ........ " Tak ada jawaban.
" Dua... "
" ........ " Belum ada jawaban.
" Tigaaaa.....!!! " Hasna sudah memasang ancang-ancang untuk mendorong pintu itu. Namun naas, di saat bersamaan bunyi 'ceklek' pintu terdengar menandakan pintu itu sudah dibuka sang empunya kamar.
Hasna tak dapat mengerem aksinya, lalu akhirnya terjun bebaslah tubuh Hasna menuju dipan sang kakak lelakinya. Kepala Hasna mendarat mulus di ujung dipan kayu tersebut, sehingga bagian atas tubuhnya tersebut terantuk cukup keras yang menimbulkan bunyi 'bughhh'.
Hasna meringis merasakan kedutan nyeri di ujung pelipisnya.
" Aduuh Abang, jahat banget siih, sakit tau... Huwaaa.... huwaaa.... hiks hiks hiks "
Pecah juga tangis Hasna si hari sepagi ini.
Abangnya terkejut namun kemudian tertawa lepas melihat apa yang menimpa adiknya.
" Hahahahhaha.... Hasna apa-apaan siih, makanya jangan sembrono. Jangan teledor. Masih pagi udah bikin gempar aja! " Kata Ikhsan sambil memeriksa kepala adiknya yang terlihat sedikit benjol tersebut. Dengan sigap, Ikhsan mengambil kotak P3K yang memang disediakan dikamarnya tersebut, dengan telaten Ikhsan memberikan pertolongan pertama pada luka di kepala adiknya tersebut. Hasna hanya meringis merasakan kepalanya nyut-nyutan disertai nyeri itu.
Ikhsan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah polah adik semata wayangnya itu. Antara gemas, kaget dan takut jika adiknya terluka serius.