
" Mas Rivan???? " Pekiknya tak percaya sembari duduk disofa bersebrangan dengan Rivan.
" Hai Fa, apa kabar? " Tanya Rivan berbasa basi
" Ehmm.. Alhamdulillah sehat " Jawab Syafa sedikit gugup membuat Rivan terkekeh
" Hehe.. nggak usah gugup gitu kali Fa. Ini beneran aku, bukan jin korin kok " Kelakar Rivan membuat Syafa malu.
" Mas Rivan kapan pulang ke Indonesia? Kirain masih di Kanada " Ujar Syafa mengalihkan pembicaraan.
" Aku baru pulang seminggu yang lalu " Jawab Rivan. Syafa mengangguk.
" Maaf ya, hampir 3 tahun lebih aku nggak kasih kamu kabar bahkan bisa dibilang seperti hilang ditelan bumi heheh.. soalnya ponsel aku hilang waktu aku pulang dari bandara ngaterin kamu, Aleta sama mas Dafa " Jelas Rivan membuat Syafa terkejut.
" Pantas saja! " Batin Syafa.
" Nggak papa kok " Jawab Syafa tersenyum
" Oiya, btw mas Rivan mau ngapain kesini? mau pesen baju? " Tanya Syafa lagi
" Aku sengaja mengunjungi kamu " Jawab Rivan santai
" Bahkan dari seminggu yang lalu. Tapi nona Inka, manager dan orang kepercayaan kamu itu bilang kamu lagi diluar kota. Baru hari ini kamu ada ditempat " Sambung Rivan.
" Iya, aku ada di Surabaya ngurus cabang disana. Baru semalem aku sampai di Bandung. Itu aja atas permintaannya papa karena mama sama papa aku mau ngadain acara makan malam sama sahabat mereka kemarin " Jawab Syafa
" Berarti bener yang dibilang Darren! Syafa memang ada di Surabaya. Bahkan yang aku liat di restoran waktu itu...mungkin benar memang Syafa " Batin Rivan
" Mas..hey! Mas Rivan " Ujar Syafa mengibas ngibaskan tangannya didepan wajah Rivan.
" Eh, iya " Kaget Rivan.
" Ngelamunin apaan sih? " Tanya Syafa
" Nggak ada kok "
" Beneran nih " Goda Syafa
" Iya "
" hemm.. yaudah deh! Penting banget kayaknya sampai mas Rivan mau datang setiap hari kesini buat ketemu sama aku? " Tanya Syafa penasaran
" Karena aku kangen sama kamu " Jawab Rivan lirih
" Apa? " Pekik Syafa
" Eh.. nggak kok! Aku mau... " Belum sempat Rivan menyelesaikan ucapannya terdengar suara pintu diketuk.
Tok..tok...tok...
" Masuk " Ujar Syafa
" Maaf nona ada tuan Arka didepan. Tuan Arka bilang beliau adalah rekan tuan Rivan " Ujar Inka seraya masuk keruangan Syafa.
" Iya, Arka teman saya " Jawab Rivan
" Suruh masuk, In " Titah Syafa
" Baik nona " Tak lama orang yang bernama Arka masuk kedalam ruangan Syafa.
" Tega banget lo Van, tahu gini gue nggak mau nemein lo tadi " Protes Arka saat masuk
" Emangnya kenapa? " Tanya Rivan pura pura tak tahu.
" Yaelah, nih anak pura pura polos lagi. Eh, denger ya! Udah seminggu ini lo selalu mohon mohon sama gue buat temenin lo ke butik ini. Tapi giliran gue temenin malah lo tinggal di parkiran " Jelas Arka
" Salah sendiri lo tadi kemana? "
" Gue udah bilangkan tadi, gue angkat telpon dulu dari nyokap! elo malah nyelonong masuk duluan " Jawab Arka
" Sorry deh Ar, gue nggak denger! Gue kira lo tadi pergi jalan jalan sendiri. Makanya gue masuk " Ujar Rivan.
" Oke, tapi pulang dari sini lo harus traktir gue makan di resto mewah! Gimana? " Tanya Arka tersenyum penuh arti
" Itu namanya pemerasan! " Protes Rivan
" Oh yaudah, nggak bakal gue maafin " Ujar Arka mendudukan dirinya disamping Rivan
" Iya deh, iya! Gue traktir ntar " Jawab Rivan pasrah.
" Good "
" Ehmm.. " Deheman seseorang menghentikan perdebatan dua sahabat itu.
" Sudah berantemnya? " Tanya Syafa lembut namun penuh penekanan.
" Eh, iya Fa. Maaf maaf " Ujar Rivan
" Jadi ini bidadari cantik yang sering lo ceritain ke kita bro? " Bisik Arka pada Rivan. Rivan hanya mengangguk.
" Oiya, Syafa kenalin ini sahabat aku namanya Arka. Dan Arka ini Syafa temenku juga " Ucap Rivan memperkenalkan keduanya
" Arka " Ucap Arka
" Syafa " Balas Syafa sembari menangkupkan tangannya didepan dada. " Eh, iya Syafa! aku mau pesen baju " Ujar Rivan memecahkan keheningan.
" Baju jenis apa? Jas? T-shirt? Kemeja? baju kokoh? baju pakistan? Gamis Pria? Jaket? atau yang lainnya? " Tanya Syafa bertubi tubi
" Baju kokoh " Jawab Rivan.
" Ehmm..baik, aku ambil buku desainnya dulu. Mas Rivan bisa pilih mau model yang seperti apa " Ujar Syafa. Rivan mengangguk. Syafa pun beranjak dari duduknya dan beranjak ke lemari tempat ia menyimpan berbagai desain bajunya.
" Lo bilang cuma mau nyamperin tuh cewek. Kenapa jadi pesen baju kokoh? " Tanya Arka berbisik pada Rivan
" Nggak papa, kalau kata pepatah sih sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Kangen terobati baju kokohpun nambah " Kelakar Rivan membuat Arka geleng geleng.
" Ada ada aja lo "
*********
Drrrett....
Drettt...
Dreett...
" Siapa sih yang nelpon? " Gumam Syafa yang sibuk mencari desain baju kokoh di lemari. Ia segera berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil ponselnya.
" Hallo Fa, gimana kabarnya? Kamu sampai di Bandung dengan selamatkan? Udah sampai dirumah atau masih dijalan? Mau aku susul buat nemenin kamu diperjalanan? " Si penelpon memberikan pertanyaan bertubi tubi pada Syafa
" Waalaikumsalam pak ustadz " /Syafa
" Hehe.. iya lupa! Assalamualaikum " Jawab Si penelpon cengengesan di sebrang sana
" Waalaikumsalam! Alhamdulillah aku sehat, alhamdulillah sampai di Bandung dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, aku udah sampai dirumah dan sekarang lagi kerja dan nggak usah nyusul ke sini! Puas Kenan?? " /Syafa tampak kesal sembari melanjutkan aktivitasnya tadi.
" Hehe.. maaf Fa! Soalnya aku khawatir sama kamu, tadi pagi aku ke apartemen kamu tapi kata mbok Nur kamu udah pergi ke Bandung kemarin pagi dan sampai sekarang nggak ada kabar " /Kenan
" Astaghfirullah, iya aku belum kasih kabar sama mbok Nur " /Syafa
" Abis ini telpon mbok Nur juga Fa, kasihan dia khawatir banget sama kamu " /Kenan
" Iya " /Syafa
" Mas? Sejak kapan kamu manggil aku mas? " /Kenan
" Aku nggak ngomong sama kamu, Kenan! " /Syafa
" Terus? "
" Klien aku! "
" Klien? Mana ada orang manggil kliennya dengan sebutan mas! " /Kenan
" Ada dong, aku orangnya " /Syafa
" Atau jangan jangan mamas Rivannya udah pulang ya?Terus lagi ada disana! " /Kenan
" Nggak ada " /Syafa
" Aku tau kamu bohong! " /Kenan
" N..nggak kok " /Syafa sedikit gelalapan
" Syafa... Syafa.. aku tahu kamu itu lagi bohong! kamu lupa aku ini orang kedua setelah mas Dafa yang nggak bisa kamu bohongi " /Kenan
" Iya, iya Kenan selalu benar " /Syafa
" Nah gitu dong. Pasti tambah cantik deh " /Kenan
" *Ck, gombal "
" Nggak gombal kok, tapi kenyataannya emang gitu* " /Kenan
" Masa? " /Syafa
" Iya Syafa yang paling cantik dan baik hati di seluruh jagat raya " /Kenan
" Ha..ha..ha.. geli aku dengernya! " /Syafa
" Ketawa dong kalo gitu " /Kenan
" Nggak bisa " /Syafa
" Fa, nanti aku telpon lagi ya! Papi nyuruh aku keruangannya. Katanya ada meeting dadakan " /Kenan
" Iya, salam buat pak Malik Ken! " /Syafa
" Ntar aku sampaikan sama papi, kalau sudah selesai urusan disana segeralah pulang ke Surabaya! Aku takut kamu rindu sama kakak lelakimu ini " / Kenan
" Ingat! Jangan rindu, rindu itu berat! kamu nggak akan kuat biar aku saja " / Sambung Kenan
" Iya iya, aku nggak akan rindu sama kamu " /Syafa
" *Oiya, yakin? "
" Of course! "
" Iya deh, udah dulu ya! papi udah beberapa kali manggil aku* " /Kenan
" *Iya, see you "
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam*! "
Syafa tersenyum sendiri mengingat Kenan yang begitu mengkhawatirkannya. Ia merasa Kenan seperti Dafa.
" Kayaknya cowok bro, pake acara gombalin lagi sampai bidadari cantiknya lo itu kesemsem sendiri " Bisik Arka pada Rivan membuat hati Rivan semakin memanas.
" Oiya mas Rivan, apakah sudah ada desain yang cocok dengan yang diinginkan sama mas Rivan? " Tanya Syafa pada Rivan
" Ehmm.. sebentar! " Jawab Rivan mencoba mengatur emosinya.
" Yang ini sepertinya menarik! apa ada contohnya Fa? " Tanya Rivan menunjuk salah satu desain yang menarik perhatiannya.
" Wow, mata mas Rivan memang sangat teliti. Itu adalah baju best seller kami bulan ini dan produksinya juga terbatas. Kalau mas Rivan mau aku bisa meminta Inka membawa contohnya. Kalau tidak salah masih ada beberapa lagi yang belum terjual " Jelas Syafa
" Boleh " Jawab Rivan. Syafa menelpon Inka dan menyuruhnya membawa contoh baju kokoh itu. Tak lama Inka datang membawa lima potong baju kokoh.
" Maaf nona, hanya ini yang tersisa. Itupun karena belum kita pajang didepan. Kalau tidak pasti sudah habis mengingat banyak sekali peminatnya " Jelas Inka
" Tidak masalah Inka, terima kasih! Kamu boleh kembali keruanganmu " Ujar Syafa
" Baik nona " Inka keluar dari ruangan Syafa.
" Coba lihat lah dulu mas Rivan. Maaf hanya ini yang tersisa! Siapa tahu ada yang cocok dengan selera mas Rivan! Kalau tidak ada yang cocok biar aku hubungi manager butik yang ada di beberapa cabang luar kota untuk menyortir baju kokoh yang seperti ini. Siapa tahu masih ada yang cocok dengan mas Rivan" Ujar Syafa
" Cie, romantisnya " Celetuk Arka
" Kak Arka! " Ujar Syafa menatap tajam Arka
" He..he.. becanda Fa " Jawab Arka Cengengesan.
" Kayaknya yang ini pas deh, warnannya juga bagus! Bagaimana menurutmu Fa? " Tanya Rivan
" Iya, warnanya sangat kontras dengan warna kulit mas Rivan. Sangat cocok! " Ujar Syafa
" Baiklah, aku ambil yang ini. Tolong dibungkuskan ya Syafa " Jawab Rivan
" Baiklah sebentar! " Syafa mengambil paper bag yang bertuliskan Syafa Boutique di bagian depannya didalam laci mejanya. Ia segera membungkus baju kokoh itu.
" Berapa harganya Fa? "
" Nggak usah dibayar mas! "
" Kok gitu? "
" Ya, anggap aja sebagai hadiah pertemanan " Jawab Syafa
" Tapi.. "
" Nggak ada tapi tapian mas, aku nggak terima penolakan " Ujar Syafa tegas
" Oke, baiklah.. terima kasih banyak Fa " Jawab Syafa
" Aku nggak dikasih juga Fa? " Tanya Arka
" Boleh, tapi bayar di kasir ya! " Jawab Syafa membuat Rivan tertawa.
" Makanya jadi sahabat itu nggak usah perhitungan. Kena karma kan? " Ledek Rivan
" Ck, ketawa aja terus. " Jawab Arka cemberut
" Yaudah deh, ini buat kak Arka. Bentar aku bungkus dulu " Ujar Syafa mengambil baju kokoh yang menurutnya cocok untuk Arka. Agak mirip dengan punya Rivan hanya corak dan warnanya berbeda.
" Wah, rezeki anak soleh nih. Makasih ya cantik! " Ujar Arka
" Mau gue jahit mulut lo Ar? " Tanya Rivan menatap tajam sahabatnya
" hehe.. sorry Van, khilaf gue! " Jawab Arka
To be continued!!!