
" Mass Rivann tunggu!! " Pekiknya seraya terbangun dari tidurnya.
" Astaghfirullah! " Gumamnya seraya melirik jam dinding yang tergantung cantik di dinding kamarnya.
01.00 WIB
Napasnya masih terengah-engah. Ia masih teringat jelas mimpi tadi terasa sangat nyata. Diliriknya pakaian yang dipakainya saat ini. Hanya memakai piyama lengan pendek dengan celana panjangnya. Rambut panjang hitam yang dibiarkan terurai. Dan kini ia berada diatas kasurnya, didalam kamarnya! Tidak ada gamis putih panjang dan hijab pasmina hitam seperti mimpi itu. Bukan, bukan pantai yang indah tempatnya berada.
" Huhh! Pertanda apa itu? "
" Yakinkanlah hatimu untuk menerima permintaan papamu. Insyaallah aku ikhlas. Aku tidak tahu bagaimana masa depan kita. Tapi yakinlah akan ada kebahagiaan untuk kita berdua kedepannya jika kamu mau menuruti permintaan papamu "
" Terima saja atau kamu akan menyesal nanti. Aku pergi dulu "
Kata kata itu terus terngiang ngiang ditelinganya. Ia sendiri tidak tahu apa maksud dari perkataan pria yang ada dimimpinya itu. Diraihnya teko air putih yang berada diatas nakas.
" Kosong!! " Rasanya malas untuk beranjak, tapi sepertinya ia tak dapat mentolerir rasa hausnya lagi. Kerongkongannya terasa sangat kering. Dengan malas ia beranjak dari duduknya dan turun menyusuri tangga menuju dapur yang memang terletak dilantai dasar apartemen yang ditinggalinya itu.
Cetekk..
Suara saklar lampu yang di nyalakannya. Ia berjalan menuju dispenser air dan mengisi teko yang kosong itu. Sesekali ia menguap, menahan rasa kantuknya yang semakin menjadi.
Tap.. tap.. tap..
Suara derap langkah seseorang membuatnya sedikit merinding. Tapi sebisa mungkin ia mengendalikan rasa takutnya itu. Tiba tiba sebuah tangan kekar memegang bahunya dari belakang.
" Astaghfirullah " Pekiknya kaget.
" Ngapain dek? " Suara yang sangat dikenalnya membuat rasa takutnya berangsur berkurang. Sontak ia menoleh kebelakang dan mendapati kakak laki lakinya yang sedang berdiri tak jauh darinya.
" Ngapain kamu ngelamun, airnya udah penuh gitu " Protes abangnya membuatnya mengalihkan pandangan pada teko air yang memang sudah penuh. Bahkan airnya sudah meluap.
" Ya Allah, iya! " Pekiknya seraya memutar kembali keran air pada dispenser itu sehingga air yang mengalir itu terhenti.
" Abang ngapain kedapur? " Tanyanya pada kakak laki lakinya.
" Nambah air minum! " Ujarnya bergantian mengambil air minum dengan adiknya.
" Kamu ngapain ngelamun kayak tadi. Untung abang liat, kalau nggak mungkin dapur ini sudah banjir " Omel Abangnya menarik lengan adiknya menuju meja makan.
" Nggak ada apa apa bang, Syafa cuma mimpi buruk aja "Jawabnya.
" Mimpi buruk? "
" Iya! Nggak usah khawatir bang. Cuma mimpi biasa kok. Bang Raka tidur lagi aja, katanya besok mau apel pagi " Jawab Syafa seraya berdiri.
" Bener kamu nggak papa? " Tanya Raka memastikan. Syafa mengangguk.
" Yaudah abang kekamar dulu, kamu juga langsung tidur setelah ini. Besok juga harus kerjakan! "
" Hemm.. iya bang " Raka menepuk pelan bahu adiknya dan beranjak dari sana.
...©©©...
" Huftt! Apa iya mimpi tadi adalah jawaban dari istikharah ku beberapa hari ini? " Gumam Syafa masih duduk termenung di meja makan. Ia mengambil segelas air dan segera meneguknya.
" Apa aku memang harus menerima perjodohan itu?! "
" Tapi apa maksud perkataan mas Rivan dalam mimpiku tadi? "
Lelah berpikir, tapi Syafa masih belum dapat menarik benang merah dari perkataan itu. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali kedalam kamarnya.
Setelah masuk kamar, Syafa kembali berbaring diranjangnya. Namun matanya sangat susah untuk tidur kembali. Ia beranjak dan mengambil air wudhu di dalam kamar mandi. Setelah itu ia melakukan sholat tahajud dan dilanjutkan dengan sholat istikharahnya. Ia kembali meminta petunjuk mengenai perjodohan yang diatur oleh papanya.
...****...
Sinar mentari mulai menerobos masuk melalui celah celah gorden kamar bernuansa merah itu. Namun tak membuat seorang gadis cantik terbangun dari tidurnya.
Tok.. tok.. tok..
" Syafa, kamu nggak kerja? " Teriak Raka dari balik pintu kamar adiknya. Lama tak ada sahutan sampai akhirnya si empu kamar itu terusik dan terbangun dari alam mimpinya.
" Siapa sih berisik banget! " Syafa duduk perlahan seraya mengumpulkan nyawanya.
" Syafa!! Udah siang, bangun. Jangan jangan kamu nggak sholat subuh ya? " Tuding Raka.
" Enak aja, udah ya! Syafa tidur abis subuh, mager banget " Jawab Syafa. Ia lantas beranjak dari tempat tidur dan berjalan kearah pintu. Masih dengan menggunakan piyama tadi malam dan rambut yang sedikit acak acakan.
" Apa sih bang? Ganggu aja! " Gerutu Syafa saat sudah membuka pintu. Abangnya sudah rapi memakai pakaian polisinya tampak berdecak kesal melihat tingkah adiknya. Beginilah jika Syafa sedang badmood.
" Mandi sana cepat! Anak gadis kerjaannya malas malasan kayak gini. Emang nggak liat udah jam berapa ini? " Raka mencercah Syafa dengan omelannya membuat Syafa tambah badmood saja.
" Iya iya, abang bawel banget sih! Kalau mau sarapan, duluan aja. Tuh kunci mobil Syafa taruh diatas nakas ruang tengah. Pakai mobil Syafa aja. Syafa juga nggak akan kemana mana hari ini " Ujar Syafa seraya masuk kedalam kamarnya kembali.
" Gimana mau selesai pekerjaan dibutik kalau kerjaannya cuma males malesan. Wajar aja sudah hampir setengah tahun disini butiknya msih nggak ada perubahan " Omel Raka beranjak dari depan kamar Syafa. Ia juga tidak bisa mengabaikan tugasnya sebagai abdi negara.
" Aku dengar ya bangg " Teriak Syafa yang tidak diperdulikan Raka lagi.
Syafa segera masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu ia segera memakai pakaiannya. Baju kaos biasa dipadukan dengan celana panjangnya tanpa memakai hijab. Jika di rumah Syafa memang jarang berhijab. Kecuali jika ada kerabat yang berkunjung. Bahkan pekerja dirumah pun hanya beberapa pelayan wanita yang bisa bebas dirumah utama. Sisanya seperti tukang kebun, bodyguard dan pekerja laki laki lainnya hanya diperbolehkan memasuki area halaman rumah saja dan juga rumah belakang untuk tempat tidur para pelayan.
Syafa segera turun kelantai bawah setelah selesai memakai pakaiannya. Ternyata sang kakak sudah selesai makan.
" Kamu beneran nggak ke butik dek? " Tanya Raka melihat outfit Syafa yang sangat santai. Tidak ada yang aneh, hanya Syafa yang tanpa hijab. Biasanya pagi pagi sekali Syafa sudah siap dengan hijabnya walaupun penampilannya terkesan santai. Ia juga biasa memakai blezer atau setidaknya kemeja semi formal untuk bekerja. Dan tidak sesantai ketika berada dirumah saja.
" Iya bang! Nggak ada jadwal penting di butik. Jadi Syafa mau dirumah aja " Ujar Syafa seraya duduk di meja makan.
" Mbok, sudah sarapan? " Tanya Syafa pada mbok Nur yang masih sibuk membereskan dapur.
" Sebentar lagi nona muda. Mbok mau beresin dapur dulu. Nona duluan saja. " Jawab mbok Nur dari arah dapur.
" Yasudah, tapi setelah ini mbok langsung sarapan ya! Ajak pak Ayan juga nggak papa mbok. Kata papa kemarin pak Ayan akan pulang ke Surabaya hari ini kan mbok? " Ujar Syafa. Pak Ayan, suami mbok Nur memang bekerja sebagai salah satu karyawan di cabang perusahaan papa Rizky yang ada di kota Malang dan biasanya akan pulang ke Surabaya dua minggu sekali atau kalau memang benar benar sibuk satu bulan sekali. Biasanya mbok Nur hanya bekerja sampai sore jika suaminya ada di Surabaya. Karena mbok Nur pasti akan pulang kerumahnya. Terkadang pak Ayan yang menemani mbok Nur diapartemen itu jika Syafa atau keluarga Ferdian yang lain tidak menginap disana. Pak Ayan dan Mbok Nur hanya memiliki seorang putri yang sekarang sudah tinggal di kota Jambi bersama suaminya.
" Iya nona "
Syafa mengambil selembar roti dan mengoleskannya dengan selai kacang. Setelah itu ia memakannya dengan perlahan seraya meminum segelas susu yang sudah di siapkan mbok Nur.
" Abang berangkat ya dek " Pamit Raka pada Syafa. Syafa mengagguk seraya menyerahkan kunci mobilnya yang ia ambil diatas nakas pada Raka.
" Bawa aja mobil Syafa bang "
" Abang naik taksi aja, kemungkinan abang pulang malam. Nanti kamu butuh mobilmu " Ujar Raka menolak.
" Nggak papa bang, dikawasan ini sangat sulit mencari taksi. Nanti abang terlambat lagi " Syafa berbicara seraya menggigit roti tawarnya.
" Tapi.. "
" Pak Ayan sebentar lagi pulang bang. Syafa bisa minta tolong diantarkan jika ada keperluan diluar. Atau Syafa bisa minjem mobilnya pak Ayan kok. Abang nggak usah khawatir " Bujuk Syafa.
" Hemm.. baiklah! Abang pergi dulu. Jangan berbuat aneh aneh. Bodyguard papa memang nggak ada yang ngikutin kamu karena Dafa. Tapi anak buah abang bertebaran dimana-mana. " Ancam Raka.
" Iya abang " Jawab Syafa cemberut.
" Assalamualaikum " Raka beranjak dari duduknya diikuti Syafa.
" Waalaikumsalam " Syafa mencium tangan abangnya sebelum abangnya keluar.
To be continued!!!