The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Menerima?



Sebuah torehan tinta ia goresi dibuku diary kesayangannya, menggambarkan betapa hatinya sangat gundah.


Hehh...


Berkali kali ia menghelah napasnya. Pilihan yang begitu berat untuknya. Tapi, mau bagaimana lagi? Baginya janji tetaplah janji dan pantang baginya untuk mengingkari.


" Semoga ini pilihan yang terbaik untuk semuanya! "


Langit malam yang indah tanpa dihiasi oleh bintang bintang. Bulanpun tak menampakkan dirinya malam ini. Semilir angin berhembusan. Tak lama terdengar suara petir mulai bersahutan, menandakan hujan akan segera turun. Bukannya masuk, Syafa malah memejamkan matanya seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dengan buku diary yang masih digenggam erat yang sudah ia kunci dengan sebuah gembok kecil. Bagi Syafa buku diary itu adalah sebuah privasi dan biarlah hanya ia dan Tuhan saja yang tahu. Lama kelamaan ia tertidur.


...****...


Raka baru saja hendak masuk kedalam kamarnya. Kamar yang sudah kurang lebih dua tahun ia tinggalkan. Saat melewati kamar adiknya, ia terhenti. Pintu kamar Syafa sedikit terbuka. Tidak seperti biasanya! Perlahan ia membuka pintu kamar itu untuk memastikan keadaan adiknya. Namun, ia tidak mendapati sang empu kamar.


" Dekk! Kamu didalam? " Tanya Raka seraya mengetuk pintu kamar mandi Syafa. Syafa tetap tidak menyahut, hingga akhirnya ia membuka pintu kamar mandi dan lagi lagi ia tak mendapati Syafa disana.


" Ya Allah dek! Kamu dimana sih? " Raka mengacak rambutnya frustasi.


" Balkon! " Ujar Raka ketika melihat pintu balkon kamar Syafa terbuka. Benar saja, adiknya itu sudah tertidur disana.


" Terlalu banyak beban yang kau pikul dek! Abang harap setelah ini kamu bisa meraih kebahagiaanmu " Lirih Raka. Ia tertarik pada buku diary milik Syafa. Perlahan ia menarik buku itu dari genggaman Syafa.


" Dikunci ternyata!!! " Gumam Raka. Tak mau ambil pusing, akhirnya Raka menaruh buku itu diatas nakas kamar Syafa. Setelah itu ia kembali ke balkon dan mengangkat tubuh sang adik, memindahkannya keatas kasur queen size milik adiknya itu. Syafa menggeliat pelan, dan akhirnya tertidur sekali. Mungkin ia sangat kelelahan. Setelah mengejar waktu secepat mungkin agar bisa sampai di Bandung dengan perasaan yang was was. Kemudian dihadapkan dengan keadaan sang papa yang kritis. Dan ia sempat pingsan setelah mendonorkan darahnya untuk papanya. Bahkan baru pulang dari rumah sakit usai sholat isya tadi. Wajar saja jika kini ia terlelap dengan sangat nyenyak.


Setelah menyelimuti sang adik, Raka melangkah keluar kamar Syafa. Tak lupa ia mematikan lampunya terlebih dahulu serta menutup pintu balkon yang tadi terbuka lebar.


" Ngapain kekamar Syafa mas? Ada masalah? " Tanya Nayra pada suaminya membuat Raka sontak menoleh.


" Syafa tertidur di balkon kamarnya, kayaknya dia kelelahan yang! Mas nggak tega bangunin dia, makanya mas angkat deh " Ujar Raka seraya merangkul pundak istrinya.


" Perjodohan ini kayaknya jadi beban banget buat Syafa, aku jadi kasihan dengannya mas! " Jawab Nayra lirih.


" Kita doakan saja yang terbaik untuk Syafa, semoga nanti dia menemukan kebahagiaannya kayak kita sayang "


" Iya mas "


" Ayah, Bunda! Kita tidur yukk, kakak udah ngantuk " Ujar Nara yang datang bersama Nabil, adiknya.


" Yaudah kita kekamar sekarang ya, Let's go!! " Raka menggendong Nara sedangkan Nayra menggendong Nabil. Mereka berjalan berdampingan menuju kamar mereka.


...****...


Mentari pagi mulai menunjukkan sinarnya, menandakan hari baru telah tiba. Syafa sudah siap dengan baju kemeja dan rok plisketnya. Tak lupa blezer semi formalnya dan hijab pasmina yang menghiasi kepalanya, juga di padukan dengan sepatu sneaker.


Ia meraih tas tangan yang sudah disiapkannya dan segera keluar dari kamarnya.


Diruang makan kini tampak ramai, semuanya berkumpul. Biasanya ruang makan itu hanya ditempati oleh papa Rizky, mama Lesty dan Aleta. Tapi hair ini semua bisa berkumpul.


" Ayo, kita sarapan dulu! " Ajak Nayra pada semuanya. Mereka mulai menyantap makanannya masing masing. Bahkan Marsel pun sudah dipaksa mama Lesty pulang kerumah sejak tadi subuh.


...****...


Usai sarapan Marsel segera berangkat ke kantornya, ada meeting yang tidak bisa ia tinggalkan. Begitu pula Rasya yang langsung berangkat ke butiknya bersama kedua anaknya.


" Hanif sama Hanna ikut aku aja teh! " Ujar Syafa.


" Jangan dek, mereka kadang suka rewel. Lagian kamu juga mau kerumah sakit dulu kan, mereka nggak boleh masuk " Tolak Rasya. Ia merasa tidak enak dengan adik iparnya.


" Hemm.. yaudah deh! "


" Yaudah kita pamit ya "


" Iya, hati hati dijalan aak, teteh! " Ujar Aleta.


" Syafa dan Aleta nanti jam makan siang temui aak di perusahaan papa, ada yang mau aak sampaikan " Ujar Marsel sebelum ia melangkah keluar.


" Ada apa a'? " Tanya Dafa


" Urusan pebisnis! Dokter dan polisi cukup berdiam diri " Jawab Marsel setengah bercanda.


" Cukup diam dan terima hasilnya aja " Sahut Raka dan sukses membuat seisi rumah tertawa.


" Curang! "


Marsel dan Rasya serta twins H segera melangkah pergi. Hari ini Aleta ada mata kuliah pagi, jadi ia juga langsung berangkat. Dan Dafa juga beranjak pergi kerumah sakit karena ada pasien yang membutuhkan penanganan. Sedangkan Raka, Nayra dan Syafa bersama sikecil Nabil juga langsung ke rumah sakit untuk mengantarkan sarapan untuk kedua orangtuanya sekaligus menemani mama Lesty merawat papa Rizky.


" Kakak yakin nggak mau ikut jenguk kakek? " Tanya Nayra pada Nara yang bersikeras untuk tinggal dirumah bersama Zahira. Sebenarnya Zahira ingin ikut, tapi karena sang suami melarang dengan alasan ia harus banyak istirahat karena hamil muda akhirnya Zahira memilih tinggal dirumah.


" Nggak bun! Kakak mau nemenin aunty Za dan calon dedek bayi dirumah aja. " Jawab Nara.


" Iya bunda "


" Kakak titip Nara ya dek! "


" Iya kak, tenang aja Nara anak baik kok. Nggak bakalan nakal " Jawab Zahira.


...****...


Mobil yang dikendarai Raka sudah sampai di depan rumah sakit.


" Bun, Abil pengen beyi itu " Jari kecil Nabil menunjuk pada seorang nenek renta yang menjual berbagai macam mainan anak anak.


" Nanti kita beli ya! Ayah parkirin mobilnya dulu sayang " Sahut Raka seraya fokus menyetir.


" Nggak mau ayah! Abil mau cekarang, nanti neneknya pelgi "


" Yaudah, Nabil turun sama aunty ya! "


" Biar sama kakak aja dek! Kamu masuk duluan aja sama mas Raka. Nanti kami menyusul " Ujar Nayra. Raka menghentikan mobilnya, Nayra dan Nabil segera turun dan berjalan menuju nenek yang tadi ditunjuk oleh Nabil.


" Hati hati sayang! " Pesan Raka. Nayra mengagguk.


" Bang, Syafa turun disini aja! Liat antrean mobil yang mau parkir panjang banget " Ujar Syafa seraya melepas sabuk pengaman yang dipakainya dan segera turun.


" Kalo gitu kamu duluan aja ke ruang rawat papa, kasihan mereka pasti belum sarapan " Syafa tampak mengagguk mendengar ucapan Raka.


Setelah adiknya turun, Raka kembali melajukan mobilnya mengikuti antrean mobil yang juga hendak parkir.


...****...


Dengan langkah pasti Syafa masuk kedalam rumah sakit yang mewah dan canggih itu. Ia masuk kedalam lift dan menekan angka lantai dimana ruang rawat papa Rizky berada. Syafa hendak mengetuk pintu, namun tangannya mengambang begitu saja diudara saat tak sengaja mendengar percakapan kedua orangtuanya.


" Sudah cukup bagi mas memaksakan kehendak kita pada Syafa, Agrec! Mas tahu mereka akan kecewa. Jujur mas sangat sakit melihat kekecewaan sahabat yang sudah seperti saudara sendiri. Tapi hati mas lebih sakit lagi saat melihat kekecewaan itu dari anak kita. Syafa benar, dia juga berhak memilih pendamping hidupnya sendiri. Jangan memaksanya lagi, mas nggak mau kehilangan dia lagi. " Ujar papa Rizky dengan nada bergetar.


" Tapi bagaimana kita menghadapi mereka, mas. Agrec takut mengecewakan mereka. Terlebih janji ini terjadi karena Agrec yang mengatakannya duluan kan mas " Lirih mama Lesty.


Degg!!


" Aku egois! Aku terlalu memikirkan perasaanku tanpa tahu ternyata papa dan mama juga terbebani dengan janji yang tidak sengaja mereka buat. Maafkan aku ya Allah!! "


" Kita hadapi bersama sayang! Mas yakin mereka akan mengerti, buat mas yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan Syafa " Ujar Papa Rizky seraya memeluk mama Lesty dengan sebelah tangannya.


" Iya mas "


" Sepertinya memang ini jalan Tuhan menunjukkan jodohku "


Syafa menghela napasnya..


Tok.. tok.. tok..


" Assalamualaikum " Ujar Syafa seraya memitar handle pintu ruang rawat papanya. Papa Rizky dan mama Lesty tampak sedikit terkejut. Bahkan mama Lesty langsung berbalik dan mengusap air mata yang sempat menetes dari mata indahnya. Ia tak ingin Syafa tahu. Tapi sepertinya Syafa sudah menyadari itu.


" Waalaikumsalam, masuk nak! " Sahut papa Rizky. Syafa tersenyum seraya melangkah kearah kedua orangtuanya.


" Kakak sendirian? " Tanya mama Lesty.


" Kakak dateng sama abang dan kak Nay ma! Tapi tadi didepan Nabil rewel pengen beli mainan, jadi mereka mampir dulu kesana. Sedangkan abang lagi parkirin mobil " Ujar Syafa. Mereka berdua mengagguk.


" Oiya, Syafa bawain sarapan buat papa dan mama! Dimakan ya ma, pa! " Ujar Syafa seraya membuka dua kotak makanan yang dibawanya.


" Papamu yang dari tadi nggak mau makan! Ayo mama suapi pa " Ujar mama Lesty seraya mengambil salah satu kotak makanan itu dan membawanya ke tempat papa Rizky.


" Biar Syafa yang suapi papa, ma! Mama juga harus makan. Bukankah menjaga orang sakit juga butuh tenaga " Ujar Syafa seraya membawa satu kotak makan lainnya dan mendekati kedua orangtuanya.


" Kakak benar ma, mama juga harus makan! Sesekali papa juga ingin disuapi anak papa " Sahut papa Rizky. Mama Lesty mengalah, ia memilih duduk di sofa dan memakan makanan yang dibawa oleh Syafa. Sedangkan Syafa duduk ditempat mama Lesty tadi duduk dan mulai menyuapi papa Rizky.


" Syafa, maafin papa ya nak! " Lirih papa Rizky tiba tiba membuat Syafa yang semula fokus menyendokkan makanan untuk papanya kini menatap papanya.


" Syafa juga minta maaf ya pa! Syafa terlalu egois, sehingga Syafa hanya memikirkan perasaan Syafa sendiri. Padahal mama dan papa juga terluka. Maaf!! " Jawab Syafa seraya memeluk papanya.


" Papa nggak akan memaksamu lagi. Kamu benar nak, kami juga berhak memilih pendamping hidupmu sendiri. Yang terpenting kamu bahagia " Ujar papa Rizky. Syafa mengurai pelukannya. Ia kembali menyuapi papanya.


" Beneran pa? " Tanya Syafa. Papa Rizky mengagguk lemah.


" Kalau gitu lanjutkan perjodohan ini... "


To be continued!!!