The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Pertengkaran Kecil



Rivan membawa Syafa memasuki kamarnya. Kamar dengan nuansa hitam abu abu nan elegan.


" Istirahatlah sayang! Nanti aku akan minta bibi menyusun sebagian bajumu dilemari supaya jika kita menginap disini, nggak perlu bawa banyak baju. " Ujar Rivan menatap lembut istrinya.


" Biar aku saja yang menyusunnya mas! Nggak perlu minta tolong pada bibi " Jawab Syafa tersenyum. Ia hendak menarik kopernya tapi Rivan lebih dulu menahannya.


" Baiklah, tapi sekarang istirahat dulu! " Ujar Rivan membawa Syafa ke kasur miliknya.


" Nggak papa mas, aku.. "


Cup..


Syafa mematung karena lagi lagi Rivan mencuri ciumannya secara tiba tiba.


" Nggak ada penolakan atau aku yang akan memakanmu " Tegas Rivan membuat Syafa meneguk savilahnya dengan susah payah.


" I..iya mas! Maaf " Jawab Syafa gugup. Rivan tersenyum seraya mendekap istrinya lembut. Ia lantas mengelus pelan rambut hitam sang istri.


" Tidurlah! Biar mas temani.. " Ujar Rivan seraya menyuruh Syafa merebahkan tubuhnya di atas kasur.


" Ini masih terlalu pagi mas, nggak baik buat kesehatan " Ujar Syafa masih duduk di samping Rivan.


" Nggak papa sesekali, kamu pasti capek mas ajak begadang tadi malam kan? " Tanya Rivan dengan senyum menggoda membuat pipi putih Syafa memerah.


" Mass.. " Pekik Syafa seraya memukul pelan bahu sang suami.


" Iya sayang! Kamu mau lagi? " Rivan semakin menggoda sang istri.


" Jangan macam macam kamu mas! "


" Nggak macam macam kok, Zaujatii. Cuma satu macam, kamu dan hanya kamu! " Goda Rivan lagi.


" Gombal!! " Syafa bahkan mencubit lengan suaminya itu. " Masyaallah, nikmatnya! " Ujar Rivan tersenyum pada Syafa.


" Mas ngeledek ya? " Syafa semakin kuat mencubit lengan Rivan membuat sang empu meringis kesakitan.


" Ampun sayang!! " Kini berbalik Rivan yang menggelitik Syafa, membuat Syafa memekik kegelian.


" Mass.. geli hahaha.. " Syafa memukul pelan lengan suaminya supaya dia berhenti. Tapi bukannya berhenti, Rivan semakin menggelik Syafa.


" Mas.. Ampun!! "


...****...


" Bagaimana? " Tanya seorang wanita berperawakan bule seraya duduk di sofa apartemennya.


" Maaf miss, CV anda tetap tidak diterima. Hanya ada lowongan dikantor cabang mereka di luar kota " Jawab wanita yang berdiri dihadapannya.


" Apa? Tidak diterima! Kamu bisa kerja tidak sih " Teriak Wanita itu frustasi.


" Maaf miss, tapi.. "


Brakk..


" Saya tidak butuh alasanmu yang tidak berguna itu, GINA! Kamu tahu kan apa yang akan saya lakukan jika kamu.. "


" Saya minta maaf miss! Akan saya usahakan " Jawab Gina cepat memotong ucapan Celine.


" Good job! Saya tunggu secepatnya, kalau tidak... "


" S.. Saya mengerti miss " Gina segera keluar dari apartemen Celine.


" Sial, kenapa susah sekali masuk perusahaan milik Rivan! " Geram Celine seraya mengepalkan tangannya kesal.


...****...


" Maaf Gin, Paman nggak bisa bantu kamu lagi! Kau tahu sendiri bukan, paman hampir saja dipecat karena memasukkanmu ke perusahaan keluarga Ferdian tanpa seleksi " Ujar pria paruh bayah yang duduk di kursi kebesarannya. Sementara Gina, wanita yang sedang duduk didepannya tampak memasang wajah memelas. Gina tidak punya cara lain selain meminta bantuan pamannya yang memiliki banyak koneksi.


" Bukan diperusahaan ini paman, miss Celine ingin bekerja di Rivprant corp " Sanggah Gina. Ia harus berhasil, kalau tidak Celine akan terus mengganggunya. Paman Damar tampak menggelengkan kepalanya pelan.


" Paman tidak punya koneksi disana.. Sudah cukup paman terkena masalah karena memasukkanmu disini. Paman bahkan diawasi 24 jam oleh tuan Edwin! Jadi sebaiknya kamu minta tolong pada yang lain saja "


" Ayolah paman, bantu Gina kali ini saja.. Paman tahu kan gimana sifat miss Celine jika sudah berkehendak "


" Itu salahmu sendiri! Kenapa kau mau terlibat dengan wanita bule itu. Bukankah paman sudah melarangmu " Pamar Damar menatap tajam Gina membuat Gina tersenyum masam.


" Gina terpaksa paman.. "


" Paman, Gina hanya... "


" Paman tidak punya banyak waktu untuk hal yang tidak penting seperti ini Gina! "


" Baik paman, maaf sudah mengganggu waktu paman " Gina yang mendengar ucapan pamannya bergegas keluar.


" Bagaimana lagi caranya aku memasukkan miss Celine ke Rivprant Corp? " Gumam Gina seraya berjalan kembali ke divisinya.


" Jangan mencoba bermain main dengan keluarga Ferdian atau kau akan tahu bagaimana cara mereka membuat musuh terdiam telak hingga untuk mengucapkan kata ampun saja tidak akan sanggup " Ujar seseorang yang tiba tiba muncul di belakang Gina. Sontak Gina menoleh kebelakang.


" T..tuan Edwin " Kaget Gina menunduk dalam.


" Kamu masih beruntung tidak dikeluarkan dari perusahaan ini. Dan itu hanya karena belas kasih nona muda Syafa. Jika sekali lagi kamu membuat masalah, maka bisa dipastikan namamu akan di blacklist dan saya pastikan hidupmu menderita. Ingat itu, Gina! " Paman Edwin pergi begitu saja setelah memberi peringatan pada Gina, meninggalkan Gina yang diam mematung. Ia dapat melihat gelagat Gina yang tak biasa. Sebagai orang kepercayaan tuan Rizky, tentu saja ia harus selalu waspada.


...****...


Kediaman Pranata!!


01.00 WIB


Syafa sedang berada didapur bersama bunda Viona. Setelah istirahat, ia memutuskan untuk membantu bunda mertuanya memasak makan siang. Sementara Rivan sedang berkutat dengan laptopnya dikamar.


" Syafa, tolong panggil suamimu! Setelah itu kita makan siang " Titah bunda Viona seraya membantu Syafa menata makanan dimeja makan.


" Kita nggak nungguin yang lain dulu bun? " Tanya Syafa


" Mereka pasti sudah makan diluar. Jangan terlalu dipikirkan sayang, sekarang kamu panggil suamimu. Bunda juga harus menyambut ayahmu, dia tadi bilang sudah dalam perjalanan pulang "


" Baik bunda, Syafa ke atas dulu " Syafa segera menghampiri sang suami yang berada didalam kamarnya.


Tok.. tok.. tok..


" Masuk.. "


Ceklek!!


" Sayang! Mas kira siapa " Ujar Rivan menoleh sesaat kepada Syafa lalu kembali fokus pada laptop yang berada dipangkuannya.


" Mas, ayo turun! Kita makan siang dulu " Ujar Syafa menghampiri Rivan.


" Sebentar sayang "


" Bunda sudah menunggu dibawah mas " Ujar Syafa lagi.


" Tapi.. " Syafa tidak mendengar ucapan Rivan. Ia merebut laptop itu dari tangan Rivan. Ia men-save file yang sedang Rivan kerjakan dan mematikan laptop itu begitu saja.


" Setidaknya perhatikan kesehatanmu mas. Hargai orang yang sudah memasak dan mengajakmu makan! " Ujar Syafa. Ia lantas menaruh laptop itu diatas nakas dengan sedikit kasar. Syafa terlalu kesal pada Rivan yang terlalu fokus pada kerjaannya. Apalagi Rivan masih dalam masa cutinya. Sudah terhitung 3 jam Rivan berdiam diri dikamar dan berkutat dengan laptopnya itu.


" Maaf sayang, mas benar benar.. "


" Turunlah jika mas memang menghargai jerih payahku dan bunda yang sudah memasak " Setelah mengatakan itu Syafa keluar dari kamar tanpa menghiraukan Rivan yang memanggilnya.


" Ayah.. " Syafa mencium tangan ayah mertuanya yang sudah berada dimeja makan bersama bunda Viona.


" Rivan mana nak? " Tanya ayah Andra.


" Mas Rivan ada dikamar yah, sebentar lagi turun " Jawab Syafa seraya tersenyum.


" Baiklah, sekarang kamu juga duduk Syafa! Kita tunggu Rivan.. " Baru saja berkata seperti itu, Rivan sudah menyusul dengan wajah kusutnya.


" Ada apa kak? Kenapa wajahmu kusut seperti itu? " Tanya bunda Viona dengan tatapan menyelidik.


" Ehmm.. nggak papa bun! Hanya mikirin kerjaan " Elak Rivan seraya duduk disamping istrinya.


" Kamu itu masih cuti kak! Sebaiknya jangan terlalu memikirkan masalah kantor. Nikmati dulu waktu berdua dengan istrimu " Sahut ayah Andra. Ia dapat menangkap aura permusuhan dari suami istri didepannya.


" Tetap saja kakak nggak bisa lepas tangan gitu aja yah. " Protes Rivan.


" Iya, dulu duniamu memang hanya sebatas kerjaan, orangtua, saudara! Tapi sekarang berbeda, ada istri yang juga harus kamu perhatikan lebih dari kerjaanmu. Kadang istri juga butuh perhatian lebih dari suaminya. Jadi sebagai seorang suami kamu harusnya bisa mengerti itu " Ujar ayah Andra. Bahkan bahasanya sudah menggunakan kamu. Itu artinya ayah Andra sedang serius.


" I.. iya yah! "


" Sudahlah, nggak baik ribut didepan makanan! Sebaiknya kita makan sekarang " Bunda Viona menuangkan nasi kepiring ayah Andra. Syafa juga turut melayani suaminya meski masih sedikit kesal.


To be continued!!!