The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Sebuah Jawaban



Rivan sudah menyelesaikan semua pekerjaannya di Surabaya.


12.30 WIB


" Masih ada banyak waktu! Kita berkemas dan segera check out dari hotel. Kita harus kembali ke Bandung sekarang juga " Ujar Rivan pada Leo yang terlihat bingung.


" Tuan, maaf! Bukankah tuan menunda kepulangan kita hingga besok sore? " Tanya Leo hati hati. Yang benar saja, tadi malam mereka memang berencana akan pulang siang ini. Tapi tiba tiba Rivan mengatakan akan menunda kepulangannya hingga besok sore. Bahkan Rivan juga sudah berencana akan meninjau proyek barunya di Surabaya setelah urusannya selesai. Dan sekarang, ia kembali ingin ke rencana awal. Bukankah itu sangat menyebalkan!!


" Lakukan saja perintahku Leo "


" Tapi proyek yang mau kita tinjau itu.. "


" Tunda semuanya! Saya mau pulang sekarang" Potong Rivan membuat Leo tak bisa berkutik lagi. Rasanya sudah tak sanggup lagi melihat Syafa berduaan dengan pria yang ia tahu namanya Raka itu. Benar benar terlihat seperti sepasang kekasih. Dan entah kenapa disetiap kesempatan pasti selalu bertemu. Dimana pun itu!


" Baik tuan "


...****...


21.00


" Gimana? Seneng nggak? " Tanya Raka ketika masuk apartemen diikuti oleh Syafa di belakangnya.


" Seneng dong! Apalagi di traktirin sama abangku yang baik ini.. makasih ya bang " Jawab Syafa bergelayut manja di tangan abangnya. Mereka baru saja pulang dari bazar.


" Kamu emang gitu kalau ada maunya! " Ujar Raka mencubit hidung adiknya dengan gemes.


" Abangg!! " Pekik Syafa.


" Kamu istirahat gih, udah malem! Abang juga mau istirahat, besok ada apel pagi " Ucap Raka kemudian.


" Iya bang! " Syafa langsung masuk kedalam kamarnya. Begitupula Raka. Mereka tidak membangunkan mbok Nur yang sepertinya sudah tertidur dikamarnya.


...©©©...


Rivan dan Leo sudah memasuki halaman rumah keluarga Pranata. Memang sangat cepat dari waktu yang seharusnya. Bahkan Leo berdelik ngeri saat Rivan menyetir mobilnya seperti orang kesetanan.


" Tuan, saya pulang dulu! " Ujar Leo seraya keluar dari dalam mobil Rivan.


" Bawalah mobil ini, besok langsung bawa saja ke kantor " Ujar Rivan yang juga sudah keluar dari mobilnya.


" Tidak papa tuan, saya naik taksi saja " Tolak Leo.


" Jangan membantah! Hari sudah malam, sangat sulit mendapatkan taksi " Ujar Rivan.


" Tapi tuan.. "


" Tidak ada tapi tapian " Ujar Rivan seraya melemparkan kunci mobilnya pada Leo. Refleks Leo menangkapnya. Sedangkan Rivan langsung masuk kedalam rumah setelah art membukakan pintu untuknya.


" Kamu sudah pulang nak? Bukannya kata Leo kalian akan pulang besok sore? " Tanya bunda Viona yang masih duduk di ruang keluarga bersama Kalista. Rivan mendekatinya seraya mencium tangannya.


" Kerjaannya cepat selesai bun, jadi Rivan langsung pulang " Ujar Rivan. Bunda Viona tampak mengagguk. Sedangkan Kalista masih asyik menonton sinetron kesukaannya tanpa peduli dengan keadaan sekitar. Bahkan dengan kakaknya yang baru pulang sekalipun.


" Ayah mana bun? " Tanya Rivan celingukan mencari ayahnya.


" Ayah aja yang di kangenin?! " Ledek Kalista dengan mata yang masih fokus pada televisi.


" Iya, abisnya pada nggak peduli sama kakak yang baru pulang " Jawab Rivan.


" Untuk apa? Percuma kalau nggak bawa oleh oleh "


" Lupa soalnya buru buru!! " Jawab Rivan lagi.


" Udah² nggak usah berdebat lagi. Kakak mandi dulu gih, abis itu makan malam. Pasti belum makankan? " Tanya bunda Viona. Rivan mengagguk.


" Tapi kakak ada perlu sama ayah bun "


" Nanti aja, sekarang mandi dan makan dulu. Nggak ada bantahan! "


" Yaudah deh, kakak kekamar dulu bun "


" Hemm.. "


Rivan melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Ia melepas jas yang dipakainya dan meletakkannya begitu saja di atas sofa.


" Huhhh!! aku harus bisa " Gumamnya. Ia pun masuk kedalam kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, ia kembali turun kebawah dan langsung menuju meja makan. Ternyata sang ayah sedang duduk di bangku meja makan seraya menikmati secangkir kopi.


" Iya yah, ada yang mau Rivan bicarakan dengan ayah " Ujar Rivan seraya duduk dibangku samping ayahnya.


" Makanlah dulu, nanti temui ayah diteras atas. Kita bicara disana " Jawab ayah Andra sembari bangkit dari duduknya dan membawa kopinya keluar dari ruang makan. Sedangkan Rivan segera mengambil makan malam dan mulai menyantapnya dengan tidak sabaran.


......∆∆∆......


" Ada apa nak? " Tanya ayah Andra ketika Rivan sudah duduk didepannya. Rivan meremas ujung kaos yang dipakainya. Ia terlihat sangat ragu menyampaikan sesuatu.


" Ehmm.. Rivan mau terima tawaran ayah kemarin " Ujar Rivan membuat ayahnya mengerutkan keningnya, tak paham dengan ucapan putranya itu.


" Tawaran yang mana? "


" Masalah perjodohan itu! " Jawab Rivan membuat ayahnya menatap dengan tatapan tak percaya.


" Kamu serius? " Tanya ayah Andra memastikan.


" Rivan serius yah " Jawab Rivan dengan raut wajah yang sangat serius.


" Lalu gadis yang kamu ceritakan pada ayah dan bunda kemarin? "


" Sepertinya kami memang nggak ditakdirkan bersama yah! Dia sudah dijodohkan oleh orangtuanya. Mungkin pilihan ayah dan bunda yang terbaik untuk Rivan. Rivan percaya pada kalian " Jawab Rivan memaksakan senyumnya. Sungguh benar benar menyakitkan jika mengingat Syafa yang terlihat begitu bahagia bersama pria asing itu. Ayah Andra menepuk pelan bahu anaknya. Ia sangat tahu putranya itu sedang patah hati.


" Kamu yang ikhlas! Jika dia memang jodohmu pasti kalian akan dipertemukan kembali. Jika dia bukan jodohmu maka bersabarlah. Insyaallah akan ada kebahagiaan yang menanti kalian berdua di masa depan nanti. Anak sahabat ayah juga baik kok, cantik lagi! Pasti nggak kalah cantik sama gadis itu " Ujar ayah Andra setengah menggoda anaknya membuat Rivan tersenyum malu.


" Kalau kamu terima, nanti ayah bicarakan pada om Rizky. Ayah tanya sekali lagi, kamu yakin dengan keputusanmu ini? "


" Insyaallah Rivan yakin yah "


" Baiklah, ayah harap ini yang terbaik untukmu nak. Doa ayah bunda selalu menggiring langkahmu " Ujar ayah Andra merangkul pundak Rivan.


" Terima kasih ayah!! "


" Oiya, dua hari ini ayah tidak melihat Darren! Kemana lelaki itu? " Pasalnya Darren sudah dua hari tidak mampir kerumah.


" Darren sudah kembali ke Kanada kemarin yah, daddynya yang menyuruhnya cepat pulang. Makanya dia terburu buru kemarin! Dia juga minta maaf karena nggak pamitan dulu sebelum pulang " Ujar Rivan. Ayah Andra mengagguk tanda mengerti.


" Istirahatlah! Bukankah besok kamu juga harus bekerja? "


" Yasudah, kalau gitu Rivan kekamar dulu yah "


" Iya!! "


" Mudah mudahan ini adalah keputusan yang terbaik untuk aku dan juga kamu. Aku akan turut bahagia melihatmu bahagia "


...****...


Seorang wanita memakai gamis putih panjang dipadukan dengan jilbab pasmina hitam yang dililitkan dikepalanya duduk diatas pasir putih yang terhampar ditepian pantai. Dibibirnya terlukis sebuah senyuman. Bukan, bukan senyum bahagia! Tapi senyum yang dipaksakan seperti ada beban yang dipendam.


" Apa yang harus aku lakukan?! Ini menyangkut masa depanku, masalah hatiku " Tanyanya pada dirinya sendiri. Semilir angin meniup hijabnya hingga terlihat berkibar kibar. Senja sore itu begitu terlihat indah. Tapi sepertinya gadis itu sama sekali tidak peduli. Hatinya sedang gunda, tak tentu arah!


" Ikuti perintah orangtuamu. Mereka yang paling tahu apa yang terbaik untuk anaknya " Ujar seorang pria dengan baju casualnya mendekati gadis itu dan duduk disampingnya. Gadis itu menoleh dan menatap pria itu dengan tatapan sendu.


" Mas Rivann!! Maafkan aku " Lirihnya seraya menunduk. Pria itu tersenyum.


" Yakinkanlah hatimu untuk menerima permintaan papamu. Insyaallah aku ikhlas. Aku tidak tahu bagaimana masa depan kita. Tapi yakinlah akan ada kebahagiaan untuk kita berdua kedepannya jika kamu mau menuruti permintaan papamu " Pria itu tersenyum kembali seolah ia sudah ikhlas jika gadis itu bersama dengan pria lain.


" Aku nggak yakin "


" Apa yang membuatmu nggak yakin? "


" Ini masalah hati mas, aku nggak bisa memutuskan begitu saja. Aku nggak bisa bayangin masa depanku dengan pria yang sama sekali nggak aku kenal "


" Percayalah papamu tahu yang terbaik untuk putri kesayangannya ini. "


" Lalu mas Rivan sendiri? "


" Insyaallah aku ikhlas. Bukankah sudah aku katakan, kebahagiaan menanti kita di masa yang akan datang. Terlepas dari kita bersama atau tidak " Ujarnya kembali. Kata katanya seolah menyiratkan sesuatu. Tapi apa?!


" Terima saja atau kamu akan menyesal nanti. Aku pergi dulu " Pria itu beranjak dari duduknya. Ia kembali menatap si gadis dengan tatapan penuh arti. Sesaat kemudian ia pergi tanpa sepatah katapun. Sementara gadis itu mematung memikirkan ucapan pria tadi.


" Mass Rivan tungguu!! " Pekiknya kemudian.


To be continued!!!