The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Renata vs Virzha



Selepas mendapatkan bogem mentah dari Safira, Renata dan Virzha masih sempat tertegun menyadari kejadian naas yang mereka alami. Kebetulan sekali, saat itu suasana basement tersebut sangat sepi. Jadi mereka tak perlu merasa khawatir ada orang lain yang melihat mereka dipermalukan.


Setelah mereka memakai kembali pakaiannya secara utuh, mereka segera meninggalkan mobil yang jadi saksi bisu kesialan si empunya kendaraan roda empat itu.


Renata dan Virzha memesan taksi online menuju ke salah satu hotel dibilangan padat pengunjung itu. Dan disinilah mereka sekarang.


Lee Dian Hotel


Rey : " Owh... damn... shit !! Awas, tunggu pembalasan ku gadis dungu bodoh!! Menyebalkan !! " Tak henti-hentinya bibir Rey menggerutu dan memaki Safira. Sambil membersihkan diri di toilet kamar hotel tersebut. Antara kesal, malu dan marah bercampur aduk jadi satu. Sedangkan Virzha terlihat nampak menikmati sebatang rokok dan sebotol wine yang sesaat membuatnya lupa akan kejadian memalukan tadi.


Virzha : " Rey, sampe kapan kamu memaki terus si Safira itu? Percuma Rey, cuma bikin energi mu habis gak jelas.. "


Rey : " Dasar cewek t*lol, be*ebah, makin benci gw sama dia, awas aja, gw bales tuh cewek sok alim itu...! " Masih berusaha merutuki kesialan nya.


Virzha : " Cukup Rey, cukup! Jangan berulah lagi sama Safira, dia dan lelaki asingnya itu punya kartu mati kita. Video memalukan kita, kalo sampe mereka publish, matilah kita Rey! " Tukasnya.


" Belum lagi gimana perasaan orang tua kita kalo tau kelakuan anaknya sebejad ini Rey, bisa habis aku dimakan mami papi aku Rey.. " Lanjutnya.


Renata menatap Virzha dengan perasaan nanar. Masih tak percaya kalo lelaki dihadapan nya memilih untuk menyerah begitu saja.


Kemudian Virzha memakai kembali jaket jeansnya, merapikan sedikit tampilan nya yang memang sudah babak belur itu, dan beranjak dari tempat duduknya.


Virzha mulai mendekati Rey. Kemudian berkata : "Everything is over, between you and me. Okey? Aku mau mulai semua dari nol, aku akan pindah dari kampus dan pergi keluar negeri menyusul kakak perempuan ku, aku akan lupakan semua hal yang terlanjur terjadi, termasuk...kamu, Rey! " Ungkapan Virzha begitu menohok hati terdalam Rey.


" Baby please, are you kidding me? What the hell? Don't baby, don't go.. I love you baby, i can't life without you.. " Seketika tangis Rey pecah berusaha menahan kepergian lelakinya itu. Renata berusaha mencium dan memeluk lelaki bertubuh tegap itu.


Namun semua sia-sia, Virzha menepis genggaman tangan Rey, ia pergi meninggalkan Rey yang masih histeris menangis disana.


Seketika kamar hotel yang berdesain full romantic itu berubah jadi tempat menyedihkan saksi bisu kehancuran hidup dan hati Renata.


Jika sudah begini, siapa yang harus disalahkan oleh siapa?


Begitulah karma, ia tak terlihat, tapi jelas adanya.


Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan itu sendiri. Dan tidak ada balasan kejahatan kecuali kejahatan itu sendiri.


Tak sadarkah kita, ketika kita melakukan kebaikan terhadap orang lain, sesungguhnya kita melakukan kebaikan untuk diri kita sendiri. Dan jika kita melakukan keburukan, maka tunggulah sampai kita menjemput karma kita sendiri.


Tragis bukan?


Selepas menjadi bulan-bulanan sang adik, ia kembali kerumah dengan begitu lemahnya. Energinya terkuras habis mengikuti langkah kemana kaki Hasna tertuju. Selepas acara makan di cafe, Hasna mengajak sang abang pergi menuju toko buku langganan nya. Ia membeli semua buku best seller saat ini. Terlihat wajah bahagia Hasna dimatanya. Seandainya saja si gadis itu pun merasakan bahagia ini. Hmmmm, Ikhsan hanya bergeming. Semoga saja gadis itu menemukan lelaki yang bisa membahagiakan nya.


Namun ada satu fakta mengejutkan soal Hasna. Ya, Hasna yang dikenal sebagai adik manja, egois dan garang itu ternyata punya sisi malaikat yang Ikhsan sendiripun baru mengetahuinya.


Ketika di outlet kuliner, Ikhsan sangat kaget saat mendapati beberapa porsi makanan dibungkusnya. Banyak sekali, kira-kira ada tujuh sampai delapan porsi makanan yang Hasna bungkus. Bahkan tagihan yang Ikhsan bayar menyentuh angka 1 juta sekian dalam sekali transaksi. Ikhsan tak mampu menutup rasa penasarannya, entah setan apa yang merasuki Hasna sampai mau menghabiskan makanan segini banyaknya.


Ikhsan : " Hasna... Kamu yakin mau ngabisin makanan ini? Kamu gak kesurupan Khan? "


Hasna hanya tersenyum sambil menggeleng kepalanya pelan.


Hasna menjawab : " Bang, aku kasih tau rahasia, tapi janji yaa Abang gak akan masih tau siapapun, termasuk ayah dan mama... "


Ikhsan : "Rahasia apa, dek?"


Hasna : "Abang ikut aja, jangan komentar. Sini, Hasna yang bawa mobilnya yaa."


Ikhsan hanya mengangguk pasrah.


Tak lama, Hasna membawanya masuk ke daerah kumuh dengan jalan yang sempit. Disana terdapat tanah lapang dimana ada segerombolan anak-anak sedang bermain bola. Hasna dengan lincah memarkirkan mobilnya didekat sana. Ada beberapa anak yang terlihat menghentikan keasyikan permainan mereka. Jika dilihat dari penampilannya, Ikhsan menerka jika mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu, pasalnya pakaian yang mereka gunakan kurang layak disebut sebagai pakaian. Baju compang camping dan tak mengenakan alas kaki.


Hasna membunyikan klakson.


Din...Din...Din...


Anak-anak itu langsung menyerbu mobil yang mereka tumpangi, sepertinya bunyi klakson itu menjadi semacam isyarat yang bahkan Ikhsan pun tak paham.


Hasna segera keluar dari mobil. Dan memasang senyum manisnya menyambut kedatangan mereka.


Bocah kecil : " Kak Hasnaaaaaa....... Kami kangeeennnn..... " Sambil memeluk pinggang Hasna begitu erat. Sepertinya mereka terlihat sangat akrab.


Hasna : " Maafin kakak yaa ibom, kakak sibuk baru sempet kesini deh... "


Lalu terdengar riuh rendah suara beberapa anak tersebut saling menyahut :


" Alaaahhh kak, si ibom jangan dipercaya. Boong aja tuh dia. Dia kangen sama oleh-oleh yang biasa kakak bawain, hahahhahaha.... " Seloroh anak lain yang disusul dengan candaan anak yang lainnya. Si ibom hanya terlihat cemberut dan memonyongkan bibirnya sampe keriput. Melihat pemandangan ini, Ikhsan yang sedari tadi hanya didalam mobil, perlahan membuka kenop pintu mobilnya dan keluar menuju ke kerumunan Hasna dan anak-anak itu.


Sesaat suasana menjadi canggung. Anak-anak itu menatap Ikhsan dengan tatapan menyelidik dan curiga.