The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Berani menghadapi kenyataan



1 bulan kemudian


STIKES NUSA BANGSA


Safira melangkah setengah hati menuju ruang kelasnya. Hatinya bergemuruh. Kuatkah dirinya melihat sahabatnya, eum maksudnya mantan sahabatnya setelah apa yang sudah terjadi?


Namun, sesuai dengan janjinya pada diri sendiri, ia akan terus berjuang. Berjuang sekuat tenaga untuk orang-orang yang ia cintai.


Safira menghirup nafas dan mengembuskan secara perlahan. Secara medis, takaran oksigen ke otak akan menstabilkan daya pikir dan menurunkan tingkat stres yang berkecamuk dihati seseorang.


Langkahnya terhenti saat melihat pintu ruang kelasnya sudah selangkah di depan mata. Memori dan kenangan tentang dirinya dan Rey masih terpampang jelas disana. Ia seakan melihat sosok dua gadis yang bercanda, saling mengejar, saling tertawa bahagia dan ada juga bayangan ketika mereka bertiga jalan bareng di lorong kampus itu, ya.. Safira, Renata dan Virzha, kala itu.


Sekarang semua sudah menjadi kenangan. Kenangan pahit yang bahkan tak ingin diingatnya seumur hidupnya.


Lamunan Safira seketika buyar sesaat dirinya merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya. Safira menoleh. Ternyata Cindy.


Cindy : " Hai Tuan Putri, Liburan kemana aja nih? Gak pernah nyaut atau ngoment di grup kelas kita? Sibuk apaan sih beeebb? " Tanyanya.


Safira : " Eehh, i..iya kah? Hape aku eror, semua contact lost, so aku baru ganti hape.. " Jawabannya asal.


Cindy : " Euum pantesaaann, aku chat kagak di sautin! Mana hape mu beb, sini save nomor aku, nanti aku japri yaa.. " Kata Cindy sambil menyambar hape Safira.


Safira mengiyakan. Namun saat mereka sampai di kelas, Safira belum menemukan sosok Rey disana. Bola matanya masih berpendar berusaha mencari sosoknya.


Riuh kelas sudah menjadi ciri khasnya kelas anak remaja pada umumnya, disini memang semua mahasiswanya adalah perempuan jurusan kebidanan.


Maklum, musim liburan telah berakhir. Tentu membawa kerinduan tersendiri untuk mereka terhadap teman-teman dikelasnya. Saling bercanda, melempar keisengan, dan tingkah laku remaja yang tak akan mudah mereka lupakan begitu saja di kemudian hari, karena kesannya kehidupan remaja yang sangat indah itu.


Cindy : " Guys... Kayaknya hari pertama kuliah belum aktif deh, yuk kita serbu kantin! Gue kangen suasana makan bareng kalian, yuuuk ahh... " Cindy bergelayut manja di punggung Safira.


Safira : " Hayuu deh, gimana gengs? Yok ikutan... "


" Hayoooo " Teriak kompak kawan sekelas lainnya.


Mereka berduyun-duyun melangkah menuju kantin favorit mereka untuk menikmati santapan khas kampus mereka.


Safira terlihat sedang menggandeng lengan Cindy, yang di apit pula oleh Karin dan Winda. Kemudian Karin membuka percakapan diantara mereka berempat.


Karin : " Eh ada gosip baru loh, soal Rey, katanya dia udah cabut dari kampus sini. Alias dia pindah ke Kota XY dan tinggal disana bareng pamannya. " Semua kompak menatap Safira. Yang ditatap hanya celingukan salah tingkah.


Safira : " Loh..loh..loh.. Kenapa kalian liatin aku gitu amat sii? "


Winda : " Ya ampun Safiraaa, jangan sok **** deh! Bukannya kalian sohiban? Masa sama sahabat gak tau kabarnya siiihh? " Tukasnya.


Cindy : " Bodo amat ah, biarin aja dia mau pindah ke Merkurius, Venus, di sudut bumi mana kek, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus bahkan ke Pluto kek sonoh! I don't care .. "


Jawaban mantap Cindy diisyaratkan dengan anggukan setuju dari Karin dan Winda. Safira hanya berusaha tidak menanggapinya.


Karin : " Bahkan si Rey udah keluar dari grup kelas kita loh, dia cuma chat 'maaf aku mau pindah, terima kasih dan mohon maaf jika aku ada salah sama kalian yaa' begitu kira-kira isi chatnya..." Terang Karin.


Safira terheyak. Maaf? Dengan entengnya dia minta maaf setelah apa yang sudah terjadi? Selera makan Safira hilang entah kemana. Safira izin kepada tiga temannya itu menuju toilet. Sedangkan Karin, Cindy dan Winda hanya mengangguk sambil menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan.