The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Sekolah karate 2



Hari ini pun tiba. Ya, hari dimana Safira memulai kelas karate yang membuatnya sangat antusias. Mang Ucit setia mengantar jemput anak majikannya tersebut. Mang Ucit menunggu Safira di pelataran parkir area latihan karate ini sambil menikmati secangkir kopi dan camilannya.


Safira masuk ke area bagian latihan perempuan, disana ada banyak murid sekolah karate yang berbeda-beda sabuknya. Bahkan ada yang masih SMP tapi kemampuan karatenya sudah lihai.


" Hyaaatt... hyaattt... cahhh !! " Terdengar seperti itu sampai akhirnya terdengar bunyi 'BOUUGGHH' seketika lawan bocah tersebut pun ambruk di lantai.


" Whoaaaahh.. amazing!! " Safira tertegun dan sangat terkejut melihat aksi bocah tersebut.


Kelas karate dibagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas laki-laki yang dilatih oleh suami Bu Mela dan kelas perempuan nya sendiri dilatih oleh Bu Mela. Jadi pasangan ini sangat serasi, suami istri menjadi pelatih karate. Nah bocah SMP tersebut ternyata anak sulung dari pasangan suami istri tersebut, pantas saja kemampuam karatenya sudah bagus. Mungkin dia dilatih sejak kecil untuk menguasai karate itu.


Safira tiba di kelas indoor karate di lantai 2 khusus perempuan itu, Bu Mela menyambutnya dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman, Safira membalas uluran tangannya dengan memperkenalkan diri.


Safira : " Salam Bu, nama saya Safira. "


Bu Mela : " Oia yang kemaren registrasi yah, cantik yaa kamu dek. Perkenalkan, nama saya Bu Melawati Iskandar. Just call me Bu Mela please.. " Sambil melebarkan senyuman.


Bu Mela pun membimbing ku menuju ke tengah area latihan untuk briefing sebelum latihan.


Kami bergabung bersama teman-teman lain yang juga ikut berlatih karate. Aku duduk di samping seorang gadis, eumm mungkin masih Remaja SMA. Safira melemparkan senyuman dan menjabat tangan si gadis ramah itu : " Hai, namaku Safira. Kamu? "


" Hai.. namaku Hasna.. " Jawabnya sambil terus mengembangkan senyuman kepadaku.


Sesi latihan dimulai, semua tampak begitu serius mengikuti arahan dari sang pelatih.


Safira : " Hai semua, perkenalkan namaku Safira. Aku mahasiswi kebidanan semester 4. Motivasiku ikut sekolah karate adalah supaya aku bisa menguasai teknik ilmu bela diri dalam rangka melindungi diriku dari ancaman yang tidak terduga."


Bu Mela mengajukan pertanyaan : " Apa kejadian yang melatarbelakangi kamu sehingga memutuskan untuk ikut kelas karate ini, nak? " Sejurus kemudian pertanyaan itu menohok jantungku. Aku seperti dibawa ke waktu naas yang menimpaku. Tatapan penuh selidik dari para member lainnya pun sepertinya membuat diriku memiliki keberanian untuk menjawab.


Safira : " Eumm teman-teman, aku pernah diganggu preman pas lagi nunggu jemputan di halte. Waktu itu aku takut dan panik banget, tapi aku bisa selamat karena ada... ada lelaki gagah datang menyelamatkan aku... " Ucapku sambil tertunduk malu.


Member lain malah menyorakiku jahil. Aku sungguh tambah malu sepertinya wajahku sudah seperti kepiting rebus, rasanya menghangat dan akupun hanya bisa tersenyum saat member lain bersikap jahil padaku.


"Ciyeee ciyeee, sang herooo pun datang Yee.. Hahahahhaha..." Aku senang, sungguh aku merasa senang walaupun kami baru pertama bertemu, kami sudah bisa akrab. Setidaknya aku baru bisa menghafal sebagian nama mereka. Ada Hasna, Yolanda, Onay, Garin, Becca, Stella dan masih banyak lagi.


POV Hasna


Gak nyangka di sesi latihan karate ini aku punya teman baru. Katanya sih dia sekolah bidan baru semester 4. Namanya Safira. Dia cantik dan ramah. Kami pun bertukar nomor hape dan melanjutkan chat via WA nanti dirumah. Dia permisi pulang duluan karena supir pribadinya sudah menunggu. Sedangkan aku tertahan sekitar 20 menitan karena menunggu Bang Ikhsan yang molor dari jadwal. Aku memasang wajah cemberut ketika mobil yang dikendarai Bang Ikhsan masuk ke pelataran parkir area tempat latihan karate ini. Bang Ikhsan hanya memasang wajah memelas minta dimaafkan. Lalu akupun memaafkan tapiiiii tidak semudah itu fergusoooo.... Ada syaratnya....


Bang Ikhsan : " Apa syaratnya nih tuan putri? "


Hasna : " Makan di restoran fast food sambil makan es krim nya yaa.. "


Berhasil. Hasna menikmati senja sepulang latihan karate dengan makanan favoritnya dan lidahnya yang kering terobati oleh lezatnya es krim khas restoran ini. Uunncchh sedapnya.