The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Permintaan Papa



" Huft, selesai juga akhirnya " Ujar Syafa sembari membereskan berkas berkas yang berserakan di meja kerjanya dan memasukkan laptopnya kedalam tas. Setelah semua rapi, Syafa bergegas pulang. Butiknya itu buka sampai jam 9 malam. Pegawainya pun dibagi dua sip. Sip pagi bekerja dari pukul setengah tujuh sampai jam 2 siang. Sedangkan sip sore dari jam 2 siang sampai tutup. Tetapi, Syafa stay disana dari pagi sampai sore saja.


" Sore nona muda " Sapa bu Zeina saat Syafa melewatinya.


" Sore bu Zeina, belum pulang? " Tanya Syafa


" Belum nona, masih ada sedikit kerjaan " Jawab bu Zeina


" Baiklah, jangan terlalu diporsir bu. Kalau sudah segeralah pulang untuk beristirahat. Saya permisi duluan " Ujar Syafa


" Baik nona, silahkan " Jawab bu Zeina tersenyum. Jam kerja bu Zeina sama seperti Syafa dari pagi hingga sore. Namun tak jarang bu Zeina pulang malam karena kerjaan yang menumpuk. Meski Syafa sudah memperingatkan berkali kali untuk jangan terlalu memporsir kerjaan.


Ting..


Syafa segera keluar dari lift dan segera menuju parkiran.


" Sore nona muda " Sapa beberapa pegawai butik Syafa saat Syafa melewatinya.


" Sore " Jawab Syafa tersenyum tipis.


Sesampainya diparkiran Syafa segera naik kemobilnya dan segera melajukannya menembus keramaian kota Surabaya di sore hari.


°°°°°°°°°°°°


Ferd Arethan Appartement


Selama di Surabaya Syafa tinggal diapartemen milik keluarga Ferdian bersama seorang wanita paruh bayah yang sering ia panggil mbok Nur.


" Assalamualaikum " Ujar Syafa saat ia sudah membuka pintu apartemennya.


" Waalaikumsalam, eh nona muda udah pulang toh. Mau dibuatin minum nona? " Tanya Mbok Nur.


" Iya mbok, hem... boleh deh mbok. Tolong buatin coklat panas saja ya mbok " Jawab Syafa


" Baik nona, mbok buat dulu ya "


" Iya mbok, tolong antar kekamar Syafa ya. Syafa mau keatas dulu " Ujar Syafa.


" Siap nona " Jawab Mbok Nur. Ia segera ke dapur untuk membuat coklat panas kesukaan nona mudanya.


Sedangkan Syafa segera naik tangga dan berlalu kekamarnya. Ia segera melepas hijabnya. Dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, ia mengambil bajunya dilemari dan segera memakainya. Kemudian Syafa beranjak ke kasur empuknya dan merebahkan diri disana. Baru beberapa saat ia tiduran, terdengar suara ponselnya berbunyi. Dengan segera ia mengambilnya.


" Papa " Gumamnya.


" Hallo, Assalamualaikum pa " Ujar Syafa ketika ia mengangkat telponnya.


" Waalaikumsalam princess, apa kabar sayang?" Tanya sang papa


" Alhamdulillah Syafa sehat sehat aja disini pa, papa sama mama apa kabar? " Tanya Syafa balik.


" papa sama mama juga sehat kok sayang " /Rizky


" Alhamdulillah kalau gitu pa " /Syafa


" Oiya, gimana kabarnya abang sama kak Nay, aak sama Teh Aca, mas sama mbak Za pa? " / Syafa kembali


" Alhamdulillah baik semuanya. Abang kamu sama kak Nay sekarang udah di Jakarta karena abang kamu pindah tugas " / Rizky


" Wah, abang kok nggak kasih tahu sih. Berarti Nara sama Nabil ikut juga dong pa " / Syafa


" Iya dong sayang " / Rizky. Nabil adalah anak kedua Raka dan Nayra. Nabil Syaputra Ferdian.


" Terus aak bilang twins udah bisa jalan ya pa?" / Syafa


" Iya nak, Hanif sama Hanna itu kan udah satu tahun bulan lalu. Kamu juga kirim kado ulang tahun buat mereka kan? " / Rizky


" Heheh..iya pa. " / Syafa. Twins H, anak pertama dari Marsel dan Rasya. Hanif Firdausy Ferdian dan Hanna Firdadharma Ferdian.


" Dan kabar gembira lagi mbak Za kamu udah mengandung masuk bulan ketiga " /Rizky. Zahira, istri dari Dafa yang sering di panggil mbak Za oleh Syafa.


" Wah, harus kirim hadiah nih buat calon ponakan aku " / Syafa


" Ehmmm.. ada yang mau papa bicarakan sama kamu nak, penting! " / Rizky


Tok..tok..tok...


" Maaf nona, ini mbok Nur. Coklat panasnya sudah jadi " Ujar mbok Nur dari luar kamar Syafa.


" Masuk mbok, nggak dikunci kok " Teriak Syafa.


" Tolong ditaruh diatas meja sana aja ya mbok " Sambung Syafa


" Iya nona " Ujar mbok Nur. Setelah mbok Nur pergi, Syafa melanjutkan obrolannya dengan sang papa.


" Maaf pa, mau bicara apa tadi? " / Syafa


" Kapan kamu bisa pulang ke Bandung sayang?" / Rizky


" Nggak tahu pa, tunggu keadaan butik stabil seperti dulu lagi. Saat ini nggak bisa di tinggal pa. Apalagi Syafa baru terlibat kerja sama dengan Rahardja Company pa " / Syafa


" Emangnya kenapa pa? " / Syafa


" Ehm... gini sayang. Jadi anak sahabat papa dari Kanada datang besok. Rencananya papa sama sahabat papa mau kenalin kalian berdua gitu. Siapa tahu cocok! " / Rizky


" Papa mau jodohin aku sama anak sahabat papa? " / Syafa


" Nggak gitu sayang. Cuma kenalin aja kok " / Rizky


" Hemmm...bener pa? " / Syafa


" Iya sayang, kalau kamu nggak bisa pulang nggak papa kok. Tapi diusahakan minggu ini bisa ya sayang soalnya papa, mama sama mereka udah janjian mau dinner bareng sama anak, mantu dan cucu kami " / Rizky


" Insya Allah pa " / Syafa


" Yasudah papa tutup telponnya ya sayang, jaga kesehatan, jaga diri baik baik ya nak " / Rizky


" Iya pa, salam buat mama " / Syafa


" Iya nak, nanti pas papa pulang papa sampaikan pada mama kamu " / Rizky


" Iya pa, Assalamualaikum.. I love you papa" / Syafa


" Waalaikumsalam, I love you more princess " / Rizky


Tut..tut...tut..


" Huh! Kenapa papa tiba tiba minta aku pulang buat makan malam dengan sahabatnya sih " Gumam Syafa menyeruput coklat panas yang dibuatkan mbok Nur untuknya.


°°°°°°°°°°


Malam harinya...


" Oalah, kenapa makanannya cuma diaduk aduk aja atuh non. Masakan mbok Nur nggak enak ya? Mau mbor Nur buatin lagi makanan yang lain? " Omel mbok Nur sembari menuang air putih pada gelas dan menyodorkannya pada Syafa.


" Mau mbok pijitin non " Tawar mbok Nur. Ia sudah menganggap Syafa seperti anaknya sendiri. Begitupun Syafa, setidaknya dengan kehadiran mbok Nur bisa mengurangi sedikit rasa rindunya pada sang mama.


" Nggak usah mbok, makasih! Mbok temani Syafa makan saja ya " Ujar Syafa


" Mbok makan didapur nanti. Nona muda makan duluan saja " Jawab mbok Nur


" Ayolah mbok, mbok tahu kan aku tuh nggak suka makan sendirian "


" Tapi non.. "


" Nggak ada tapi tapian mbok. Kalau mbok Nur masih nggak mau makan sama Syafa disini Syafa bakal bilang sama papa buat pecat mbok Nur " Ancam Syafa


" Ampun, jangan pecat mbok non " Mohon mbok Nur


" Makanya mbok makan sama Syafa ya "


" Baik non " Balas mbok Nur pasrah. Mbok Nur pun duduk dikursi meja makan berhadapan dengan Syafa. Mereka mulai menyantap makanan tanpa suara.


" Mbok " Panggil Syafa


" Iya non "


" Ehmmm..mbok pernah nggak ngerasa jatuh cinta? " Tanya Syafa malu malu


" Pernah atuh non, bahkan sampai sekarang masih berseri seri " Canda mbok Nur


" Hehe.. si mbok mah emang bucin akut sama pak Ayan eh maksudnya yayang Ayan, iya kan mbok? " Sambung Syafa terkekeh.Pak Ayan adalah suami mbok Nur.


" Hehehe.. nona tahu aja "


" Gimana rasanya jatuh cinta itu mbok? " Tanya Syafa sok serius


" Rasanya campur campur atuh non. Manis, asem, asin, pahit semua ada " Jawab mbok Nur


" Ih,, mbok Nur, orang serius juga " Ujar Syafa memanyunkan bibirnya.


" Heheh..maaf non. Kenapa kok nona muda tiba tiba tanya soal ini. Lagi jatuh cinta ya? Sama den Kenan? " Tanya mbok Nur bertubi tubi


" Sembarangan aja mbok. Bukan sama Kenan "


" Terus? "


" Ada deh, mbok Nur kepo aja " Jawab Syafa


" Ayo dong dijawab pertanyaan Syafa mbok " Sambung Syafa.


" Ya gitu deh non, rasanya pengen deket deket terus sama doi. Nggak rela kalau dia jauh. Terus kalau doi jauh rasanya kehilangan dan yang pasti rindu berat. Kepikiran terus! Satu lagi, kalau kita cinta sama doi kita nggak rela liat dia terluka. Bahkan kalau doi terluka kita juga seakan merasakan. Kalau liat dia jalan dengan cewek lain rasanya nggak rela dan yang juga cemburu " Jawab mbok Nur seadanya sesuai yang dia rasakan.


" Dan bener kata Dillan, Rindu itu berat " Gumam Syafa yang masih didengar oleh mbok Nur


" Emang nona muda rindu sama siapa? " Tanya mbok Nur.


" Ah.. nggak ada kok mbok. Aku cuma rindu sama papa, mama dan kakak² serta adik aku" Ujar Syafa mengelak. Mbok Nur hanya mengangguk.


" Alhamdulillah, tolong diberesin ya mbok " Ujar Syafa bangkit dari tempat duduknya setelah ia makan dan segera beranjak.


" Baik nona muda "


°°°°°°°°°°°


*Ruang Kerja


Syafa sedang berkutat dengan laptopnya. Malam ini ia harus menyelesaikan satu desain baju terbarunya supaya bisa cepat dipasarkan.


Kring..kring...


Suara alarm pengingat dari handphone Syafa berbunyi. Ia segera meraih ponselnya dan segera membacanya. Disana tertera tulisan BIRTHDAY MAS RIVAN.


" Ah, aku lupa! Hari ini adalah hari ulang tahun mas Rivan. " Ujar Syafa. Ia mencoba kembali fokus pada kerjaannya. Namun nihil, sekeras apapun mencoba ia masih tak bisa konsentrasi lagi. Menyerah! Akhirnya Syafa berdiri dan keluar dari ruang kerjanya. Tak lupa mematikan laptopnya terlebih dahulu.


Disinilah ia berada. Di balkon kamarnya yang menyuguhkan pemandangan nan indah pada malam hari. Ditatapnya bintang bintang yang bertaburan dilangit cerah malam itu.


" Apa kabar kamu yang disana? Nggak tahu kenapa aku selalu saja teringat tentangmu. 3 tahun sudah berlalu, namun tak sedikitpun engkau memberiku kabar. Ya, aku tahu aku bukan siapa siapa bagi kamu. Mungkin bagimu ada dan tidak adanya aku sama saja. Tapi bagiku, kau itu sangat berarti! Kau yang memberiku semangat saat aku terpuruk. Kau yang selalu menghiburku dikalah aku bersedih. Kau temanku. Ya, hanya temanku! Walaupun kau memberikan banyak warna dalam hidupku. Entah mengapa aku merasa tak mencintaimu. Tapi kagum. Mungkin rasa kagum sama seperti yang kau ungkap padaku waktu itu ada. Itu sebabnya aku begitu merasa kehilangan ketika kau sama sekali tak mengabari aku. Dan semua sosial media serta nomormu sepertinya tak ada yang aktif lagi " Batinnya dalam hati. Tak terasa air mata Syafa meluncur begitu saja.


" Hari ini hari ulang tahunmu mas! Tak banyak yang aku harapkan. Seperti ditahun tahun sebelumnya. Aku harap dimanapun kamu berada kamu selalu sehat, murah rezeki, bisa mencapai cita cita yang kamu harapkan. Dan aku juga berharap kita bisa bertemu lagi nanti! Happy birthday ya best friend forever " Gumam Syafa tersenyum sembari menatap bintang bintang yang bersinar terang di langit.


Prang...


" Astaghfirullah " Ujar Syafa terkejut.


" Suara apa tuh? " Tanyanya kemudian bangkit dan segera turun kelantai bawah.


" Mbok Nur, ada apa mbok? " Tanya Syafa mendekati mbok Nur yang sedang membereskan pecah gelas yang tergeletak dilantai.


" Non, maafin mbok ya. Mbok nggak sengaja pecahin gelasnya. Tadi mbok mau minum tapi kaki mbok tersandung jadi jatuh gelasnya " Ujar Mbok Nur menjelaskan


" Tapi mbok Nur nggak papa kan? " Tanya Syafa khawatir


" Mbok nggak papa kok non "


" Syukurlah kalau mbok nggak papa. Yaudah Syafa bantu beresin ya mbok " Ujar Syafa sembari memungut pecahan gelas itu.


" Nggak usah non, biar mbok aja. Sekali lagi maafin mbok ya non. Mbok janji nanti mbok ganti uang beli gelasnya ya non "


" Nggak usah dipikirin masalah ganti ruginya mbok. Lagian masih banyak gelas yang lain. Yang penting mboknya nggak papa " Jawab Syafa


" Tapi non.. "


" Mbok mau aku pecat " Ancam Syafa


" Nggak non "


" Yaudah, mbok nggak usah bahas masalah ganti rugi lagi " Ujar Syafa


" Ya Allah, aku bersyukur banget punya majikan seperti keluarga Ferdian. Apalagi nona Syafa. Mereka baik banget sama artnya. Nggak pernah sekalipun mereka merendahkan kami. Tolong bahagiakan mereka ya Allah. " Batin mbok Nur.


" Mbok Nur.. ya malah bengong " Ujar Syafa mengibas ngibaskan tangannya didepan muka mbok Nur.


" Mbok " Panggil Syafa lagi.


" Eh, iya non "


" Itu, udah selesai Syafa bereskan mbok. Syafa pamit ke kamar lagi ya mbok " Ujar Syafa


" Iya non, makasih udah bantuin mbok "


" Sama sama mbok " Jawab Syafa tersenyum tulus sembari beranjak dan kembali kekamarnya.


To be continued!!