The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Pulang ke Surabaya



" Terima kasih nona Syafa, senang bekerja sama denganmu " Ujar nona Felice seraya mengulurkan tangannya pada Syafa.


" Terima kasih kembali nona, saya harap anda puas dengan hasilnya " Jawab Syafa menjabat tangan Felice.


" Tentu, kalau begitu saya permisi " Syafa mengangguk. Felice berdiri dan melangkah keluar dari ruang rapat. Sedangkan Syafa kembali keruang kerjanya.


" Sepertinya aku memang harus pergi sementara waktu. Cabang butik di Surabaya juga belum terlalu stabil " Gumam Syafa. Ia menelpon asistennya dan memberitahu jika ia akan kembali keluar kota dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Setelah urusannya selesai, ia kembali kerumah Dafa.


...****...


" Abang! " Pintu rumah terbuka. Ia kaget saat melihat Raka duduk di ruang tamu dan menjawab salam darinya.


" Kamu jadi berangkat dek? " Tanya Dafa yang baru keluar dari kamarnya bersama Zahira. Syafa mengagguk.


" Segera bersiap! Abang tunggu " Sahut Raka.


" Tunggu², ini maksud abang apa? emang abang mau kemana? " Tanya Syafa.


" Abang ada pelatihan militer di Surabaya selama 5 hari. Jadi abang putuskan untuk berangkat bersamamu. Abang nggak mau kamu nyetir dalam kondisi seperti ini. Bahaya!! " Ujar Raka.


" Tapi... "


" Nggak ada tapi tapian dek, berangkat sama abang atau mas nggak izinin kamu pulang ke Surabaya. " Sambung Dafa.


" Hemm.. iya² aku siap siap dulu " Syafa masuk kedalam kamar dan membereskan beberapa baju yang ia bawa kerumah masnya. Tidak banyak, hanya satu ransel kecil saja. Sisanya masih berada di rumah orangtuanya. Setelah itu ia keluar.


" Yaudah, abang pamit ya! Jaga kesehatan. Jangan terlalu sibuk Daf, ibu hamil biasanya butuh perhatian lebih " Pesan Raka pada Dafa dan Zahira.


" Iya bang, abang juga hati hati. Titip anak keras kepala ini " Jawab Dafa. Syafa cemberut mendengar ucapan Dafa.


" Hati hati bang " Sambung Zahira. Raka mengagguk.


" Dasar!! " Dengus Syafa. Ia langsung masuk kedalam mobilnya. Diikuti Raka yang duduk disamping kemudi.


" Nggak usah cemberut gitu. Abang bukan masmu yang bakal setia menuruti permintaanmu " Ujar Raka seraya fokus pada jalan. Mereka berangkat menggunakan mobil Syafa karena Raka sendiri berangkat ke Bandung naik bus.


" Aku juga nggak minta kok " Jawab Syafa kesal. Ia mengeluarkan laptopnya dan memilih menyelesaikan desain bajunya dari pada mendengar siraman rohani dari abangnya.


Hingga 3 jam lamanya, ia tertidur dengan laptop yang masih menyala. Kebetulan didepan lampu merah, Raka memberhentikan mobilnya.


" Syafa! Kamu tahu abang pa... " Ucapan Raka terhenti saat melihat adik tercinta sudah tertidur dengan posisi laptop masih menyala didepannya. " Astaga, papa benar! Kamu sangat keras kepala dek " Gumam Raka. Perlahan ia mengambil laptop itu dari pangkuan Syafa. Setelah dapat ia segera mematikannya setelah lebih dulu men-save file milik Syafa. Barulah kemudian Raka simpan di dalam tas Syafa kembali.


...****...


18.00 WIB


Mereka sudah sampai di kota Surabaya bertepatan dengan azan Maghrib berkumandang. Raka membelokkan mobilnya pada sebuah masjid terdekat. Sudah ketiga kalinya mereka singgah setelah tadi menunaikan sholat zhuhur, ashar dan makan siang.


" Dek bangun! Sholat Maghrib dulu " Ujar Raka seraya menggoyang goyangkan lengan Syafa. Syafa menggeliat dan perlahan membuka matanya.


" Udah sampai bang? " Tanya Syafa. Raka menggeleng.


" Mampir sholat dulu, yuk turun! " Ini ketiga kalinya Syafa terlelap setelah dibangunkan sholat zhuhur dan ashar tadi.


" Hemm.. iya bang " Syafa bergerak turun dari mobil diikuti oleh Raka. Kemudian mereka menunaikan sholat maghrib bersama jamaah lainnya.


Usai sholat keduanya melanjutkan perjalanan. Tinggal menempuh waktu 30 menit lagi untuk sampai di apartemen.


" Bang, biar Syafa yang nyetir! Abang pasti lelah. " Ujar Syafa. Raka hanya mengangguk karena sejujurnya ia memang sangat lelah. Tadi pagi setelah mendapat kabar dari Dafa mengenai Syafa, Raka yang kebetulan mendapat dinas ke Surabaya berinisiatif untuk berangkat bersama Syafa. Bukan apa apa, ia hanya tak ingin terjadi sesuatu dengan Syafa. Dan ia juga yang menyetir hingga sampai di Surabaya. Ia benar benar merasa sangat lelah. Toh jaraknya juga sudah dekat.


" Mampir dulu ke restoran dek, lapar banget! " Ujar Raka. Syafa mengagguk. Ia mulai melajukan mobilnya menuju restoran terdekat.


...****...


" Assalamualaikum " Ujar Syafa setelah menekan password untuk membuka apartemen di susul oleh Raka yang membawa ransel miliknya dan juga Syafa.


" Waalaikumsalam, nona muda " Pekik mbok Nur menyambut Syafa.


" Mbok,saya lelah! Boleh minta tolong bereskan kamar tamu buat saya. " Ujar Raka membuat mbok Nur tersadar jika Syafa datang bersama Raka.


" Tuan muda! Ehmm.. baiklah tunggu sebentar mbok bereskan " Ujar mbok Nur bergegas menuju kamar tamu. Sedangkan Syafa kembali menutup pintu dan pergi kedapur. Tak lama ia datang dengan membawa segelas teh hijau hangat. Kesukaan Raka.


" Diminum dulu tehnya bang " Ujar Syafa meletakkan teh itu diatas meja. Raka menoleh.


" Udah kamu istirahat sana, abang tahu kamu juga lelah kan? Tapi makasih deh! " Ujar Raka seraya mengambil teh yang sudah dibuat Syafa dan sedikit menyeruputnya.


" Kamu nggak istirahat dikamar? " Tanya Raka ketika melihat Syafa ikut duduk bersamanya.


" Syafa temani abang dulu disini, sampai mbok Nur selesai beresin kamar buat abang. " Jawab Syafa. Ia melihat ponselnya dengan sedikit ras kecewa.


" Ternyata papa nggak nelpon aku lagi hari ini. Apa papa benar benar nggak peduli lagi sama aku "


" Heii, kenapa melamun? " Ujar Raka mengangetkan Syafa.


" Ah, nggak ada kok bang! " Jawab Syafa sedikit gugup.


" Abang tahu, kamu mikirin papa dan mama kan? Kenapa hem? " Ujar Raka.


" N..nggak kok bang! Syafa cuma.. "


" Syafa!! Kamu itu adik abang, kita tinggal dibawah atap yang sama dan dalam asuhan orangtua yang sama. Jadi jangan pernah kamu coba bohongi abang, abang tahu semua tentangmu " Ujar Raka memotong ucapan Syafa. Syafa menunduk.


" Syafa memang nggak pamit sama papa dan mama bang. Syafa terlalu kecewa. Syafa juga ingin menyendiri dulu untuk sementara waktu sembari menunggu jawaban dari sholat istikharah yang Syafa lakukan " Jawab Syafa lirih. Sangat lirih, sungguh ia menyesal karena tak mengabari orangtuanya saat ia hendak ke Surabaya. Tapi ia juga belum siap untuk ketemu apalagi bicara pada keduanya.


" Kamu tahu kan semarah apapun kita sama orangtua, kita harus tetap izin jika hendak pergi, kemanapun itu. Semarah apapun orangtua, ia akan tetap khawatir jika anaknya pergi tanpa sepengetahuannya. Dan kamu bisa bayangkan betapa khawatirnya papa dan mama saat tahu kamu pergi tanpa memberi kabar pada mereka? Kamu tahu, mama bahkan nggak bisa tidur nyenyak dua hari ini karena mikirin kamu. Papa juga sama. Lari dari masalah bukanlah sebuah solusi. Jangan kecewakan mereka dek! Abang mohon.. " Tutur Raka sembari meminum tehnya yang masih sedikit panas.


" Syafa hanya butuh waktu bang, apa itu salah?" Ujar Syafa yang mulai berkaca kaca. Raka menggeleng. " Kamu nggak salah, cuma caranya yang salah! " Jawab Raka. Ia tahu adiknya sangat terbebani karena permintaan papanya. Raka juga sedikit tak menyangkah papanya berniat menjodohkan sang adik dengan pria pilihannya.


" Jangan pernah menyalahkan siapapun. Mungkin ini cara yang kuasa mempertemukan kamu dengan jodohmu. Percaya pada takdir. Abang yakin papa nggak akan menyerahkanmu pada sembarang pria. Papa tahu yang terbaik untuk kita. Apapun itu abang yakin kamu pasti bahagia dek. Lanjutkan ikhtiarmu, abang akan dukung kamu selagi kamu benar " Ujar Raka memeluk adiknya. Syafa mengagguk.


" Makasih bang " Syafa membalas pelukan kakak sulungnya.


" Tuan muda, nona muda!! Maaf mengganggu, kamar tamunya sudah mbok bersihkan. Tuan muda sudah bisa menepatinya " Ujar mbok Nur.


" Iya mbok. Makasih ya " Ujar Raka. Mbok Nur mengagguk.


" Mbok istirahat lagi ya! Maaf mengganggu waktu istirahatnya " Sambung Syafa.


" Mbok nggak terganggu kok non. Yasudah kalau gitu mbok tinggal dulu ya! Kalau butuh apa apa panggil mbok aja " Ujar Mbok Nur. Keduanya mengangguk dan mempersilahkan mbok Nur kembali kekamarnya.


" Kamu juga istirahat, berpikir juga butuh tenaga " Ujar Raka terkekeh diujung kata katanya.


" Abang juga istirahat " Ujar Syafa.


" Iya "


...°_°...


" Apa yang harus aku lakukan? Apa benar dia yang engkau takdirkan untuk menjadi imamku? Kenapa hatiku ragu? Apalagi setelah tahu ternyata pria yang sudah aku anggap sahabatku ternyata menyimpan rasa untukku. Aku tahu papa hanya ingin yang terbaik untukku. Tapi bagaimana dengan hatiku? Apa aku mampu menerima semuanya?! Apa aku siap menerima pinangan dari pria yang sama sekali takku kenal? Beri aku petunjuk ya Robb " Syafa menatap langit malam yang mendung. Tak ada bintang, tak ada bulan. Semua seolah enggan menampakkan diri. Sama seperti perasaan Syafa, mendung. Ragu, tak tahu apa yang harus dilakukan. Lama ia termenung, hingga akhirnya rasa kantuk menyerang. Ia bangkit dari duduknya, menutup pintu balkon dan segera naik keatas ranjang. Syafa menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya.


To be continued!!!