
Kediaman Ikhsan dan Hasna, di malam yang sudah agak larut
Seusai menghabiskan waktu di mall, Ikhsan dan Hasna segera bersiap-siap untuk pulang karena sudah larut malam. Orangtua mereka terus menghubunginya yang belum sampai dirumah juga. Mereka khawatir kalau-kalau ada kejadian yang tidak terduga. Walaupun mereka sudah membekali ilmu karate untuk Ikhsan dan Hasna.
Mama : " Ayah, coba call lagi anak-anak, mama jadi khawatir ihh.. " Suara mama terdengar menyentak.
Ayah : " Sudah lah mah, jangan terlalu parno. Lagian Hasna khan perginya sama Ikhsan, sama abangnya sendiri. Tunggu sebentar lagi, nanti juga mereka pulang. " Tukas sang ayah.
Tak lama setelah perdebatan pasangan suami istri itu, terdengarlah suara klakson mobil yang Ikhsan dan Hasna tumpangi.
Sang mama terdengar sangat antusias dan segera membukakan pintu rumahnya.
Mama : " Ya ampun, anak-anak mama ini kalo sudah keluar rumah, lupa waktu, lupa ngabarin mama, mama jadi khawatir tau gak sih! " Semprot mama. Bahkan Ikhsan dan Hasna belum menjejakkan kaki diteras rumahnya sudah disambut ceramahan mama. Ikhsan hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Hasna memasang wajah sok imut sambil nyengir di hadapan mama.
Hasna : " mamaaaa.... Jangan marah-marah terus ahh, nanti cepet tua loh! Nih jatah oleh-oleh buat mama dan ayah, kami gak lupa kok... " Ucapan Hasna dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian sang mama.
Mama : " Eh eh eh, anak-anak mama pandai sekali merayu yaa, takut kah kalian lihat mama ini merajuk ? " Kata mama sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tiba-tiba ayah menyahut : " ck ck ck, mama ini gimana sih, tadi anak-anak belum datang, ribut. Nah sekarang anak-anak sudah datang, masih ribut juga? Ayo ah masuk, ayah udah gak sabar icip-icip oleh-oleh yang dibawain tuuuhh... " Seloroh ayah mencairkan suasana.
Anak-anak itupun mengangguk setuju dan segera berhamburan kedalam rumah sambil membukakan bermacam-macam cemilan yang dibawa oleh kakak beradik itu.
Melihat kedua orangtuanya, memang Ikhsan dapat menyimpulkan bahwa cuma ayah yang bisa memadamkan amarah mama, cuma ayah yang bisa memahami mama dengan segala keruwetannya dan cuma ayah yang betul-betul sabar menghadapi mama.
'Ayah luar biasa..' Gumam Ikhsan.
Sang ayah tak sadar kalo anak sulungnya itu memperhatikan tingkahnya dalam diam. Ya, ayah adalah lelaki terbaik. Seandainya nanti Ikhsan punya istri, Ikhsan akan membahagiakannya seperti ayah membahagiakan mama. Mama dan Ayah bertingkah seperti remaja yang sedang kasmaran. Tak peduli ada Ikhsan dan Hasna didepan mereka. Memang sejak kecil, Hasna dan Ikhsan senantiasa melihat orang tuanya harmonis. Kalaupun bertengkar, tidak pernah lama. Karena sikap sang ayah begitu sabar dan mampu meluluhkan hati mama.
Hasna : " Eh eh eh mama, tau gak seeehh? Masa tadi di mall, bang Ikhsan malah godain nenek-nenek tau... Aku sampe pegel dikacangin sama bang Ikhsan! " Tukasnya menggoda Ikhsan.
Ikhsan diam tak bergeming. Hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Tak memperdulikan ocehan adiknya itu.
Ayah : " Waduh Ikhsan, masa sih selera kamu nenek-nenek sih? " Selidik ayah.
Mama : " Ikhsan, kalo udah punya calon istri, bilang atuh sama kita, kenalin gituh, mama juga khan udah pengen nimang cucu... " Timpal mama.
Uhuuukk... uhukkk... Ehmm, ehmm!! Ikhsan tersedak mendengar kata-kata mama di bagian akhir itu. Cucu? Istri? Boro-boro mau nikah, wong pacar aja gak punya.
Melihat Ikhsan tersedak, Hasna menyodorkan minum kepada sang abang tercintanya itu.
Hasna : " Aduh Abang, pelan-pelan donk makannya, baca bismillah biar berkah, gak usah buru-buru gituh, emang makannya rebutan sama siapa sih?! " Seloroh Hasna.
Ikhsan menyambut minuman pemberian Hasna dengan meneguknya sampai habis, perlahan rasa pedih di tenggorokannya pun hilang.
Ikhsan : " Mah, yah, Ikhsan udah kenyang makan. Udah lengket juga mau ganti baju, Ikhsan mandi dulu yaa.. " Ikhsan tancap gas kabur menuju kamarnya. Takut nanti disinggung soal pacar lagi. Itu bagian tersensitif baginya saat ini.
Sedangkan ayah, mama dan Hasna hanya melongo melihat tingkah Ikhsan.
' Huuuh, dasar anak itu ' Gumam sang ayah.
Malam ini menjadi malam yang menenangkan bagi Ikhsan, karena libur seminggu pasca ujian akhir di akademi militer membuat Ikhsan merasa tenang. Berikutnya dia tinggal menanti keputusan dimana kelak ia akan ditempatkan bertugas sebagai seorang polisi.