The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Hubungan apa?



Mereka mulai membeli beberapa lemari pakaian, lemari tas, rak sepatu, meja rias, perlengkapan dapur dan berbagai macam furniture lainnya. Jika ditotalkan harga semuanya mencapai 3 M.


" Astaga mas, nggak berlebihan apa? Lihatlah, semuanya hampir 3 M! " Pekik Syafa kaget. 3 M memang bukan jumlah yang besar bagi Syafa. Tapi tetap saja, itu cukup besar hanya untuk membeli furniture rumah mereka. Syafa bahkan menerka-nerka, akankah rumah mereka sama besarnya dengan rumah orangtua mereka?


" Mas, sebenarnya sebesar apa rumah kita nanti. Kenapa banyak sekali yang di beli? " Tanya Syafa saat keduanya keluar dari toko furniture langganan bunda Viona itu. Rivan menoleh pada sang istri dan tersenyum.


" Mas berencana membuat rumah bertingkat 2 dilengkapi dengan kolam berenang, taman bunga dan halaman yang luas. Biar nanti anak anak kita bisa bermain sepuasnya " Jawab Rivan seraya merangkul pundak sang istri yang wajahnya kini sudah memerah.


" Nggak perlu yang mewah kok mas, yang penting sejuk dan asri " Ujar Syafa menimpali. Rivan mengangguk.


" Tentu saja sayang, mas pastikan rumah kita nanti akan sejuk, asri dan juga nyaman. Sesuai keinginan ratunya " Goda Rivan.


" Sudah selesai? " Tiba tiba mama Lesty muncul dibelakang mereka setelah tadi pergi ke toilet.


" Sudah ma! Semuanya sudah di packing, tinggal di antarkan ke alamat kita aja " Balas Rivan yang diangguki mama Lesty.


" Mau ditaruh dimana barang² itu mas? Masa kerumah papa atau ayah? Kan nggak muat " Tanya Syafa lagi. Rivan menghelah napasnya pelan, belum saatnya ia memberi tahu kejutannya pada sang istri. Sementara mama Lesty hanya tersenyum tipis.


" ehm.. Mas titipin di rumah kosong milik papanya Arka sayang! Tenang saja, semuanya aman kok " Rivan mencoba meyakinkan Syafa yang kini menatapnya dengan tatapan penuh curiga.


" Bener mas? " Tanya Syafa menyelidik.


" Iya istriku.. "


Cupp...


Pipi Syafa kembali memerah ketika tanpa malu Rivan mengecup pipinya di depan umum. Mama Lesty juga tersenyum masam melihat tingkah pengantin baru didepannya itu.


" Ehemm.. sebaiknya kita segera pulang! Papa bilang hari ini papa pulang cepat. Jadi mama sudah harus lebih dulu sampai rumah " Mama Lesty tiba tiba bersuara membuat kedua insan di depannya ini tersadar.


" Iya ma, kita pulang! Maaf jadi merepotkan mama " Ujar Rivan merasa tak enak hati.


" Nggak ada yang direpotkan kok nak. Kalian itu anak mama, sudah sewajarnya mama membantu kalian disaat kalian membutuhkan mama. Apalagi hanya sekedar menemani kalian belanja, mama malah seneng " Mama Lesty terkekeh di ujung perkataannya. Ia merangkul anak dan menantunya itu seraya melangkah keluar dari mall.


" Terima kasih banyak ma " Ujar Rivan lagi. Ketiganya kini sudah menaiki mobil.


" Kamu juga mau langsung pulang sayang? " Tanya Rivan pada Syafa seraya menjalankan mobilnya perlahan. Syafa menoleh pada Rivan dan kemudian mengangguk.


" Iya mas! Inka dan Gio sudah menghandle pekerjaanku hari ini. " Jawab Syafa kemudian.


...****...


Tiba dirumah, Syafa dan mama Lesty segera turun dari mobil seraya menenteng beberapa paper bag. Sebelum membeli furniture rumah, Rivan memaksa keduanya membeli beberapa gaun untuk menambah koleksi.


" Mas nggak mau makan siang dirumah? " Tanya Syafa sesaat sebelum ia turun.


" Maaf sayang, mas ada pertemuan mendadak sama klien. Sebelum Maghrib mas usahakan pulang. Baik baik dirumah sayang. Assalamualaikum " Syafa mengecup punggung tangan suaminya sebelum ia turun dari mobil.


" Waalaikumsalam " Syafa melambaikan tangannya pada sang suami. Setelah mobil Rivan keluar dari gerbang utama, Syafa melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


...****...


Rivan melangkahkan kakinya keluar dari restoran setelah bertemu klien bersama Leo.


" Baik tuan " Leo mulai menginjak pedal gas mobil mewah itu dan langsung melesat menuju perusahaan.


Hampir 20 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di perusahaan milik Rivan itu. Leo mengikuti sang tuan masuk kedalam ruangannya karena dia tahu ada masalah penting yang harus di bahasnya.


" Ada informasi apa Leo? " Tanya Rivan to the point seraya duduk di bangku kebesarannya. Ia mempersilahkan Leo duduk dibangku yang ada didepannya.


" Ternyata yang memasukkan nona Celine ke perusahaan ini adalah tuan Carell tuan! Dan sepertinya ia bekerja sama dengan seseorang untuk menghancurkan hubungan anda dan nona Syafa " Leo menyerahkan flashdisk berisi rekaman CCTV tersembunyi yang ada di ruangan Carell. Bodohnya Carell, dia tidak tahu jika ada CCTV tersembunyi di setiap ruangan di perusahaan ini.


" Carell? " Rivan mengambil flashdisk itu dengan raut wajah bingung. Tak mau membuang waktu, ia memutar rekaman itu di layar laptopnya.


" Reyhan? Jadi mereka saling kenal? " Lirih Rivan lagi bertanya tanya. Apa sebenarnya hubungan antara Reyhan, Carell dan Celine. Kenapa ketiga orang bekerja sama?


" Dan orang yang mengirimkan sebuah pesan kepada nona Syafa adalah orang suruhan tuan Reyhan " Sambung Leo lagi.


" Jadi mereka sudah bergerak! " Rivan tak tinggal diam. Ia memerintahkan beberapa bodyguard terbaiknya untuk mengintai ketiga orang itu.


" Tidak! Bukan hanya mereka bertiga, tapi sepertinya Liona juga terlibat " Batin Rivan. Ia mulai menerka nerka. Jika Reyhan dan Celine mungkin saja ingin membalas sakit hati mereka dulu. Tapi apa hubungannya Carell dan Liona hingga mereka juga ikut dilibatkan?


" Perketat penjagaan untuk nona kalian! Saya tidak ingin dia terluka secuilpun " Ujar Rivan memberi perintah pada anak buahnya lewat sambungan telpon.


...****...


Sementara disisi lain, Syafa yang hendak istirahat usai membersihkan tubuhnya di kagetkan dengan suara notifikasi handphonenya yang begitu nyaring. Ia bahkan mengelus dadanya saat tiba tiba perasaan tak enak menghampirinya.


" Ya Allah, apa yang terjadi padaku? Kenapa perasaanku tiba tiba tak enak seperti ini? " Gumam Syafa sembari mengecek handphonenya.


0857********


Datanglah ke cafe XX sekarang! Ada yang ingin aku bicarakan tentang suamimu. Ingat jangan beritahu siapapun dan datang sendiri.


" Astaghfirullah, apalagi ini ya Rabb? " Sebenarnya Syafa sangat malas meladeninya. Tapi ia juga penasaran, apa yang hendak dikatakan oleh pengirim pesan ini? Akhirnya ia memutuskan untuk datang. Syafa mengganti bajunya dan bersiap keluar.


" Mau kemana kak? " Tanya mama Lesty yang kebetulan berpapasan dengan Syafa di tangga.


" Ehmm.. Kakak mau ketemu Inka sebentar ma. Ada yang harus dibicarakan tentang butik " Jawab Syafa seraya menunduk.


" Baiklah, hati hati kak!" Syafa mencium tangan mamanya dan bergegas turun. Ia menarik nafasnya pelan saat masuk kedalam mobilnya.


" Jauhkan kami dari fitnah keji ya Allah " Lirih Syafa seraya menghidupkan mobilnya dan mulai melajukannya perlahan. Sesampainya di cafe yang di sebutkan, Syafa segera memarkirkan mobilnya dan bergegas turun.


" Anda nona Syafa? " Tanya seorang pelayan begitu Syafa memasuki cafe. Syafa mengangguk meski dalam benaknya bertanya tanya, dari mana wanita itu tahu namanya padahal dirinya baru saja sampai.


" Mari nona, teman anda sudah menunggu " Pelayan itu mempersilahkan Syafa berjalan di depannya. Ia menuntun Syafa ke sebuah meja yang terletak di pojokan. Dari jauh Syafa bisa melihat punggung seorang wanita yang sama sekali tak Syafa kenali gesture tubuhnya.


" Nona, teman anda sudah datang " Pelayan itu memberitahu wanita yang duduk membelakangi posisi mereka berdiri. Wanita itu berdiri seraya menoleh ke sumber suara. Seorang pelayan yang ia suruh menunggu Syafa di pintu masuk cafe itu berdiri bersama seorang yang sudah ia tunggu-tunggu.


" Liona? "


To be continued!!