
Syafa berjalan ke mobilnya dengan langkah gontai. Ia merasa sangat tidak enak pada Rivan. Baru saja mereka bertemu setelah sekian lama tak pernah bertukar kabar. Tapi Syafa malah memberikan kesan buruk padanya.
" Maafkan aku mas. Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Lebih baik aku jujur dari awal daripada nanti kamu makin tersakiti. Jujur sangat sulit menolak permintaan papa " Gumam Syafa yang sudah duduk dibalik kemudi mobilnya. Ia memandangi ponselnya.
25 panggilan tak terjawab
Papa💖
" Papa kakak harus apa? " Ia mendesah kesal. Syafa menghidupkan mobilnya dan segera melajukannya meninggalkan taman itu.
Sebuah panggilan kembali masuk. Syafa sangat malas melihatnya karena ia pikir papanya lagi yang menelpon. Namun panggilan itu terus masuk hingga yang ketiga kalinya.
" Siapa sih?! " Dengusnya kesal. Ia meraih handphonenya yang mulanya terletak diatas dashboard mobil. " Mas Dafa! " Pekik Syafa. Ia ragu antara ingin mengangkat telpon atau tidak. Ia takut ada papa Rizky disamping Dafa. Atau memang papanya yang menelpon menggunakan handphone Dafa. Lama ia berpikir seraya terus melajukan mobilnya dan pada akhirnya ia mengangkat telpon itu.
" *Ha.. hallo mas!! "
" Syafa kamu kemana aja sih! mas udah telpon berkali kali tapi kamu nggak angkat angkat. Kamu lagi sibuk banget*? " / Dafa marah
" Maaf mas, tadi Syafa silent handphonenya. Makanya nggak denger " / Syafa mencari alasan.
" Lupakan! Papa tadi telpon mas, papa bilang papa telpon kamu tapi nggak kamu angkat. Ada apa dek? Kenapa kamu abaikan telpon dari papa padahal papa khawatir sama kamu " /Dafa
" Ehmm.. Sya.. Fa tadi lagi diperusahaan.. ada meeting sama klien " / Syafa berkilah.
" Jangan berbohong Syafa! Papa bilang dia menelponmu berkali kali. Bahkan dalam jangka waktu yang cukup lama. Tidak mungkin kamu selama itu kamu mengadakan meeting terus menerus dengan klienmu tanpa jeda. " / Dafa berucap dengan tegas membuat Syafa tertunduk bahkan ia tak berkonsentrasi menyetir. Ia pun menepikan mobilnya pada bahu jalan daripada berbahaya untuknya.
" Katakan yang sejujurnya. Apa alasanmu mengabaikan telpon papa? "
" Hiks.. hiks.. Syafa nggak siap mas. Syafa nggak kuat dengar suara papa! Syafa belum siap bicara sama papa. Syafa tau papa sangat kecewa sama Syafa. Maka dari itu Syafa nggak angkat. Jujur Syafa merasa sangat bersalah. Tapi bagaimana lagi, Syafa hanya ingin menyendiri untuk sementara waktu. Pleasee ngertiin Syafa " / Suara Syafa terdengar serak bahkan terdengar suara isak tangis dari seberang sana membuat Dafa terenyuh. Memang tidak mudah bagi adiknya menghadapi masalah ini.
Dafa ingin membalas namun tepukan di bahunya membuatnya menoleh pada pria yang duduk didepannya. Ia menggelengkan kepalanya pertanda ia melarang Dafa memarahi adiknya karena berani mengabaikan telpon dari papanya yang sedari tadi mengkhawatirkannya.
" Yasudah, jika sudah selesai dengan urusanmu segera pulang! Jangan keluyuran " / Dafa memutuskan telponnya.
" Papa kenapa larang Dafa marahin anak keras kepala itu " Omel Dafa pada pria paruh baya didepannya.
" Biarkan saja nak, adikmu benar! Mungkin papa terlalu memaksanya sehingga membuatnya tertekan. " Papa Rizky menghela napas perlahan. Ada penyesalan dalam hatinya karena memaksa putri kesayangannya. Dafa duduk diam sembari menyimak.
" Papa pulang dulu, mamamu sudah menelpon dari tadi. Papa titip Syafa ya nak! Tolong jaga dia. Jangan paksa dia pulang kalau dia sendiri nggak mau pulang " Ujar Papa Rizky seraya berdiri dan menepuk pelan bahu Dafa.
" Hati hati pa " Papa Rizky mengagguk. Ia keluar dari ruangan Dafa setelah mengucapkan salam.
" Benar benar situasi yang sulit untuk dipahami" Gumam Dafa. Ia mengambil jas dokternya dan kembali memakainya dan segera keluar dari ruangannya. Ada operasi yang harus ditangani 10 menit lagi.
...****...
Rivan mengendarai mobilnya hingga ia sampai pada suatu tempat. Sebuah taman indah yang langsung terhubung dengan danau buatan. Sangat nyaman, sejuk dan juga asri.
" Baru pertama kali aku mengungkapkan perasaanku pada seorang wanita. Tapi Tuhan tidak berpihak padaku. Wanita yang aku cintai ternyata sudah dijodohkan dengan pria lain " Lirih Rivan. Hatinya sangat sakit menerima kenyataan itu. Sangat! Sangat sakitt!! Dia kembali terngiang ngiang dengan ucapan ayahnya tadi malam.
Flashback on
Malam ini ayah Andra menyuruh Rivan menemuinya diruang kerjanya. Dengan santai Rivan melangkah menuju ruang kerja ayahnya.
Tok.. tok.. tok..
" Masuk " Terdengar suara ayah Andra menyuruhnya masuk. Rivan membuka pintunya dan segera melangkah masuk. Tidak hanya ayahnya, ternyata bunda Viona juga ada didalam.
" Ayah memanggil Rivan? " Tanya Rivan. Ayah Andra mengagguk.
" Duduklah " Ayah Andra menunjuk sofa didepannya. Rivan berjalan menuju sofa itu dan duduk. Perasaannya mulai tak nyaman.
" Nak, apa kamu mau mengabulkan keinginan ayah? " Tanya ayah Andra tiba tiba membuat Rivan mengerutkan dahinya.
" Apa yang ayah inginkan? "
" Hemm.. sebenarnya ayah sudah bersahabat sejak lama dengan om Rizky. Kami berniat mempererat tali persaudaraan diantara kami. Bahkan dulu saat kami kuliah kami juga sempat berkata jika kami punya anak laki laki dan perempuan, kami akan menjodohkan mereka " Ayah Andra menghentikan ucapannya.
" Dan.. karena ketiga kakakmu sudah menikah, jadi rencananya ayah akan menjodohkanmu dengan anak perempuannya om Rizky. Namanya Syakilah " Ayah Andra berkata sembari menatap intens wajah Rivan.
" Maaf nak, kami menyetujui perjodohan ini tanpa berdiskusi denganmu " Sahut bunda Viona.
" Apa?? Ayah dan bunda menjodohkan aku?? " Ia tak menyangka ayah dan bundanya menjodohkannya secara tiba tiba.
" Maaf!! " Cicit bunda Viona. Tentu ia tahu perasaan anaknya. Ia mendekati anaknya dan merangkul pundak Rivan.
" Kamu tahu nak, bunda beberapa kali bertemu Syakilah. Dia gadis yang baik, sopan dan juga lemah lembut. Bunda yakin dia akan jadi pendamping yang baik untukmu nak. Bunda mohon kamu terima ya!! " Ujar bunda Viona. Rivan menatap bundanya. Ada rasa tak tega menolak permintaan orangtuanya. Akankah dia mampu membahagiakan gadis yang sama sekali tak ia kenal itu. Sementara ia mulai merasakan jatuh cinta pada gadis lain.
" Maaf bun, tapi.. Rivan mencintai seseorang " Jawab Rivan lirih.
" Mencintai seseorang? apa kamu memiliki kekasih? " Tanya ayah Andra. Nada bicaranya sudah naik satu oktaf.
" Huh! baiklah.. ayah kasih waktu satu minggu. Jika dalam jangka waktu satu minggu kamu belum juga ungkapin perasaan kamu dan mengenalkan gadis itu pada ayah dan bunda, kamu harus siap untuk dijodohkan dengan Syakilah " Ujar ayah Andra pada akhirnya.
Flashback off
" Kayaknya nggak ada jalan lain. Aku memang harus terima perjodohan itu " Gumam Rivan galau. Ia kembali terbayang pertemuan pertamanya dengan Syafa. Saat dimana ia datang ke kampus tempat Syafa menuntut ilmu untuk mengikuti perlombaan. Pertama kalinya ia dikalahkan oleh tim Syafa. Kemudian mereka dipertemukan lagi dalam sebuah kegiatan sosial yang diadakan kampus. Sikap lemah lembut yang dimiliki Syafa sehingga anak anak didesa itu langsung akrab dengannya. Sungguh pemandangan yang membuat Rivan semakin menaruh hati pada gadis ayu itu.
" Mas Rivan, kami pamit ya. Moga nanti kita bisa ketemu lagi di Indonesia. Jaga diri baik baik dinegri orang. Jangan sampai tersesat ke jalan yang salah. "
" Mas Rivan kapan pulang ke Indonesia? Kirain masih di Kanada "
" Makasih ya mas Rivan bantuannya. Insyaallah aku ganti nanti ya "
" Ini Syafa, masa iya nggak tahu? kan udah sering chattan sama aku, gimana sih mas? "
" Ck, dasar tuan muda. Bisanya cuma memaksa! "
Sekelumit dialog yang pernah Syafa lontarkan padanya ikut hadir dalam pikirannya. Rivan tersenyum gentir. Tak ada lagi yang bisa diharapkan, sebentar lagi sang pujaan hati akan menjadi milik oranglain.
" Bantu hamba mengikhlaskan semua ini ya Allah " Lirihnya menatap pada danau buatan yang indah.
" Are you okay? " Tanya seseorang yang langsung duduk disamping Rivan. Rivan menoleh.
" Darren? You're here? " Tanya Rivan.
" Yes.. I went with Bagas. But because his daddy ordered Bagas to go to the office immediately there was an impromptu meeting, so Bagas lent me his car. I'm also bored in your apartment alone. That's why I chose to walk around town. I stopped by here and it turns out you're here too. And it looks really messed up. What is it, friend? (Iya.. tadinya aku pergi bersama Bagas. Tapi karena daddynya menyuruh Bagas segera kekantor ada meeting dadakan, jadinya Bagas meminjamkan mobilnya padaku. Aku juga bosan di apartemenmu sendirian. Makanya aku memilih berkeliling kota. Aku mampir kesini dan ternyata kau juga ada disini. Dan terlihat sangat kacau. Ada apa teman?) " Ujar Darren.
" Nothing, I'm just tired ( Tidak ada, aku hanya lelah) " Jawab Rivan menunduk. Darren tak percaya begitu saja. Tiga tahun lebih Rivan menetap di Kanada dan selama itu ia sudah berteman dengan Rivan. Sedikit banyak ia tahu tentang Rivan.
" Don't lie to me Rivan, I know you. Tell me, I'm ready to hear it ( Jangan membohongiku Rivan, aku tahu kamu. Ceritalah, aku siap mendengarnya) " Ujar Darren. Rivan menggeleng.
" Serious! I'm fine " Rivan berkata dengan sangat lirih.
" Rivan, You don't consider me your friend anymore do you? so you don't want to tell me your problem ( Rivan, Kau tidak menganggapku temanmu lagi kah? sehingga kamu nggak mau cerita masalahmu padaku ) " Darren mencebik kesal.
" It is not like that! " Bantah Rivan.
" But I.. "
" Tell me if you still think of me as your friend (Ceritalah jika memang kau masih menganggapku temanmu) " Darren lebih dulu memotong ucapan Rivan.
" Ehmm.. okay! I will tell you " Jawab Rivan.
" I actually confessed my feelings to a woman. I've liked it for a long time. But I don't have the courage to say it. Until I convinced myself to talk to him again. I just met him. I've already told him everything. It's all about my feelings for him. (Sebenarnya tadi aku mengungkapkan perasaanku pada seorang wanita. Sudah lama aku menyukainya. Tapi aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Hingga aku kembali meyakinkan diriku untuk berbicara padanya. Tadi aku bertemu dengannya. Aku juga sudah mengatakan semuanya padanya. Semua tentang perasaanku padanya ) "
" But... fate said otherwise, it turns out that she was already betrothed to another man (Tapi... takdir berkata lain, ternyata dia sudah dijodohkan dengan pria lain) " Rivan memejamkan matanya. Seolah menahan rasa sakit yang teramat.
" So you lost before the war? Oh come on friend, you strong man! Don't be weak because of women. After all, they just want to be arranged and not married. There's still a chance for you (Jadi kamu kalah sebelum berperang? Oh ayolah teman, kamu pria yang kuat! Jangan jadi lemah karena wanita. Lagipula mereka baru mau dijodohkan belum menikah. Masih ada kesempatan untukmu ) " Ujar Darren setengah mengejek.
" You are mocking me? " Tanya Rivan malas.
" Not really, but it's true what I said isn't it? (Tidak juga, tapi benar apa yang aku katakan bukan? ) " Jawab Darren lagi.
" But the problem is not that simple. Dad only gave me one week to introduce the women I love to them. If I don't want it, I have to accept the matchmaking they arranged ( Tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Ayah hanya memberiku waktu satu minggu untuk mengenalkan wanita yang aku cintai pada mereka. Jika tidak mau aku harus mau menerima perjodohan yang mereka atur ) " Rivan kembali bersuara dengan malas.
" Complicated problem " Gumam Darren.
" So, what's your next plan? " Tanya Darren. Rivan mengangkat bahunya.
" I don't know "
" Believe in destiny! Haven't you always said that God is all fair? I just pray that your problem is resolved quickly. And.. in my opinion, you should accept the matchmaking. I don't want you to ruin that woman's relationship with her fiancé. After all, your parents know him, right? At least your get a good woman and her origins are clear. (Yakinlah pada takdir! Bukankah kau selalu mengatakan tuhan itu maha adil? Aku hanya mendoakan supaya masalahmu cepat terselesaikan. Dan.. menurutku, sebaiknya kamu menerima perjodohan itu. Aku nggak mau kamu jadi perusak hubungan wanita itu dengan tunangannya. Toh, orangtuamu mengenalnya kan? Setidaknya kamu mendapat wanita yang baik dan jelas asal usulnya.) " Rivan mengangguk seraya menatap Darren
" Thanks for your opinion Darren " Ujar Rivan memaksakan tersenyum. Darren mengagguk.
" Oh yeah, maybe the day after tomorrow I should go back to Canada. Can you accompany me for a walk today? ( Oh iya, mungkin lusa aku harus kembali ke kanada. Bisa kau temani aku jalan jalan hari ini?) " Ujar Darren.
" Sorry Darren.. I... "
" Come on Rivan, we have fun today " Ujar Darren menarik tangan Rivan, memaksanya berdiri.
" Darren!! " Pekik Rivan.
" Accompany me!! " Ujar Darren memelas.
" Ehmm.. okay! I will keep you company. Just leave Bagas's car here, my men will take him to Bagas's office. (aku akan menemanimu. Biarkan saja mobil Bagas disini, anak buahku akan mengantarnya kekantor Bagas.) " Ucap Rivan pada akhirnya.
" Okayy!! Thanks Rivan " Jawab Darren. Akhirnya mereka berdua pergi mengelilingi kota Bandung dengan menggunakan mobil Rivan. Setidaknya Darren bisa sedikit mengalihkan pikirannya.
To be continued!!!