The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Aku bahagia sekali



Sore Harinya..


Rivan menepati janjinya, ia mengajak Syafa ke suatu tempat. Tempat yang Syafa sendiri tidak tahu bagaimana dan dimana itu. Yang jelas Rivan bilang ada surprise disana.


" Sudah siap sayang! " Rivan keluar dari walk in close dengan menggunakan pakaian casualnya. Ia mendekati Syafa yang masih sibuk mengenakan hijabnya.


" Masyaallah! Cantiknya bidadari surga mas " Ujar Rivan membuat pipi Syafa memerah.


" Mas, nggak boleh berlebihan " Balas Syafa yang justru membuat Rivan mengulum senyum.


" Nggak berlebihan kok, bukannya ucapan itu doa? Jadi, mas berkata demikian karena mas ingin nantinya kamu yang jadi bidadari mas baik di dunia maupun di surga kelak " Ujar Rivan.


" Aamiin.. " Syafa menyemprotkan parfum pada bajunya dan kemudian ia berdiri dan mengambil tas tangan yang senada dengan bajunya.


" Kita berangkat sekarang mas? "


" Iya sayang " Rivan menggandeng tangan Syafa keluar dari kamar. Sebelumnya mereka sudah meminta izin pada ayah Andra dan bunda Viona supaya mereka tidak khawatir.


...****...


Disinilah mereka berada, disebuah taman yang begitu luas yang terhubung dengan danau buatan. Tempat yang begitu sejuk dan cocok untuk melepas penat. Tidak hanya itu disekeliling taman di tumbuhi berbagai tanaman hijau yang menyejukkan mata. Ditengah tengah taman, ada sebuah meja dengan dua buah kursi yang berhadapan. Juga tersaji berbagai jenis makanan kesukaan Syafa diatasnya.


" Kamu suka? " Tanya Rivan menggenggam tangan istrinya, menuntun Syafa memasuki taman itu. Syafa mengangguk. Ini pertama kalinya ia melihat sebuah taman yang begitu indah. Bahkan ia pun tidak tahu jika ada taman ini di kota.


" Ayo kesana " Rivan melepas gandengan tangannya dan mengajak Syafa berlari di taman luas itu. Syafa dengan senang hati mengikuti. Sudah lama sekali rasanya ia tak merasakan hal seperti ini.


" Mas, tunggu.. " Pekik Syafa yang melihat Rivan begitu jauh dari pandangannya. Tidak ada orang lain disana membuat mereka berdua begitu bebas. Rivan berhenti, ia menunggu sang istri di dekat sebuah pohon yang lebih besar dibandingkan pohon pohon yang lain. Saat Syafa sampai, Rivan tiba tiba memencet sebuah tombol merah yang terletak di tengah batang pohon besar itu.


Wusshh..


Kelopak bunga mawar merah bertebaran menghujani mereka berdua. Syafa menatap tak percaya. Sungguh taman ini penuh dengan kejutan.


" Mas.. darimana bunga² mawar ini bisa.. " Saking takjubnya Syafa bahkan tidak bisa berkata kata lagi.


" Tentu saja bisa sayang! Jangan terlalu diambil pusing " Rivan kemudian menarik tangan Syafa untuk duduk di kursi yang tersedia disana.


" Kita makan dulu ya. Masih banyak surprise untukmu sayang " Ujar Rivan yang makin membuat Syafa penasaran.


" Surprise lagi? " Tanya Syafa. Rivan hanya mengangguk, lalu menarik kursi dihadapannya dan mempersilahkan Syafa duduk lebih dulu. Baru kemudian ia duduk di bangku satunya.


" Mau makan apa, Zaujatii? "


" Aku bisa sendiri, Zauji. Seharusnya aku yang melayanimu " Syafa menatap Rivan dengan tatapan penuh cinta.


" Spesial untuk hari ini, aku yang akan melayanimu " Sahut Rivan menatap dalam Syafa.


" Tapi... "


" Hustt... tidak ada bantahan! "


" Baiklah, aku menyerah " Syafa pada akhirnya mengalah daripada suasana indah yang tercipta harus rusak karena pertengkaran kecil mereka.


" Jadi katakan, apa yang kamu inginkan? "


" Steak! " Rivan mulai mengambil beberapa steak dan memotongnya menjadi kecil² kemudian menyodorkannya pada sang istri.


" Syukron, Ya Zauji.. "


" Afwan, Zaujatii " Jawab Rivan.


" Mas mau makan apa? " Tanya Syafa balik. Rivan tersenyum. Syafa memang begitu, ia selalu merasa tak enakan. Dan lagi, memang sudah tugasnya sebagai istri melayani suaminya.


" Apa aja sayang! Yang penting pilihanmu " Jawab Rivan. Akhirnya Syafa juga mengambilkan steak untuk Rivan karena ia tahu Rivan juga suka steak.


" Makan yang banyak sayang " Ujar Rivan.


" Doa dulu mas "


" Siap sayangku " Rivan menengadahkan tangannya, mulai berdoa diikuti Syafa.


...****...


" Mas, sebenarnya kita mau kemana? " Tanya Syafa. Rivan hanya diam tanpa berniat menjawab ucapan Syafa.


" Mas Rivan! " Panggil Syafa.


" Iya sayang? "


" Kita mau kemana? " Tanya Syafa lagi.


" Kejutan " Jawab Rivan. Syafa mendengus kesal membuat Rivan bertambah gemas. " Tenang saja, mas akan selalu ada disampingmu " Bisik Rivan. Syafa hanya diam, ia masih dalam mode merajuk. Tak lama wajah cemberut itu kembali cerah karena melihat pemandangan didepannya. Sebuah rumah pohon yang indah dikelilingi oleh bunga lily dan sebuah air mancur didepannya. Sungguh pemandangan yang luar biasa.


Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang engkau dustakan?


" Kejutan!! " Ujar Rivan membuyarkan lamunan Syafa. " Kamu suka sayang? " Tanya Rivan pada Syafa. Syafa hanya mengangguk.


" Mau naik " Ucap Syafa.


" Baiklah, ayo " Rivan dan Syafa mendekati rumah pohon. Rivan memutar sebuah alat semacam setir mobil yang berada disamping batang rumah pohon. Bersamaan dengan itu, turunlah sebuah tangga yang dibuat dari tali secara perlahan.


" Kamu duluan sayang! Mas akan menjagamu dari bawah " Ujar Rivan. Syafa mulai menaiki tangga satu per satu hingga sampai keatas disusul oleh Rivan setelahnya.


" Bagaimana sayang? Kamu suka kejutannya? " Tanya Rivan yang memeluk Syafa dari belakang. Syafa yang sedang asyik berdiri di belakang pagar pembatas rumah pohon sontak berbalik. Ia menatap Rivan intens. Tak pernah terbayang dibenaknya, Rivan.. pria yang dia cintai, pria yang berhasil memporak-poranda kan hatinya lah yang pada akhirnya menjadi pendamping hidupnya.


" Makasih! Makasih untuk semuanya mas. Aku suka sekali " Syafa memeluk Rivan. Ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya. Kebahagiannya ini tak dapat diungkapkan dengan sebuah kata kata.


" Mas senang kalau kamu suka sayang " Rivan membalas pelukan istrinya.


...****...


Sebuah Cafetaria


" Aku bersedia membantumu memasukkan dia ke perusahaan itu asalkan dia juga membantuku " Ujar seorang pria berjas maroon seraya menyesap kopi didepannya.


" Bantuan seperti apa itu? " Tanya wanita didepannya


" Cukup mudah! Dia hanya perlu mengikuti arahanku untuk menghancurkan seseorang. Jika dia setuju maka besok, aku pastikan dia sudah bekerja di Perusahaan itu " Jawab pria itu lagi.


" Aku akan bertanya dulu padanya! "


" Tanyakan sekarang! Waktuku juga tidak banyak " Wanita itu mengangguk. Ia mengeluarkan ponsel dari handbagnya dan mendial nomor seseorang.


" *Hallo, miss.. "


"....."


" Seseorang bersedia membantumu masuk ke perusahaan milik tuan Rivan. Asalkan anda bersedia membantunya menghancurkan seseorang "


" .... "


" Dia bilang akan mengatakannya nanti, setelah anda menyetujui perjanjian ini "


" ... "


" Baik miss* "


" Bagaimana? "


" Miss Celine setuju membantu kak Reyhan. Yang terpenting dia bisa masuk Rivprant Crop " Jawab wanita didepannya itu. Pria yang dipanggilnya Reyhan itu tersenyum misterius. Sudah cukup ia membiarkan dua orang itu hidup bahagia diatas penderitaannya. Sekarang mereka semua harus hancur, sehancur hancurnya.


" Bagus! Katakan padanya besok langsung datang saja ke Rivprant Crop. Untuk urusan lain serahkan padaku "


" Baiklah, terima kasih banyak kak! "


" No problem, Gina! Jangan lupakan syarat yang ku ajukan "


" Tentu, kalau begitu aku pamit " Gina beranjak dari duduknya. Ia senang satu masalahnya terselesaikan.


" Rivando Pranata, aku pastikan setelah ini hidupmu tidak akan pernah tenang! Enak saja, dengan mudahnya kau membuat Syakilah jatuh cinta padamu. Sementara aku yang sudah berjuang bertahun tahun sama sekali tak dilirik. Tunggu saja, akan ku buat hidupmu hancur "


To be continued!!