The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Pahit, tapi itu lebih baik



Hasna begitu bersemangat melangkahkan kakinya menuju gedung elite bertingkat itu. Abangnya tertinggal beberapa langkah di belakang sana. Mata Hasna mulai melirik kesana kemari. Mencari benda-benda yang menarik perhatiannya. Namun, nampaknya perut Hasna minta diisi. Cacing-cacing didalamnya sudah demo besar. MAKAN..!! MAKAN..!! MAKAN..!! Jangan kira, Hasna yang tubuhnya mungil itu, ternyata memiliki selera makan yang besar loh! Ckckck.. Luarr biasa..


Hasna berbalik ke belakang mencari sosok sang dewa yang ternyata adalah abangnya. Netranya berkeliling kesana kemari mencari keberadaan sosok lelaki tampan itu.


Klik! Ketemu!


" Abaaang, buruan donk jalannya, kok lambat amat sih! Kayak keong aja.. Ckckck... " Ujar Hasna bikin Bete abangnya.


" Kamu tuh Hasna, jalanmu kayak kereta api aja, nyelonooong aja kagak ada rem nya! " Tukas sang abang bikin Hasna melotot sambil berkacak pinggang.


Ikhsan cuma menggelengkan kepalanya sambil nyengir kuda.


" Bang, ayok makan dulu. Hasna butuh energi buat melampiaskan hasrat shoping disini. Iya khan? Ha...ha...ha...! "


Mereka pun segera pergi menuju outlet makanan yang berjejer disana. Setelah menemukan menu masakan yang pas dilidah, mereka menjejakkan kaki menuju kesana dan menjatuhkan tubuh mereka di sofa yang tersedia untuk para pengunjung.


Seorang pelayan pun mendatangi mereka sambil menyerahkan buku menu. Hasna terlihat sangat teliti namun tetap bersemangat memilih beberapa menu yang tersedia disana.


Pesanan pertama... pesanan kedua... pesanan ketiga... dan seterusnya membuat sang abang terheyak melihat polah adiknya tersebut... Ikhsan tak mampu menahan rasa kagetnya melihat pesanan sudah diluncurkan dari mulut kecil adiknya tersebut : " Hey dek, istighfar, banyak sekali pesanan mu.. Ya ampun, emangnya habis itu makanan segitu banyaknya? " Ujan Ikhsan sambil menepuk jidatnya sendiri.


Hasna terlihat tak perduli, hanya melirik kepada sang abang. Kemudian dengan lincahnya jemari Hasna menunjuk ini, ini dan itu di buku menu. Sang pelayan dengan sabar dan ramah mengiyakan pesanan konsumen rakus tersebut.


Namun, ditengah keasyikan Hasna memilih menu, Ikhsan mengingat sesuatu. Ya, bekal makannya tertinggal di dashboardnya mobilnya. Bekal makan masakan sang mama terasa lebih enak dilidahnya dibandingkan makanan luar ini. Karena masakan mamanya menggunakan bumbu cinta saat dimasak. Ciyeeee! Rasanya lezat. Lidahnya dibuat bergoyang saat menyantap menu masakan mamanya tersebut. Ikhsan pun berinisiatif mengambil bekal makannya tersebut di mobil.


Ikhsan : " Dek, Abang mau ke basement dulu yah, sebentar aja. Abang mau ambil bekal makan yang tertinggal di mobil. Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana! " Tukasnya.


Sang adik hanya menggelengkan kepalanya tanda mengerti atas instruksi dari sang abang tercinta.


Ikhsan pun sigap melangkahkan kakinya menuju basement mobil.


#Flashback on


Safira dengan semangat melangkahkan kaki menuju mall tersebut bersama sang mommy. Namun baru saja ia masuk ke outlet sepatu brand ternama, untuk memuaskan dahaga shopingnya, handphone sang mommy berdering. Ternyata itu adalah panggilan dari tim pengacara sang mommy yang mengharuskan sang mommy menghadap ke kantor sang pengacara tersebut. Entah ada urusan apa, Safira tidak mengerti. Yang jelas, sang mommy harus meninggalkannya sendiri di mall. Sang mommy membujuk sang putri tercintanya bahwa ia akan kembali secepat mungkin. Safira tak punya pilihan selain mengangguk setuju.


Dan disinilah ia sekarang, hanya sendirian. Tanpa sang mommy.


Safira berjalan gontai menuju cafe yang ada didekatnya, ia memesan segelas minuman dingin untuk meruntuhkan dahaga ditenggorokannya.


Baru seteguk ia menikmati minumannya, netranya menangkap sosok yang dikenalnya sedang berjalan menuju ke arahnya dengan tersenyum. Ya, itu adalah Virzha. Ia bertanya dalam hati, bagaimana Virzha bisa tau kalo dirinya ada disini. Dan, kenapa Virzha mudah menebak wajah Safira yang kala itu tertutup buku menu yang menghalangi wajahnya tersebut. Ia masih kikuk dan membiarkan lelaki itu mendekat kepadanya.


Selangkah, dua langkah, tiga langkah....... Safira makin menundukkan pandangannya. Satu detik, tiga detik, lima detik.......


Safira bingung, kenapa lelaki tersebut belum mendatanginya? Safira berusaha bersikap normal, dia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan menatap pemandangan di depannya. Ternyata, zonk! Tak lagi terlihat Virzha disana. Safira merasa sangat aneh, ia celingukan kesana kemari. Memastikan penglihatannya. Namun sejurus kemudian, ia melihat punggung Virzha yang kala itu mengenakan kaos hitam polos dan memakai jeans pendek terlihat menggandeng mesra seorang wanita! Ya, penglihatannya tidak mungkin salah.


Entah kenapa, ada dorongan sangat besaaarr sekali yang menuntun langkah kakinya untuk mengikuti lelaki yang notabenenya adalah pacarnya, yaa pacar baru seminggu. Itupun dia paksakan karena lelah akibat ulah Virzha yang mengejarnya setengah mati! Sehingga mengganggu hari-harinya. Safira berpikir, jika Safira menerima cinta Virzha, maka Virzha akan menghentikan berbagai aksi konyolnya itu. Ternyata, betul dugaan Safira, aksi konyol Virzha pun terhenti dengan sendirinya saat meereka resmi berpacaran. Setelah menyandang status pacaran pun, mereka seperti bukan pasangan kekasih. Jarang kontekan, jarang ketemuan apalagi nge-date!


Masih didera rasa penasaran, Safira mengikuti langkah kaki kedua sejoli itu menuju ke arah basement mall, sesekali ia harus bersembunyi dibalik tiang bangunan mall tersebut agar tidak terlihat oleh mereka, bagai seorang detektif yang sedang menguntit penjahat kriminal.


Ia menyaksikan bagaimana Virzha menggandeng mesra wanita seksi disampingnya, sesekali Virzha mencumbui pipi wanita itu sekalipun ditempat umum, ihh sangat menjijikkan!


Safira tidak mengenali wajahnya karena hanya melihat bagian belakang tubuhnya saja.


Langkahnya pelan tapi pasti menuju ke basement mall itu, ia bersembunyi dibalik tiang lebar nan tinggi menjulang di basement bawah tanah itu. Karena suasana sepi, sesekali Safira mendengar mereka bercengkrama mesra sambil bercanda selayaknya pasangan kekasih.


Sampai mereka tiba di dalam satu mobil yang Safira kenali, ya mobil milik Virzha.


Sudah hampir 10 menitan mobil itu tak kunjung berangkat, namun kejadian diluar pikiran Safira menjadi awal dari kenyataan pahit ini. Safira masih setia mengintip mereka yang entah berbuat hal jelek apa sehingga membuat mobil yang berhenti itu terlihat bergoyang-goyang sambil mengeluarkan suara desahan yang bergantian antara suara pria dan wanita. Sesak! Ya, rasanya sesak sekali perasaan Safira. Semoga suara wanita itu bukan suara orang yang sangat dekat dengannya. Safira memohon penuh harap. 'Tolong, jangan khianati aku...'