The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Sekolah Karate 1



Hari pertama kuliah belum aktif belajar seperti biasanya. Safira dan kawan-kawannya pulang lebih awal dari jadwal. Sejak kejadian ketika Safira hendak diganggu preman, Daddy Safira menjadi sangat waspada dan meningkatkan keamanan yang mumpuni untuk anak gadisnya. Mulai sekarang, Daddy menyiapkan mobil jemputan untuk anak gadisnya itu, supirnya Mang Ucit setia menanti anak majikannya itu di pelataran parkir kampus tersebut.


Sesampainya di rumah, Safira menuju kamarnya dan menjatuhkan dirinya di tempat tidur empuknya tersebut.


Safira mengisi waktu luangnya untuk berselancar di dunia maya, bukan untuk sekedar bermain gadget, Safira sedang gogling mencari sekolah karate. Sejak kejadian naas yang hampir menimpanya, Safira berencana untuk mengikuti kelas karate sebagai perlindungan diri jikalau ada hal buruk terjadi.


Safira sudah sangat beruntung ketika dua kali ia dalam keadaan bahaya, ada lelaki penyelamat itu yang menjadi pelindung dirinya.


Safira tak mau berharap lebih, takut sakit hati.


Setelah dirasa sekolah karate tersebut cocok dan terbaik, Safira segera menghubungi contact person nya dan mendaftarkan dirinya di lembaga sekolah karate itu.


Sedang asyik bermain ponsel, perlahan pintu kamarnya terbuka.


tok tok tok kreeekkk....


ternyata sang ibu sudah melempar senyuman manisnya ke arah Safira.


Mommy : " Haaii girl, are you happy in class? " Goda mommy sambil memeluk anak gadisnya.


Safira : " Hmm everything its okey mom... Don't worry... " Jawab Safira bermalas-malasan.


Mommy : " So, gimana Rey dan Virzha? " Selidiknya.


Safira : " I don't care mom, i won't remember them, its so hurt... " Safira sambil menghela nafas panjang dan begitu berat. Masih ada rasa sesak disana.


Mommy : " oke, i'am understand baby.. " Sambil mengusap pucuk kepala anak gadisnya itu.


Mommy : " Uunchh baby, that's good idea. Memang saat ini, lebih baik kamu isi waktu luang dengan hal positif, mommy yakin sedikit demi sedikit kegiatan itu akan mengikis semua rasa sedihmu dan heloooww lihat sisi baiknya, you're not only have a new friend but also the best experience.. " Mata mommy berbinar sekali.


Safira : " Yes mom. Aku akan semangat dan mulai menata hati dan hidupku.. "


Obrolan kami sejenak terhenti karena Daddy sudah ada diambang pintu sambil tersenyum menyaksikan keseruan ibu dan anak itu. Daddy datang mendekati kami dan membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang.


Daddy : " Hey girl, are you okey? "


Safira : " Hmm, exactly.. Kalo ada mom and dad here, i'am sure that i'll be fine.. " Jawabku mantap.


Seketika seisi ruang kamarku pecah dengan keseruan obrolan kami bertiga, semua menjadi terasa sangat hangat. Aku sangat bersyukur atas semua nikmat Allah yang sudah memberiku cinta, kasih dan kehangatan keluarga.


Tak henti aku berucap syukur.


Di penghujung hari, kami melewati waktu intens di belakang rumah menikmati pemandangan malam sambil memanggang steak dan aneka daging lainnya, yaah anggap saja ini acara barbeque ala-ala keluarga kami.


Tak lupa, si bibi pun ikut membantu dan bergabung bersama kami.


Bi Eylah terlihat sangat menikmati pula kebahagiaan yang kami rasakan.


Kami terlarut dalam suasana yang begitu syahdu.


Sejenak aku bisa tertawa lepas saat Daddy melakukan hal konyol di depan kami, tentu saja diiringi senyum sumringah mommy juga.