The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Kerumah mas Dafa



Bughh..


Syafa menutup pintu mobilnya dengan kasar. Ia menunduk, menenggelamkan wajahnya pada setir mobilnya.


" Hiks.. hiks.. " Ia terisak. Kembali menangis ketika mengingat apa yang terjadi. Ia tak habis pikir, papanya yang selama ini selalu membiarkan dia bebas memilih untuk hidupnya tiba tiba menjodohkannya dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.


10 menit berlalu, ia menyeka air matanya dan mulai menghidupkan mesin mobil. Syafa menarik self beltnya dan segera melajukan mobil mewah itu dengan kecepatan yang tinggi. Tujuannya hanya satu, menenangkan diri.


Cittt...


" Astaghfirullah " Pekiknya. Syafa tak terlalu fokus pada jalan hingga membuatnya hampir saja menabrak mobil lain yang hendak berbelok di depannya. Dengan panik ia keluar, memastikan jika sang empuh mobil tak kenap napa. Dari mobil sebelah juga tampak seorang pria keluar hendak menghampiri mobil Syafa.


" Syafa! " Ujarnya


" M.. mas Rivan? " Lirih Syafa. Rivan segera berlari mendekati Syafa.


" Astaga! Ternyata ini benar benar kamu Fa? " Ucap Rivan tak percaya. Syafa benar benar meluapkan kekesalannya hingga ia berkendara secara ugal-ugalan.


" Ehmm.. i.. iya mas " Jawab Syafa menunduk.


" Kamu mau kemana Fa? Kenapa kebut kebutan kayak tadi. Bahaya! " Peringat Rivan. Syafa hanya mengangguk tak berani mengangkat kepalanya.


" Maaf " Lirih Syafa.


" Berhati hatilah. Untung tadi kamu cepet ngerem, kalau nggak kita udah tabrakan. Oiya, kamu mau kemana malem malem gini Fa? "


" Ada urusan mas, ehmm.. kalo gitu aku permisi! Assalamualaikum " Ujar Syafa terburu buru seraya kembali ke dalam mobilnya. Rivan hanya geleng geleng kepala melihatnya.


" Ada urusan sepenting apa sih sampai harus kebut kebutan dijalan. Nggak takut bahaya apa?Syafa, Syafa!! " Gumam Rivan seraya kembali masuk kedalam mobilnya. Diam diam ia mengikuti mobil Syafa yang sudah melaju kencang didepannya. Sampai mobil itu berhenti disebuah rumah bertingkat dua yang mewah dan megah.


" Kenapa aku jadi ikutin Syafa ya? Apa karena aku khawatir sama dia? " Lirih Rivan. Ia tak mau ambil pusing dengan jalan pikirannya sendiri. Rivan membelokkan mobilnya dan kembali kerumahnya.


...*****...


Syafa melajukan mobilnya masuk kedalam halaman rumah itu tanpa menyapa atau hanya sekedar membuka kaca mobilnya ketika melewati penjaga didepan.


" Itu mobil nona Syafa kan? Tumben langsung masuk aja " Gumam penjaga itu seraya memperhatikan mobil Syafa yang kian mendekat dengan rumah utama.


Syafa mengambil tas ranselnya dan segera turun dari mobil. Tak lupa ia sedikit merubah penampilannya. Ia tak ingin kakak iparnya yang sedang mengandung jadi ikut kepikiran nantinya jika melihat penampilan Syafa yang kacau.


Ting.. tong..


" Assalamualaikum mbak " Ujar Syafa seraya mencium tangan Zahira yang membuka pintu


" Waalaikumsalam, masuk dek! " Jawab Zahira. Ia merangkul adik iparnya dan melangkah masuk kedalam rumah.


" Tumben malem malem kesini dek? Apa ada masalah? " Tanya Zahira. Syafa menggeleng.


" Apa mas Dafa ada mbak? " Tanya Syafa balik


" Mas Dafa ada jadwal operasi selepas maghrib tadi. Kemungkinan sebentar lagi pulang " Jawab Zahira.


" Besok aku mau balik ke Surabaya mbak, jadi rencananya mau nginep disini malem ini. Boleh kan mbak? " Tutur Syafa.


" Boleh dong dek, mbak seneng kalo kamu mau nginep disini. Mbak jadi ada temennya. " Jawab Zahira membuat Syafa tersenyum.


" Abang, Aak dan Mas beruntung memiliki pasangan yang menerima mereka apa adanya. Pasangan yang cantik tidak hanya cantik paras tapi juga hatinya. Apa aku juga bisa mendapatkan pasangan yang tulus seperti kakak kakak iparku ini ya Allah? " Batin Syafa.


" Fa!! Kok malah bengong sih " Ujar Zahira sembari mengibas ngibaskan tangannya didepan wajah Syafa.


" Eh.. iya mbak " Jawab Syafa gelalapan.


" Yaudah, mbak mau minta tolong sama bibi buat beresin kamar tamu. Kamu tunggu disini dulu ya " Syafa mengangguk. Zahira segera berlalu menaiki tangga dan menyuruh bibi yang bekerja dirumahnya untuk membereskan kamar tamu yang biasa ditepati Syafa ketika menginap.


Tak lam terdengar suara deru mobil masuk ke halaman rumah. Syafa bangkit dari duduknya dan segera menghampiri pintu utama.


Ceklek..


Dibukanya pintu besar itu dan langsung menampakkan sosok pria muda yang sedari tadi ia tunggu.


" Mas " Lirihnya seraya memeluk kakak laki lakinya itu. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang kakaknya dan kembali terisak.


" Adek!! Ada apa hem? " Tanyanya heran. Tidak biasanya Syafa datang tiba tiba apalagi di malam hari seperti ini.


" Mas.. A.. Aku hikss.. hikss.. " Syafa terisak. Dia tak sanggup mengatakan yang sebenarnya pada kakaknya. Dafa menepuk bahu Syafa, menenangkannya seraya menuntunnya masuk kedalam rumah. Tak lupa mengunci pintu rumah terlebih dahulu.


" Duduk " Ujar Dafa. Ia dan Syafa duduk di sofa ruang tamu tempat Syafa duduk tadi.


Zahira yang juga mendengar suara mobil suaminya hendak turun. Namun melihat kondisi adik iparnya yang sepertinya memiliki masalah membuatnya menghentikan langkahnya. Ia membiarkan kedua kakak adik itu menyelesaikan masalahnya. Karena Zahira sendiri tahu bagaimana kedekatan antara kakak adik itu.


" Semoga apapun masalah yang sedang kamu hadapi, bisa diselesaikan dengan baik dek. Mbak berharap kamu akan selalu bahagia " Gumam Zahira seraya melangkah kembali naik ke lantai dua.


Sedangkan Syafa masih terisak dipelukan Dafa. " Shutt.. tenangkan dirimu dek " Bujuk Dafa. Syafa terlihat sangat tertekan hingga perlahan suara isak tangisnya semakin pelan. Dafa menguraikan pelukannya dan menghapus air mata sang adik.


" Tenangkan dirimu dulu, baru cerita hem? " Syafa mengangguk. Ia mencoba mengontrol dirinya supaya tidak menangis lagi. " Oiya, mbakmu mana? " Tanya Dafa.


" Mas, udah pulang? " Sapa Zahira seraya turun tangga ketika Syafa sudah tidak terisak lagi seperti tadi. Dafa menyunggingkan senyumnya dan menganggukkan menjawab pertanyaan sang istri. Zahira bergegas mendekati Dafa dan mencium tangannya.


" Baru tadi nggak ketemu, tapi rasanya udah rindu banget " Ujar Dafa memeluk sang istri seraya mengelus pelan perut istrinya.


" Mas ada ada aja deh " Jawab Zahira dengan wajah merah merona.


" Mas, ada Syafa loh " Lirih Zahira. Dafa menoleh pada adiknya yang sedang tersenyum walau masih ada sisa sisa air matanya dipipinya.


" Hemm.. maaf ya dek! " Ujar Zahira merasa tak enak pada adik iparnya. Ia lantas melepas pelukannya pada Dafa. Syafa mengangguk.


" Oiya, kalau kamu mau istirahat langsung ke atas aja. Tadi kamarnya sudah dibersihin sama bibi. Mbak mau nyiapin air buat mas kamu mandi dulu ya " Ucap Zahira lagi seraya melangkah kembali keatas.


" Air hangat aja sayang. Cuacanya dingin banget " Ujar Dafa


" Iya mas " Zahira melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dan menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.


" Istirahatlah, mas mau mandi dulu. Nanti mas temui adek dan adek harus cerita sama mas. Jangan menanggung beban sendiri dek. Kamu masih punya saudara tempat kamu bersandar " Tutur Dafa seraya mengelus pelan kepala Syafa yang tertutup hijab.


" Iya makasih mas " Syafa memeluk Dafa sebentar setelah itu ia melangkah menuju ke kamar tamu yang sudah dibersihkan oleh bibi yang bekerja dirumah Dafa.


Sementara Dafa langsung masuk kedalam kamarnya dan bergegas mandi.


...*****...


" Sayang, aku temui adek dulu dikamarnya ya " Ujar Dafa ketika ia dan Zahira baru selesai makan.


" Iya mas, kasihan Syafa. Dia pasti punya masalah yang berat sampai dia terisak kek gitu" Jawab Zahira


" Yaudah aku ke kamarnya Syafa dulu ya, abis ini kamu langsung masuk kamar. Istirahat! Ibu hamil nggak baik tidur terlalu malam " Oceh Dafa. Begitulah resikonya jika punya suami dokter.


" Siap pak dokter " Jawab Zahira. Dafa juga mengelus perut istrinya yang masih datar itu.


" Assalamualaikum anak abi, jangan nyusahin umi ya nak. Sehat sehat kamu didalam perut umi.. abi nggak sabar pengen ketemu kamu deh. " Sapa Dafa pada calon anaknya membuat Zahira terkekeh.


" Waalaikumsalam abi. Iya abi adek janji dedek nggak bakal ngusahin umi. Adek juga nggak sabar pengen ketemu abi dan umi. Adek sayang kalian " Balas Zahira menirukan suara anak kecil.


" Kamu ini ya " Dafa menarik pelan pipi istrinya.


" Mass! Sakit tahu " Rengek Zahira.


" Hehe.. maaf sayang. " Dafa mengecup kening istrinya sekilas lalu beranjak dari tempat duduknya.


...*****...


Tok.. tok.. tokk..


" Dek, ini mas! " Ujar Dafa dari balik pintu. Namun, tak ada jawaban dari Syafa. Hingga is mengetuk pintu untuk yang ketiga kalinya tapi tetap tidak ada jawaban dari Syafa.


" Semoga tak terjadi apa apa sama kamu didalam dek " Gumam Dafa. Akhirnya ia mencoba membuka pintu kamar itu.


Ceklekk..


Beruntung pintu kamar itu tidak terkunci. Dafa segera masuk.


" Dek! " Panggil Dafa. Tetap tak ada sahutan dari dalam kamar membuat Dafa khawatir. Didalam kamar itu sepertinya kosong, tidak ada Syafa disana. Dafa berjalan menuju kamar mandi dan membukanya perlahan. Ia juga tidak menemukan Syafa di sana.


" Syafa " Teriak Dafa lagi. Ia hendak keluar kamar, tapi langkahnya terhenti ketika melihat pintu balkon kamar itu terbuka. Dengan cepat Dafa melangkah ke balkon. Dan benar saja, Syafa sedang duduk di kursi yang terletak di balkon seraya melamun. Entah apa yang ia pikirkan.


" Dek " Dafa menepuk pelan bahu Syafa membuatnya kaget.


" Astaghfirullah " Kaget Syafa. Ia menoleh kebelakang dan mendapati masnya yang sedang tersenyum. Dafa mendudukkan dirinya di samping Syafa. Ia merangkul pundak adiknya.


" Kamu mikirin apa sih? " Tanya Dafa. Mata Syafa mulai mengembun. Benar saja, ia tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari kakaknya yang satu ini. Syafa memeluk kakaknya seolah meminta kekuatan.


" Ada apa hem? Cerita sama mas " Ujar Dafa seraya mengelus pelan kepala Syafa.


" Mas!! A.. apa Syafa nggak berhak memilih pendamping hidup sendiri? " Lirih Syafa membuat Dafa heran. Kenapa tiba tiba adiknya bertanya seperti itu.


" Semua orang berhak untuk itu dek " Jawab Dafa pada akhirnya.


" Termasuk perempuan? " Tanya Syafa lagi. Dafa mengagguk.


" Tentu saja! Perempuan dan laki laki memiliki hak yang sama. Kenapa tiba tiba kamu tanya kayak gitu dek? " Ujar Dafa. Syafa melepas pelukannya dan menatap lekat kakaknya.


" Apa ada yang melamarmu dek atau ada seorang pria yang kamu cintai? " Tanya Dafa lagi. Syafa menggeleng pelan. Rasanya tak sanggup ia mengatakan yang sebenarnya pada Dafa.


" Lalu? "


" Hikss.. hikss.. se.. sebenarnya papa mau men.. jodohkan Syafa mas " Jawab Syafa setelah sekian lama terdiam.


" Apa? " Kaget Dafa.


" Syafa harus apa mas? Hiks.. hiks.. Sya.. fa nggak bisa terima, hiks.. hiks.. " Syafa semakin terisak. Dafa semakin tak tega melihat Syafa begitu. Ia kembali menarik adiknya kedalam pelukannya.


" Kenapa kamu nggak terima dek? Apa ada seseorang yang kamu cintai? " Tanya Dafa perlahan. Syafa menggeleng.


" Kalau gitu kenapa kamu nggak coba untuk terima dek? " Dafa mencoba memberi pengertian kepada adiknya.


" Syafa nggak bisa mas! " Sarkas Syafa


" Kenapa? "


" Karena... "


To be continued!!!