The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Pengakuan



Sesampainya di Syafa Boutique, Rivan segera memarkirkan mobilnya. Setelah itu ia turun dan masuk kedalam.


" Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu " Sapa seorang karyawan pada Rivan yang baru masuk.


" Pagi, pemilik butiknya ada? " Tanya Rivan


" Nona muda ada diruangannya tuan. Apa tuan sudah buat janji? " Tanya karyawan Syafa


" Ehmm.. belum. Katakan saja padanya bahwa temannya yang bernama Rivan mau menemuinya " Ujar Rivan


" Baiklah, mohon tunggu sebentar tuan. Saya konfirmasi dulu dengan non Inka "


" Baik " Jawab Rivan kemudian duduk dikursi tunggu. Sedangkan karyawan tadi menelpon Inka untuk memberitahu kedatangan Rivan.


Setelah ada konfirmasi dari Syafa, karyawan itu kembali mendekati Rivan.


" Mari tuan, saya antar anda keruangan nona muda " Rivan mengangguk dan mulai mengikuti langkah karyawan itu.


Ting..


Lift berhenti dilantai 3, Dimana salah satu ruangannya adalah Ruangan Syafa. Rivan dan juga karyawan Syafa mulai melangkah keruangan Syafa.


" Selamat pagi tuan Rivan, mari nona muda sudah menunggu " Ujar Inka yang kebetulan berada didepan ruangan Syafa.


" Gio, kembalilah bekerja " Titahnya pada karyawan tadi


" Baik nona, kalau begitu saya permisi "


" Terima kasih ya " Ujar Rivan


" Sama sama tuan " Ujarnya berlalu pergi.


Tok.. tok... tok..


" Masuk " Inka dan Rivan pun masuk setelah mendengar perintah dari dalam.


" Maaf nona muda, tuan Rivan sudah sampai. Saya permisi dulu " Ujar Inka. Syafa mengangguk.


" Hai nona muda, apa kabar? " Tanya Rivan setelah Inka pergi.


" Seperti yang anda lihat tuan. Saya baik baik saja " Ujar Syafa yang masih fokus pada laptop didepannya.


" Hemm.. iya iya " Ujarnya sembari mendekat dan duduk dikursi yang berhadapan dengan meja Syafa.


" Oiya tuan muda, selamat ya atas kelulusannya" Ujar Syafa


" Terima kasih nona, kapan giliran anda? " Tanya Rivan


" Secepatnya " Balas Syafa singkat.


" Hahahah "Sontak keduanya tertawa bersamaan


" Lucu juga ya kalau kita bicara formal kayak tadi " Ujar Syafa


" Iya, serasa ngomong sama rekan kerja " Sambung Rivan.


" Ehmm.. kamu sibuk nggak? " Tanya Rivan


" Lumayan, kenapa emang? "


" Makan siang diluar! Ada yang mau aku bicarain sama kamu " Ujar Rivan


" emm.. aku usahain "


" Baiklah, aku tunggu disini "


" Loh? Inikan masih pagi "


" Nggak papa "


" Emang kamu nggak ada kerjaan apa? "


" Nggak "


" Hemm.. terserah " Ujar Syafa kembali fokus pada laptopnya. Sedangkan Rivan beranjak ke sofa yang ada diruangan Syafa.


Tok.. tok.. tok..


Kembali pintu diketuk dari luar.


" Masuk " Ujar Syafa.


" Maaf mengganggu nona muda, saya hanya mengingatkan 1 jam lagi klien kita dari MO Company akan datang " Ujar Inka


" Terima kasih sudah mengingatkan Inka, kamu siapkan saja semuanya " Titah Syafa


" Baik nona "


" Oiya, apa ada pertemuan dengan klien yang lain lagi hari ini " Tanya Syafa


" Jam 11.30 nanti ada tuan Ditya fitting baju pengantin bersama calonnya, dia ingin bertemu anda langsung nona. Selebihnya tidak ada " Jelas Inka


" Baiklah terima kasih Inka, kamu boleh kembali keruanganmu " Perintah Syafa


" Baik nona, permisi " Syafa menggangguk dan Inkapun keluar.Syafa segera melanjutkan pekerjaannya.


12.30


Pertemuan dengan klien terakhir sudah selesai. Kini Syafa segera membereskan berkas dimejanya. Setelah itu ia melangkah ke mushola kecil di butiknya bersama Rivan untuk sholat.


" Makan siang diluar " Ujar Rivan


" Ta.. "


" Ck, dasar tuan muda. Bisanya cuma memaksa" Gerutu Syafa


" Sudah takdirnya begitu " Jawab Rivan santai. Meski kesal, namun Syafa masih mengikuti Rivan dari belakang.


" Naik mobilku " Ujar Rivan memerintah


" Huh! Iya iya terserah " Kesal Syafa kemudian naik. Rivan segera melajukan mobilnya menuju ke salah satu restoran mewah di kota. Lima belas menit kemudian mereka sampai. Rivan segera memarkirkan mobilnya di parkiran. Setelah itu mereka turun dan berjalan berdampingan menuju resto.


" Mau pesen apa? " Tanya Rivan


" Samain aja " Jawab Syafa


" Yakin nih? "


" Iya " Rivan memanggil pelayan dan memesan menu makanan yang biasa ia makan sebanyak dua porsi. Sesuai keinginan Syafa. Tak lama pesanan mereka datang. Selesai makan, Rivan membawa Syafa pergi kearah taman kota yang tak jauh dari restoran mewah itu.


" Fa, ada yang mau aku bicarain sama kamu " Ujar Rivan setelah mereka duduk di sebuah bangku.


" Ngomong apa mas? " Tanya Syafa


" Jujur..em.. se.. sebenarnya " Rivan menjeda ucapannya. Ia menghela napas panjang.


" Sebenarnya aku kagum sama kamu " Ujar Rivan. Sedangkan Syafa diam sembari menunggu kata kata selanjutnya yang akan diucapkan Rivan.


" Dari dulu waktu kita pertama bertemu dikampus kamu. Jujur, aku cemburu liat kamu deket sama pria lain. Aku marah waktu kamu jalan sama pria. Tapi maaf, aku nggak bisa mendefinisikan perasaanku ini sebuah cinta karena menurutku kagum dan cinta adalah dya hal yang berbeda " Rivan melirik Syafa yang sepertinya bersikap biasa biasa saja.


" Maaf kalau aku lancang, tapi aku harap setelah ini hubungan kita tetap seperti dulu. Tolong jangan menjauh atau marah padaku " Ujar Rivan. Syafa tersenyum.


" Untuk apa aku marah mas. Aku rasa wajar kalau kita kagum sama seseorang. Itu sudah fitrahnya manusia. Kagum dan Cinta adalah karunia dari yang kuasa yang tak bisa kita pilih pada siapa hal itu berlabuh " Jawab Syafa bijak.


" Kamu benar. Maka dari itu aku ungkapkan langsung dihadapanmu supaya saat aku pergi nanti, Aku lega karena sudah mengatakan yang sebenarnya. Dan aku berharap nantinya rasa kagum ini akan berubah jadi cinta " Ujar Rivan tersenyum


" Pergi? emang mas Rivan mau kemana? " Tanya Syafa


" Besok aku akan berangkat ke Kanada "


" Kanada? Ngapain? " Tanya Syafa


" Biasa, urusan perusahaan "


" Oiya, ini aku punya sesuatu untuk kamu sebagai kenang kenangan buat kamu. Tunggu bentar" Ujar Rivan sembari mengambil sebuah kotak berwarna merah berukuran sedang dari dalam mobilnya. Kemudian ia kembali ke tempat Syafa duduk.


" Ini " Ujarnya lagi sembari memberikan kotak itu pada Syafa


" Apa? " Tanya Syafa


" Buka aja dulu " Jawab Rivan. Syafa segera membuka kotak itu. Tampaklah sebuah gelang berwarna kuning keemasan yang sangat cantik dan indah. Dilapisi dengan emas dan permata cantik yang bertebaran disetiap sisinya.


" Simpan saja itu sebagai kenang kenangan dariku " Ujar Rivan


" Wahh cantikk banget.. makasih ya mas " Ujar Syafa


" Sama sama " Jawab Rivan tersenyum.


" Kamu tahu, gelang itu sangat berarti buat aku" Ucap Rivan


" Kenapa? " Tanya Syafa


" Karena gelang itu aku beli dari gaji pertama aku setelah jadi pimpinan perusahaan yang aku bangun itu " Jelas Rivan


" Dan yang kamu beli adalah gelang perempuan? " Tanya Syafa sedikit tergelak


" Iya, aku juga nggak tahu kenapa? Tapi yang pasti aku berniat memberikan gelang itu pada wanita spesial yang aku cintai. Dan aku rasa kamu pantas mendapatkannya. Karena tak ada seorang wanitapun yang bisa membuat aku kagum dan bahkan nanti CINTA " Ujar Rivan. Syafa membelalakkan mata mendengarkan ucapan Rivan.


" Eh.. nggak udah dipikirin ucapan aku tadi " Ujar Rivan lagi


" hemm... okelah "


" Ehh tapi nomor hp kamu nggak berubah kan mas? " Tanya Syafa


" Insyaallah nggak kok " Jawab Rivan


" Yaudah udah siang banget ini, anter aku kebutik lagi ya. Sekalian ada yang mau aku kasih ke kamu " Ujar Syafa


" Hemm.. baiklah ayo "


°°°°°°°°°°°°°


Syafa Boutique


" Ini hadiah dari aku mudah mudahan kamu suka ya mas " Ujar Syafa memberikan paper bag pada Rivan.


" Apa ini? "


" Itu adalah jas terbaru rancangan aku yang rencananya satu minggu lagi mau launching " Ujar Syafa


" Wah, eksklusif nih dapetnya " Ujar Rivan


" Iya, dan aku harap mas Rivan bisa lebih semangat lagi kerjanya " Ujar Syafa


" Oke, makasih ya "


" Sama sama "


" Oiya, thanks for today. You are the best friend for me, " Ujar Rivan sembari beranjak dan kelur dari ruangan Syafa


" Sure, see you next time " Ujar Syafa tersenyum.


To be continued!!!