
Syafa membuka laci meja kerjanya dan mendapati sebuah undangan yang diberikan Bimo dan Jihan beberapa hari lalu.
" Benar, hari ini akad nikahnya kak Bimo dan kak Jihan. Apa sebaiknya aku dateng hari ini aja ya? Nggak enak juga kalau aku nggak dateng sama sekali " Gumam Syafa memperhatikan undangan itu. Setelah lama berpikir, ia memutuskan untuk pergi ke acara akad nikah Bimo dan Jihan. Syafa mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
" Anin, tolong bawakan saya satu buah gaun tertutup. Jangan lupa hijabnya. Saya mau menghadiri acara pernikahan " /Syafa
" Baik nona "
Setelah mematikan panggilannya, Syafa kembali menelpon manager mall milik keluarga Ferdian dan menyuruhnya menyiapkan sebuah bingkisan untuk Bimo dan Jihan yang kemudian diantar ke butiknya.
Tok...tok...tokk..
" Masuk " Pintu ruangan Syafa terbuka. Dan karyawati yang bernama Anin masuk kedalam.
" Maaf nona, ini gaun yang nona minta " Ujar Anin seraya menyerahkan sebuah gaun tertutup berwarna gold yang simple tapi terkesan mewah. Tak lupa pula hijab pasmina dengan warna senada.
" Iya, terima kasih Anin. Kamu boleh kembali kerja " Syafa mengambil gaun itu dari Anin dan segera masuk kedalam private room nya untuk berganti pakaian. Sementara Anin kembali bekerja.
20 menit kemudian, Syafa sudah selesai berdandan. Ia keluar dari private room dan mengambil tas serta handphonenya. Setelah itu ia melangkah keluar dari ruangannya.
" Inka, saya ada urusan sebentar. Titip butik ya! Kalau ada apa apa hubungi saya " Ujar Syafa
" Baik nona " Jawab Inka. Syafa segera melangkah keluar butiknya. Ia mengambil mobilnya di parkiran dan melajukannya.
" Jln. Diponegoro no. 214. Berarti dirumahnya kak Jihan " Gumam Syafa seraya memperhatikan undangan yang ia bawa.
...*****...
Syafa sudah sampai di rumah Jihan, tempat Bimo dan Jihan mengadakan acara akad nikah. Ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah Jihan berjejer dengan mobil mewah lainnya.
" Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu" Seorang bodyguard mendekati Syafa
" Ehmm.. siang! Saya mau bertemu dengan kak Bimo dan kak Jihan. Apakah mereka ada? " Jawab Syafa seraya menunjukkan undangan pernikahan Bimo dan Jihan kepada bodyguard itu.
" Mereka ada di halaman belakang " Bodyguard itu menunjuk tempat diadakannya akad nikah Bimo dan Jihan.
" Baiklah, saya kesana dulu! Terima kasih " Sahut Syafa. Ia mengeluarkan kado yang sudah dipersiapkannya di jok belakang mobil. Kemudian ia berjalan ke halaman belakang rumha Jihan setelah sebelumnya mengunci mobilnya lagi.
Halaman belakang yang luas didekorasi dengan sangat apik sehingga terkesan mewah walaupun tak terlalu banyak pernak pernik yang dipakai untuk menghias halaman itu. Pernikahan itu mengusung tema negri dongeng yang terasa sangat nyata. Acara akad saja sudah dibuat semegah ini walau dilaksanakan dirumah. Bisa dibayangkan bagaimana saat resepsi besok?
Syafa disambut hangat oleh keluarga Jihan dan juga Bimo. Ia tersenyum melihat kedua mempelai duduk bersanding di pelaminan dengan senyum merekah dibibir keduanya. Terlihat sangat bahagia. Syafa menghampiri mereka di atas pelaminan.
Syafa menyalimi orangtua Bimo yang mendampingi mereka di pelaminan. Selanjuthya baru kepada kedua pengantin baru itu.
" Selamat ya kak Bimo, kak Jihan. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah warahmah. Semoga jadi pasangan yang till jannah. Pokoknya langgeng sampai kakek nenek. " Ujar Syafa seraya bersalaman dengan Bimo. Bimo tersenyum.
" Makasih ya Syafa " Ucap Bimo. Syafa mengagguk dan beralih memeluk Jihan.
" Makasih Fa! " Jihan menangis haru mendengar doa dari temannya yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.
" Sama² kak. Ini Syafa bawakan kado buat kalian. Semoga kalian suka ya " Ujar Syafa setelah melepas pelukannya dan menyodorkan kado yang ia bawa pada Jihan.
" Yaampun nggak usah repot² Fa. Kamu dateng aja kami udah seneng kok " Jawab Jihan.
" Nggak papa kak, nggak repot kok. Oiya, maaf ya kak besok Syafa harus balik ke Surabaya. Ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalkan. Jadi aku nggak bisa dateng keacara resepsi kalian. Maaf ya!! " Ucap Syafa.
" Mau gimana lagi, desainer terkenal kayak kamu memang sibuk. Belom lagi jadi CEO Ferdian Jewelry " Ledek Bimo. Syafa tersenyum kecut mendengarnya.
" By, jangan gitu! " Sahut Jihan. Bimo terkekeh.
" Yasudah kalau gitu Syafa pamit ya kak " Pamit Syafa pada kedua mempelai
" Iya Fa, hati hati dijalan " Jawab Jihan.
" Salam buat Rivan ya " Ledek Bimo membuat Syafa mendengus kesal. " Apaan sih kak " Jihan langsung mencubit pinggang suaminya saking gemasnya. Syafa menyapa kedua orangtua Jihan, setelah itu ia langsung turun dari pelaminan.
...*****...
" Kayak kenal " Gumam Syafa ketika berada diparkiran rumah Jihan sembari memperhatikan seorang pria yang tengah menelpon seseorang. Syafa memutuskan untuk menghampiri pria itu.
" Mas Rivan " Panggilnya. Pria yang dipanggilnya Rivan itu menoleh.
" Handle semuanya! Kita lanjutkan nanti " Setelah mengatakan itu, pria itu menghampiri Syafa yang sudah berdiri tak jauh darinya.
" Syafa, kamu disini? "
" Iya, aku baru aja mau pulang setelah ketemu kak Jihan dan kak Bimo didalam " Jawab Syafa
" Aku juga diundang sama Bimo. Karena besok aku harus keluar kota, jadi aku hadir hari ini " Ujar Rivan. Syafa mengagguk.
" Yaudah kalau gitu aku duluan ya mas " Syafa melenggang pergi setelah rasa penasarannya terjawab.
" Syafa tunggu!! " Pekik Rivan. Syafa yang baru melangkah sejengkal dari Rivan berhenti dan kembali menoleh. " Iya?! "
" Hemm.. Syafa, bisa kita bicara setelah ini. Sebentar saja " Pinta Rivan sedikit memohon.
" Baiklah, di taman kota " Jawab Syafa.
" Iya, tunggu sebentar aku menemui pengantin dulu " Rivan bergegas masuk dan menemui Bimo dan Jihan.
...©©©...
" Mau bicara apa mas? " Tanya Syafa. Kini mereka sudah sampai di taman kota dan duduk di salah satu bangku taman.
" Ehmm..Syafa maaf kalau aku lancang, tapii jujur aku sudah nggak bisa sembunyiin perasaan ini lagi.. " Rivan terdiam sejenak. Ia berusaha menata kata yang akan ia ucapkan di depan Syafa. Sedangkan Syafa sudah sangat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan.
" Sebenarnya akuu ehmm.. aku suka sama kamu. Mau nggak kamu menjalani ta'aruf sama aku. Kalau kamu bersedia, aku akan datang kerumah orangtuamu untuk memintamu. " Akhirnya kata kata yang ingin dilontarkannya keluar juga.
Degg!!
" Ma..s maksudnya? " Syafa mendadak ambigu. Sungguh sangat mengejutkan baginya.
" Ehmm.. iya!! Syafa akuu cintai sama kamu " Jelas Rivan gugup. Ia pun merasa deg degan. Baru kali ini ia mengungkapkan isi hatinya pada seorang gadis. Bahkan berkata ingin menjalankan ta'aruf.
Syafa menatap Rivan. Jantungnya juga berdebar kencang. Entah apa penyebabnya, Syafa sendiri tidak mengerti. Dalam lubuk hatinya merasa sedikit bahagia. Tapi disisi lain ia merasa bersalah karena jika mengingat pernikahan, Syafa kembali teringat permintaan papanya yang mau mengenalkannya pada Ando. Rasanya sangat sulit menolak permintaan papanya walaupun malam itu ia pergi dari rumah.
" Mas Rivan, maaf!! Jujur aku merasa sedikit bahagia mendengar penuturan mas Rivan tadi. Tapi.. aku rasa kita hanya bisa menyimpan rasa itu. Karenaa ehmm.. papa mau menjodohkan aku dengan anak sahabatnya. Maaf mas " Lirih Syafa sudah berkaca kaca. Ia berada diposisi yang sangat berat. Antara menerima permintaan papanya atau menerima pinangan dari pria yang sudah sangat baik padanya. Pria yang secara diam diam sudah berhasil menempati sedikit ruang dihatinya. Walaupun dia sendiri yang belum menyadarinya.
Duarrr
Bagai tersambar petir disiang bolong. Hati Rivan hancur berkeping keping mendengar ucapan Syafa. Padahal dari tadi malam ia sudah meyakinkan hatinya untuk mengungkapkan perasaannya pada Syafa setelah. Bahkan ia ingin langsung menemui kedua orangtua Syafa untuk meminta restu. Tapi ia dihadapkan pada kenyataan bahwa Syafa akan dijodohkan oleh kedua orangtuanya.
" Maafin aku mas.. maaf jika perkataanku melukai perasaan mas Rivan. Aku juga bimbang jika dihadapkan pada kenyataan ini mas. Papa ingin sekali mengenalkan aku pada anak sahabatnya sampai sampai aku pergi dari rumah kemarin malam. Bahkan telpon dari papa pun aku abaikan karena aku nggak siap bicara sama papa. Jujur aku ingin sekali menolak tapi aku juga nggak tega liat wajah kecewa papa... " Syafa mulai meneteskan air matanya.
" Mas Dafa menyarankan aku untuk sholat istikharah, tapi aku belum melakukannya. Andai mas Rivan lebih dulu mengutarakan perasaan mas sama aku mungkin aku dengan senang hati akan menerima mas Rivan daripada menerima perjodohan dengan orang yang bahkan belum aku kenal sama sekali " Syafa mengusap air matanya dan melirik kearah Rivan yang terdiam mendengar penuturan Syafa. Rivan tersenyum kecut.
" Mungkin aku memang pengecut Fa. Aku bahkan baru berani mengungkapkan perasaanku sekarang. Jangan nangis, aku rasa memang kita nggak jodoh ya " Ujar Rivan tertawa hambar.
" Maaf!!! " Cicit Syafa menunduk. Rivan mengagguk. Ia paham Syafa juga merasa sedih sebenarnya. Tapi Syafa tidak mau terlalu menunjukkan rasa sedihnya.
" Tunggu sebentar " Rivan segera berlari menuju mobilnya. Syafa hanya menatap sendu kepergian Rivan.
" Baru beberapa hari kita ketemu dan aku sudah menorehkan luka yang dalam padamu mas " Batin Syafa gunda.
Rivan kembali dengan membawa 3 paper bag yang berbeda. Ia kembali duduk di samping Syafa dan menyerahkan 3 paper bag itu pada Syafa.
" Aku ngerti perasaan kamu Fa. Walaupun kita nggak bisa bersama setidaknya kita bisa berteman seperti dulu kan? Dan ini tolong terimalah. Kamu tahu, 3 tahun terakhir ini aku selalu berharap kita bisa bertemu. Dan bisa memberikan ini, kado ulangtahun yang aku siapkan untukmu di hari ulangtahunmu Fa. Dan siapa sangkah ternyata kita dipertemukan lagi di kota ini. Kota kelahiran kita. Anggap saja sebagai kenangan dariku " Ujar Rivan seraya menyerahkan paper bag itu pada Syafa. Syafa tercengang dan sepersekian detik kemudian ia menerimanya.
" Makasih mas " Ucap Syafa.
" Oiya, aku juga punya sesuatu untuk mas Rivan" Syafa beranjak dari duduknya dan segera kembali kemobilnya.
" Apa aku benar benar tak memiliki kesempatan untuk memilikinya ya Robb? Jika dia memang bukan jodohku maka bantulah aku mengikhlaskan dia untuk jodohnya. Tapi jika dia diciptakan untuk menjadi tulang rusukku maka dekatkanlah ya Robb " Batin Rivan menatap sendu punggung Syafa yang kian menjauh.
Tak lama Syafa kembali dengan membawa 3 paper bag seperti Rivan tadi membuat Rivan mengerutkan dahinya.
" Mungkin ini terdengar konyol bagi mas Rivan. Tapi itulah kenyataannya, aku juga selalu menyiapkan kado dihari ulangtahunmu. Padahal aku juga nggak tahu kita bisa ketemu lagi apa nggak. Hemm.. tapi ya sudahlah itu hanya jadi cerita hidupku. Mohon diterima ya mas " Ujar Syafa terkekeh seraya menyerahkan paper bagnya pada Rivan.
" Memang benar kata orang, kalau kita berbuat baik. Kebaikan itu akan kembali pada kita. Benar saja, belom sampai satu jam tiga paper bag kembali lagi padaku " Canda Rivan mencairkan suasana. Syafa juga ikut tertawa mendengarnya.
" Mas Rivan benar!! " Jawab Syafa lugas.
" Ehmm...Syafa! Maaf aku harus pamit, aku ada meeting dengan klien setelah ini " Pamit Rivan seraya melirik jam tangan mahalnya.
" Iya mas! Hati hati " Rivan beranjak dari duduknya. " Aku harap setelah ini kita masih bisa temenan kayak biasanya Fa! Jangan terlalu dipikirkan ucapanku tadi. Kalau kita berjodoh pasti ada jalannya " Ujar Rivan. Syafa tersenyum seraya mengangguk.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
To be continued!!!