The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Kisah mommy dan Daddy 1



Tau apa yang terjadi di atas sana? Ya, dikamar Ikhsan. Ikhsan tak kuasa menahan gejolak hatinya sedari tadi, ia menumpahkan perasaan nya yang bercampur aduk itu dengan melompat-lompat di atas kasurnya sambil berteriak : AKULAH SANG LELAKI PENYELAMAT Whahahahhahaha..... Sambil menirukan gaya superhero di TV yang ia nyalakan.


Tetapi dalam kehebohan nya itu, ia tetap berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendekati gadis itu?


Apakah perasaan membuncah ini disebut CINTA?


______________________________________________


Rumah Safira


Pukul 8 malam waktu setempat


Safira sedang menghabiskan waktu bersama orangtuanya di ruang keluarga. Sambil menyandarkan kepalanya di pangkuan sang mommy dan menikmati cemilan serta mendengarkan obrolan ringan orangtuanya.


Mommy : " So, tell me about your new activity, girl? Tanya sang mommy.


Safira : " Umm so far so good mom. Everything its okey. I soo happy mom, finally i get a new friend.. "


Mommy : " Eumm really? its good. Who's the name? "


Safira : " Her name is Hasna, mom! " Jawabnya bersemangat.


Tiba-tiba sang Daddy mendudukkan tubuhnya di dekat ibu dan anak itu.


Daddy : " Fira, ada yang mau Daddy bicarakan. Ini bukan hal serius, tapi sekarang kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah mulai beranjak dewasa dan harus memahami beberapa hal.. " Airmuka Daddy nampak serius.


Safira : " Any problem, dad? "


Daddy menggeleng sambil tersenyum tipis.


Daddy : " Daddy cuma mau cerita gimana awal pertemuan dad and mom, anggaplah ini kisah kami.. "


Safira melirik ke arah mommy, wajah mommy terlihat merona bersemu merah. Mommy menunduk dan menahan senyum manisnya.


Safira malah ingin menggoda orangtuanya.


Safira : " Ciyeee ciyeee nostalgia nih ceritanya, hahahhaha.... " Safira mencolek lengan mommy.


" Oke deh, Fira akan mulai jadi pendengar setia cerita Dad and mom.. " Sambil mengedipkan mata ke arah sang mommy. Mommy terlihat makin salah tingkah digoda anak gadisnya itu.


Daddy mulai bercerita....


Flashback on


Raden Gumilar Wijaya melangkahkan kakinya dengan mantap menuju ke terminal dimana ia hendak naik bis menuju ke kampung halamannya. Sudah hampir setahun ia tak pulang kampung karena sedang fokus latihan dan melewati ujian akhir akademi militer di kota XX. Gumilar sudah lulus di akademi militer yang menjadikannya kini salah satu tentara yang kelak akan mengabdi untuk negara ini. Namun saat ia melihat area mesjid yang ada di kota itu dan sudah terdengar adzan Isya berkumandang, ia pun memutuskan untuk melaksanakan sholat isya dulu agar perjalanannya selamat sampai tujuan.


Setelah selesai sholat isya, ia bergegas menuju jalan raya karena akan segera kembali menaiki mobil bis jurusan ke kampung halamannya. Tak tahan rasanya ia segera kembali pulang kerumah, tentu saja ia ingin segera melepas rindu kepada orang tua dan adiknya di rumahnya yang penuh dengan kehangatan.


" Tolong.... toloooong..... "


Gumilar menghentikan langkah kakinya dan memutar balik arah jalannya menuju sumber suara itu. Ternyata, tepat di belakang mesjid yang baru saja ia datangi untuk menunaikan sholat Isya, disana ada pemandangan yang mengejutkan. Gumilar melihat seorang perempuan yang dikelilingi oleh preman sebanyak 5 - 6 orang yang memiliki perawakan besar dan tinggi. Sepertinya perempuan itu korban penculikan. Sadar ada tamu tak diundang, salah satu dari preman-preman itu menghampiri Gumilar.


" Hey bocah ingusan, ngapain loe ganggu pesta kami? Buruan pergi loe, sebelum gw jadiin pepes ikan... hahahahhaha " Omongan preman itu disusul oleh gelak tawa kawannya yang lain.


Gumilar tak gentar. Nuraninya memutuskan untuk menolong perempuan yang sudah terlihat ketakutan itu.


" Waduh bang, tau aja saya lagi laper sampe mau siapin pepes ikan, saya siapin nasinya boleh bang? Biar bacakan sekalian kita, hahahahha..... " Jawab Gumilar yang sontak membuat preman-preman itu marah dan langsung memasang wajah beringasnya.


" Dasar bocah brengsek, bikin ati gue panas aja luh.... !! " Jawab preman itu kasar. Dia mulai memasang ancang-ancang untuk memukul bagian kepala Gumilar tetapi gerakannya tak secepat Gumilar yang sangat agresif dan lincah.


Pertarungan antar lelaki yang tak imbang jumlah pun terjadi. Satu lawan enam.


Namun di pojokan sana, si perempuan terlihat sangat ketakutan. Wajahnya pias. Tubuhnya gemetar.


Hyaattt, brug.. !!


Bough... Aaakkhhh... Cyaattt... !!


Suasana terasa mencekam. Preman-preman itu terlihat kewalahan meladeni ilmu bela diri yang dikuasai oleh Gumilar.


Tak perlu membuang waktu, Gumilar dengan cekatan membawa perempuan itu lari dari sana saat preman-preman itu lengah. Namun satu dua preman itu sudah tumbang, lari tunggang-langgang dan merintih kesakitan. Yang lain menyusul kabur karena nyalinya menciut ketakutan saat melihat kegagahan bocah ingusan itu.


Gumilar kemudian membawa perempuan itu ke kantor polisi yang kebetulan letaknya tak jauh dari sana. Sontak para polisi yang berjaga menyambut mereka dengan sikap terbuka dan bersedia menolong mereka. Polisi itu menanyakan kronologis kejadian yang dialami oleh mereka. Sebagian petugas jaga memeriksa tempat yang diyakini menjadi tempat tindak kejahatan yang hendak mereka lakukan kepada korban. Sang perempuan terlihat masih sangat shock dan tertekan.


Singkat cerita, itulah awal pertemuan mereka. Gumilar dan Rossa. Akhirnya pertemuan itu mempertemukan mereka dengan cinta sejati yang berujung pada pernikahan.


flashback off


Safira manggut-manggut mendengar cerita mommy dan daddy nya. Terlihat daddy bergelayut manja dibahu sang istri. Hal itu membuat Safira cemburu dan risih.


Safira : " Hey dad, can you don't do that? Malu tau Fira liatnya... " Ujar Safira.


Mommy dan Daddy hanya tertawa melihat putri kecil mereka merajuk manja.


Daddy : " Biar saja lah, biar kamu tau kalo Daddy sayaaang sama mommy mu ini, hahahahha... "


Safira : " Oohh jadi cuma sayang mommy aja, ke aku gak sayang? " Safira memasang wajah cemberut.


Daddy : " Tentu donk, kami sayang sama Fira melebihi apapun didunia ini... " Katanya sambil mencubit pipi anak gadisnya dengan gemas.


Mereka tertawa bersama. Gelak tawa itu makin terdengar riuh saat orangtuanya memperdebatkan siapa yang pertama menyatakan cinta. Kata Daddy, tentu saja mommy yang jatuh cinta duluan sama Daddy. Mommy pun menyangkalnya. Entahlah Safira juga bingung melihat tingkah mereka.