
"Kamu mau ke rumah Papa?" tawar Raiz, kali ini mereka baru saja selesai dari kantor polisi, memberikan keterangan terkait tentang kasus Anisa.
"Emangnya kamu mau Ay?" tanya Jill.
"Aku sih ngikut!"
"Oke, aku keknya juga udah kangen sama Papa!" setuju Jill.
Lalu keduanya pun langsung pergi ke rumah utama tanpa pulang terlebih dahulu ke rumah, karena jalan kantor polisi itu memang searah menuju rumah utama, jadi Raiz berpikiran sudah lumayan dekat rumah mertuanya mengapa tidak sekalian berkunjung.
"Nggak pulang dulu?"
"Nggak, males balik lagi!"
"Ohh!"
Sebenarnya bukan tanpa alasan Raiz berniat mengunjungi Jason, karena dia memang harus menanyakan bagaimana kelanjutan rencana Jason yang akan mengundang anak-anak panti di H-2 acara ulang tahun ARAD Group. Jangan sampai ada miskomunikasi yang nantinya malah akan menyebabkan ketidaknyamanan. Raiz benar-benar harus menanyakan secara detil untuk meminimalisir kurangnya.
Semoga saja mertuanya itu tidak pulang larut hari ini, karena jika Jason pulang lumayan larut, Raiz tidak nyaman saja rasanya harus membicarakan hal yang sebenarnya bisa kapan hari.
Tiga puluh menit berlalu akhirnya mereka sampai juga di rumah utama, untung saja jalanan kali ini tidak macet, jadi mereka bisa sampai tepat waktu sebelum magrib.
"Assalamualaikum..." ujar Jill dan Raiz bersamaan.
"Waalaikumm salam warahmatullah!"
Shirleen begitu senang mendapat kejutan berkunjungnya Jill, ia langsung saja menghampiri dan memeluk anak bungsunya itu.
"Kok nggak bilang mau ke sini?" tanya Shirleen.
"Eh, nggak papa Ma, tiba-tiba aja Mas Raiz ngajakin, jadi yaaa aku setuju-setuju aja!" jawab Jill.
"Duh, jadi Raiz nih yang ngajakin? Kamunya nggak ada rencana mau ke sini?" goda Shirleen.
"Ada! Ada kok Ma, cuma aku ngerasa kan baru ke sininya, jadi nggak pernah nanya sama Mas Raiz, taunya Mas Raiz ngajakin, ya udah deh!" jawab Jill panik.
"Iya iya, Mama becanda kok!" Shirleen tergelak kecil, lalu menyuruh Raiz dan putrinya itu beristirahat sebentar karena habis perjalanan yang lumayan jauh.
Raiz menurut, ia memang lumayan lelah hari ini, sementara Jill, istrinya itu mengatakan ingin temu kangen dulu pada Mamanya.
"Aku mau bantuin Mama! Mama udah masak buat makan malam?" tanya Jill saat Raiz dmsudah beranjak ke kamar.
"Hemmm, keknya ada yang berubah deh dari anak Mama ini, kamu udah jadi lebih peduli ya, setelah sebelumnya nggak mau banget masuk dapur!" goda Shirleen lagi, dia bersyukur karena nyatanya memang benar, Raiz tentunya akan bisa membawa dampak yang baik buat Jill.
"Benar?"
"Ih Mama nggak percayaan banget!" kesal Jill.
"Hahaha, abis kamu sih Jill, kamu itu dulu ke dapur aja nggak mau selain makan, gimana Mama nggak bertanya-tanya coba? Emangnya kamu udah pernah masak buat Raiz?"
"Belum!" jawab Jill pasti, tanpa dosa.
"Lho, Mama kira udah, semangat banget mau bantuin Mama!"
"Ya ini kan maksud aku mau belajar! Mama ajarin dong!"
"Jadi, selama ini siapa yang masak di rumah kalian?" tanya Shirleen, jangan-jangan Raiz lagi yang masak pikir Shirleen.
"Eemmm, Mas Raiz!" jawab Jill malu-malu, "Ya mau gimana lagi, aku kan nggak bisa masak! Tapi dia nggak keberatan kok Ma, dia sendiri yang bilang, katanya suka masak!" membela diri, jangan sampai terlalu kentara kesalahannya kali ini.
Shirleen tersenyum, "Enak banget ya jadi istri..." sindir Shirleen.
"Masak Raiz? Nyuci nyetrika, siapa? Ada pembantu atau Raiz juga?" selidik Shirleen.
"Emmm, laundry Ma!" jujur Jill.
"Celana d*lam kamu, bra? Siapa yang cuci, nggak mungkin loudry kan?"
"Emmm itu..."
"Itu apa? Jangan bilang Raiz juga yang nyuci?" cercah Shirleen.
"Hehehe... Iya Ma, emang Mas Raiz yang cuciin, tapi..."
"Istri durhakim emang kamu ya Jill, gimana bisa coba kamu biarin dunia terbalik di rumah tangga kamu, kalau masak nggak bisa, oke Mama masih bisa ngerti, maklum, tapi nyuci celana d*lam itu ya tinggal muter mesin cuci ya udah... Selesai! Masa iya harus Raiz juga? Malu-maluin kamu ini!" omel Shirleen, tidak habis pikir akan kelakuan Jill, gini nih kalau semuanya dari lahir udah diratukan, dirajakan, satu helai pakaian saja nggak pernah nyoba buat nyuci sendiri. Tiba-tiba pengen nikah muda, duhhh Tuhan... Jangan salahkan Bunda mengandung jika anaknya seperti ini!
Shirleen menatap Jill gemas, bukan gemas ingin memanjakannya, tapi percayalah ingin sekali rasanya Shirleen memberikan petuah panjang lebarnya, namun sayangnya tetap saja tidak bisa untuk mengomel terlalu pada gadisnya ini. Dan alhasil, akhirnya Shirleen hanya bisa tersenyum dipaksakan.
"Ada apa ini Ma?" tanya Jason yang baru saja sampai di rumah, melihat senyum paksa istrinya dan di hadapannya ada Jill yang terlihat tidak nyaman, ada apa lagi ini batinnya. Koneksi otaknya tentunya sudah waspada, kalau saja Jill lagi-lagi membuat masalah, maklum hampir enam tahun menjadi langganan guru BK, Jason lumayan peka.
Bersambung...
"