
Cerita kita tidak akan berakhir! Untuk melanjutkannya kita harus menghadapi masa depan kita bersama!
^^^Jill.^^^
___
"Jilly!"
^^^"Apa udah selesai acaranya?" ^^^
"Dari mana kamu tau?"
^^^"Haha! Aku ini, apa sih yang nggak tau?" ^^^
"Ada apa telpon?"
^^^"Nggak ada apa-apa! Kangen aja!" ^^^
"Kamu!"
Raiz memegangi dadanya yang berdebar kala muridnya itu kembali menggombalinya, berapa kali pun dia mencoba menyadarkan diri kalau sebentar lagi dirinya akan menikah, namun nyatanya tidak berhasil, dia juga semakin gencar memikirkan gadis itu. Seperti kali ini, bibir yang dicap sialan olehnya itu dengan gilanya malah senyum-senyum sendiri seperti orang kasmaran.
^^^"Bapak lagi apa? Cantik nggak calonnya? Cantikan mana sama aku?"^^^
"Jilly... Kamu..."
^^^"Apa sih Pak! Gitu aja ngegas, aku kan cuma nanya!"^^^
"Kalau kamu telpon hanya ingin bermain-main lebih baik tidak usah, saya..."
^^^"Lah siapa yang main-main coba, aku lagi telponan sama calon pacar, masa iya main-main, kayaknya aku nggak pernah deh nganggep Bapak sebagai mainan aku!" ^^^
"Saya akan menikah!"
^^^"Iya iya... Aku tau kok, terus kenapa emangnya?"^^^
"Jilly berhenti ganggu saya!"
^^^"Apa? Ganggu! Aku nggak ada niat ganggu, emang Bapak ngerasa terganggu?" ^^^
"Saya tutup dulu!"
^^^"Eehh eh eh, jangan main tutup aja dong Pak!" ^^^
Klik.
Raiz benar-benar menutup panggilan itu, dia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi padanya, begitu senang kala mengetahui Jilly yang menelponnya, tapi tubuh warasnya mungkin masih menolak karena terus saja berprinsip kalau tak seharusnya dia melakukan itu.
"Ini gila, Jilly makin hari makin bikin gue gila!" gerutunya.
"Ah nggak ada Abi!" jawab Raiz spontan karena terkejut.
"Kamu kenapa sih? Nggak sopan lama-lama di luar gini, dari tadi kamu itu Abi perhatiin kayak nggak fokus!" selidik Kyai Ahmad.
"Raiz nggak papa Abi, tadi ada sesama guru telpon, nanyain perihal salah satu murid di sekolah Raiz!" jawab Raiz berdusta. Semenjak mengenal Jilly tampaknya ia jadi semakin sering berbohong.
"Oh, ya udah, yuk masuk dulu ke dalam, kita pamitan sebentar!" ajak Kyai Ahmad.
"Baiklah Abi!"
Raiz dan Kyai Ahmad masuk ke dalam, mereka akan berpamitan sebentar kemudian pulang.
Rencananya juga besok pagi Kyai Ahmad dan Ummi Hana akan pulang ke Bandung, jadi mereka tidak bisa pulang terlalu larut dari rumah Aliyah.
___
"Sialan! Main matiin aja, ck!" Jill melempar ponselnya ke atas ranjang, dia benar-benar membenci keadaan yang menurutnya sama sekali tidak berpihak padanya.
"Apa gue beneran harus nyerah ya!" gumamnya lagi mempertimbangkan.
"Tapi... Ah Pak Raiz benar-benar bikin gue gila nih keknya lama-lama, lagian itu muka kenapa juga harus gantengnya naudzubillah, kan bikin sayang kalau nggak direbut!"
"Dosa nggak ya kalau gue rebut?"
"Tapi kan dia belum kewong, kalau dia udah kewong mungkin iya dosa, kalau belum kewong kan berarti masih ada harapan!"
"Heh, bener juga!"
"Tapi kalau gue rebut dia, gimana caranya? Masa iya nikah muda?"
Jill benar-benar galau, sebenarnya pertanyaannya pada Jason perihal nikah muda tadi tentu saja hanya kata spontan yang keluar bebas dari mulutnya, jika ditanya kesiapannya jelas saja gadis itu belum siap.
Mau menjalani ibadah rumah tangga yang seperti apa, Jill tidak pernah sama sekali membayangkan ke arah sana.
"Mau nikah muda gimana coba? Yang ada bukannya jadi istri solehot, gue kalau sama Raiz malah dikasih jalan cepat menuju istri durjana kek nya!"
"Apa gue belajar sholat dulu kali ya, biar nggak kaget aja nanti saraf gue kalau dengar ceramah keluarga alim!"
"Ya Allah sekalinya mau sama orang, kok kejam amat Engkau memberikan hambamu yang tidak taat ini cobaan!"
"Lagian kenapa juga sih standar gue itu kayak Raiz, udah tau kalau titisan setan nggak mungkin bersatu sama para malaikat! Malaikat pencabut nyawa sih iya mungkin!"
Jill masih mempertimbangkan nasibnya, benar-benar ingin memantapkan hati, antara merelakan Raiz atau merebutnya
Bersambung...