
Dia yang pertama, menggemaskan, memabukkan, membuat aku tidak bisa berpaling lagi!
^^^Raiz.^^^
___
"Kamu nggak marah kan Ay?" tanya Raiz pelan. Mereka sedang menuju rumah utama, Shirleen baru saja mengabarkan untuk mereka segera pulang, karena katanya Raiz harus ikut makan malam bareng keluarga besar Jill.
"Haaahh!" Jill menghela napasnya, "Enggak, mungkin kamu itu emang udah dikirimkan Tuhan buat ngingetin aku, aku aja nggak tau lho kenapa tiba-tiba bisa suka sama kamu, kali aja kan Tuhan mempertemukan kita ini emang ada sebabnya!" urai Jill.
Dia sebenarnya juga mensyukuri itu, karena sebenarnya apa yang dikatakan Raiz perihal sholat dan ibadah lainnya adalah benar, hanya saja hati Jill kemarin-kemarin mungkin telah ditutupi oleh kesenangan duniawi, tanpa sadar dia sudah begitu jauh meninggalkan Tuhannya.
"Aku nggak bakalan minta kamu berubah kok, cara kamu berpakaian, cara kamu bicara, aku cuma minta kamu pikirin bener-bener, bedain mana yang baik dan mana yang buruk!" ujar Raiz, yah itulah caranya mengubah Jill perlahan.
"Keluarga kamu nggak masalah kalau aku nggak pake jilbab?" tanya Jill.
"Eekhhmmm!" Raiz berdehem sembari mengeratkan pegangannya pada kemudi, "Sebenarnya hukum menutup aurat bagi seorang wanita muslim itu wajib, siap ataupun tidak siap!"
"Dia wajib melakukannya, kamu tau kan aurat wanita itu dari mana sampai mana? Jangan bilang nggak tau juga?" sergah Raiz.
"Ihh apaan sih, ya tau lah!" sewot Jill.
"Tapi... Allah nggak ada istilahnya maklum Ay... Misal, Raiz kenapa itu istri kamu nggak pake Jilbab, nggak nutup aurat? Emangnya Allah masih bisa memaklumi, dan sayangnya aku juga nggak bisa ngasih alasan jika sama Allah, dosa kamu yang nggak menutup aurat tetap harus jatuh di catatan dosa aku, malaikat bakalan langsung catet buat semakin beratin aku, dan aku harus siap bertanggung jawab di akhirat nanti!" Raiz tersenyum lagi, seolah ikhlas saja menerima dosa dari Jill yang tidak menutup aurat.
Dia selalu ingat pesan Jason, untuk itulah Raiz tidak mau mengatakan kalau tidak menutup aurat adalah sebuah dosa besar, dia bahkan tidak meyebutkan dosa itu akan ditanggung Jill, dengan lembut dan penuh pengertian Raiz memberikan gambaran, supaya Jill bisa menilai sendiri harus ke arah mana jalan yang dirinya tuju.
Jill terperangah, terbesit ketakutan dalam dirinya, dan lagi apa yang dikatakan Raiz memang benar adanya.
"Aku nggak maksa, aku ikhlas nanggung dosa istri aku, itu juga kalau dia tega..." lanjut Raiz.
"Ih kamu apa-apaan sih!" Jill melihat ke arah badannya, masa iya dia harus meninggalkan gaya berpakaiannya yang menurutnya begitu modis ini, diganti dengan pakaian yang tertutup misalnya, dia melihat Ummi Hana saja sudah ribet.
"Ay, kalau misalkan aku mau nih ya make pakaian yang tertutup, pake jilbab misalnya, tapi kamu bakalan tetap cinta kan sama aku!" tanya Jill hati-hati. Rupanya ia takut dengan memakai pakaian tertutup seperti itu Raiz akan berpaling darinya.
Raiz lagi-lagi tersenyum karena pertanyaan Jill, ia menatap gemas calon istrinya itu, "Memangnya kamu itu mikirnya gimana? Ya aku malahan tambah cinta dong, harus tambah cinta karena istriku udah mau berubah ke arah yang lebih baik, kenapa harus nggak cinta? Bahkan nih yaaaa, aku makin nggak bisa berpaling dari kamu Ay, gini aja kamu udah MasyaAllah cantiknya, apa lagi paket jilbab, nutup aurat!" puji Raiz, supaya Jill bisa lebih yakin untuk berubah.
"Ih receh banget, awas aja kamu kalau sampe selingkuh!" Jill mengepalkan tinjunya dan memperlihatkan pada Raiz. Namun dalam hatinya sungguh senang, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menari di perutnya.
Bersambung...