
Genggam tanganku, mari melangkah bersama, hadapi semuanya, baik buruknya, ayo hadapi bersama!
^^^Raiz. ^^^
___
Raiz sedang menuju rumah Anisa bersama Jill, mereka menyusuri jalan setapak yang terlihat lumayan sepi itu.
"Benar nggak sih ini rumahnya?" tanya Jill.
"Kalau menurut data yang dikasih Bu Winda sih bener!" jawab Raiz.
"Isshhh, seneng banget sebut namanya!" sinis Jill, dia paling tidak suka Raiz menyebutkan nama Winda, kayak kesel aja udah.
"Ya aku kan jawab apa adanya Ay!"
"Udah-udah perhatiin jalan, ini jalan setapak ntar malah nyungsep lagi!" gerutu Jill.
"Bentar, aku berhenti di toko itu sebentar ya Ay, mau nanya yang mana rumahnya!" usul Raiz.
"Ya udah, gih!"
Raiz memberhentikan mobilnya dan turun, dia gegas bertanya pada warga sekitar untuk menunjukkan di mana gerangan rumah Anisa.
"Oh Anisa?" samar Jill mendengar Ibu-Ibu bertubuh gempal tampak mengangguk, sepertinya mengenal Anisa.
"Kira-kira di mana ya rumahnya Bu?" tanya Raiz.
"Ini yang warna biru depannya banyak banget bunga-bunga, ada apa ya Mas?" tanya Ibu-ibu itu kepo. Apa lagi mungkin dia melihat Raiz yang benar-benar tampan, antusias sekali berbincang dengan Raiz, Jill menatap sebel karena suaminya itu memang kelewat ramah.
"Heemm, makasih ya Bu!" Raiz mengatupkan kedua tangannya memberikan salam tanpa berniat untuk menjawab kekepoan Ibu itu.
Raiz melihat wajah cemberut Jill lagi saat dia masuk ke dalam mobil, "Yang udah tua gitu kamu juga cemburu?"
Seketika Jill menoleh sinis mendengar pernyataan Raiz, "Kamu tuh bisa nggak sih Ay nggak kelewat ramah, gemes banget pengen sumpal itu mulut biar nggak usah senyum!" gerutunya.
Raiz tergelak kecil, "Ya kita kan emang harus saling menghormati Ay!"
"Tapi kan nggak mesti gitu juga!"
"Jadi yang semestinya kek gimana?" tantang Raiz.
Jill semakin cemberut, "Tau ah sebel!"
"Jangan suka sebel sama suami Ay, mending manjaan!" rayu Raiz, sembari mulai menjalankan lagi mobilnya.
"Nggak mood!"
"Yakiiinn?"
"Tau!"
"Kamu sensi banget keknya kalau lagi pms gini, nggak boleh salah dikit aja!" ujar Raiz lagi.
"Oh jadi kamu nggak terima, kamu ngeluh, baru juga nikah kemaren!" gerutu Jill.
"Dih siapa yang ngeluh, aku kan cuma bilang!" Raiz masih bisa sabar menghadapi Jill, kata Jason Jill ini memang selalu bersikap manja jika dengan orang yang dirinyalah sayang, jika Jill bisa bersikap seperti itu tentunya Raiz bisa berbangga hati karena itu artinya Jill juga menyayanginya.
"Turun?" tanya Raiz.
Jill dengan malas turun, "Harus banget ya aku ikut?" tanyanya lagi.
"Ya harus dong Ay, udah nggak papa, kan ada A'ak suami!" goda Raiz lagi.
"Dih, kang bucin!"
"Udah yuk!"
Raiz menggenggam tangan Jill dan membawanya menuju rumah itu, lalu saat orang rumah sudah membukakan pintu barulah genggaman tangan itu dirinya lepaskan.
"Assalamualaikum, selamat malam Ibu..." sapa Raiz.
"Waalaikumm salam... Cari siapa ya Mas?" tanya Ibu itu.
"Mau nanya, ini benar rumahnya Anisa Kinara?" tanya Raiz sopan.
"Benar, benar... Ada perlu apa Mas, maaf tapi kami benar-benar tengah bingung karena Anisa juga udah tiga hari nggak pulang-pulang!" jelas Ibu itu, yang ternyata memberikan kabar yang tidak mengenakan bagi Raiz.
"Ooohhh, gitu ya Bu? Dengan Ibu siapa ini, Ibunya Anisa?"
"Iya, saya Ratih Ibunya Anisa!" jawab Bu Ratih.
"Gini lho Bu, Anisa ini kan sudah satu minggu lebih tidak masuk sekolah, saya ini guru BK-nya dan ini salah satu temannya Anisa!" ujar Raiz memperkenalkan.
Bu Ratih mengangguk paham, "Awalnya kami tanya kenapa dia tidak sekolah, tapi katanya dia malas, sudah diomelin sampe tak jewer itu kupingnya, tapi masih juga nggak ada takutnya!"
"Dan sekarang malah ngilang, nggak tau di mana?"
"Apa Ibu tau teman dekatnya Anisa? Yang paling dekat yang paling bisa dipercayai misalnya?"
"Tau... Tapi kemaren si Faris juga datang ke sini, nanyain Anisa, kayaknya dia juga nggak tau, dia bilang Anisa juga ilang kabar!"
"Si Faris itu siapanya Anisa?" tanya Raiz menyelidik.
"Emmm, udah deket banget sama keluarga kami, pacar lah kalau istilahnya mah, orangnya Alhamdulillah baik, cuma nggak tau kenapa dia cerita katanya Anisa berubah!"
"Ooohhh gitu yaaa!"
"He'eh, di sekolah dianya gimana?"
"Ibu udah lapor polisi?" tanya Raiz.
"Udah, tapi nggak ada tanggapan sampe kini, katanya masih dalam pencarian!"
"Udah diwawancarai semua orang terdekat Anisa?" tanya Raiz lagi.
"Udah juga, termasuk Faris juga udah Mas!" jawab Bu Ratih.
"Ooohhh!"
"Boleh aku minta lihat foto cowoknya Anisa Bu?" tanya Jill tiba-tiba, ia tergerak hati untuk bertindak bahkan sebelum Raiz memintanya.
Bersambung...