Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Hukuman.



"Gimana tadi di sekolah?" tanya Raiz, dia sebenarnya sudah tau apa yang terjadi di sekolah tadi, karena Winda mengabarkan padanya tanpa diminta, guru bahasa Indonesia itu selalu saja update jika ada siapapun yang berbuat masalah. Dan kali ini Raiz hanya mau melihat kejujuran istrinya itu.


"Biasa aja, nggak ada yang wah!" jawab Jill.


"Benar?" selidik Raiz lagi.


Jill mengangguk, masalah tadi dianggapnya sudah selesai, karena tidak adanya tindakan yang dilakukan kepala sekolah terhadapnya, mungkin juga Jill berpikir kalau Ramond memilih untuk bungkam. Yah setidaknya itu memang lebih baik kan!


"Kayaknya kamu seneng deh kalau dihukum aku Ay!" ujar Raiz langsung, yang membuat Jill memelototkan matanya tidak percaya.


"Kamu bikin ulah lagi?" tanya Raiz sekali lagi.


Jill mendengus kesal, lalu dengan malas ia menjawab, "Sedikit memberinya pelajaran!"


"Tapi kan kamu bisa pergi Ay, nggak usah diladenin!"


"Tapi dia mau deketin aku, gimana dong? Kalau kamu yang liat itu dan bukan Winda gimana? Kamu masih belain anak urakan itu?" mengatakan Ramond urakan, padahal dirinya adalah ratunya urakan.


"Ya udah, tapi kan maksud aku itu Ay, kamu bisa pergi, menghindar, ini baru satu hari lho aku nggak di sekolah!" ujar Raiz lagi, dengan lembut sekali menasehati, meski yang di nasehati ngomongnya udah pake urat.


"Aku nggak mau! Aku nggak suka jadi pengecut!" jawab Jill, tengil bin songong.


"Ya oke aja, tapi kamu tetep harus di hukum!" ujar Raiz lagi.


"Lho kok dihukum? Jelas-jelas yang mulai duluan si belagu!" protes Jill, ia tidak terima, baginya ia sama sekali tidak membuat masalah, karena Ramond lah yang mendekatinya, dan mengatainya sombong dan mencari masalah dengannya. Bagi Jill, ia hanya menyambut salam perkenalan Ramond yang tidak dikehendakinya dengan suka rela.


"Aku itu bukan nghukum kamu gara-gara kamu bikin masalah!" ucap Raiz, membuat Jill semakin tidak mengerti.


"Lah terus? Aku nggak terima, aku nggak mau dihukum, ih apa-apaan sih, udah dijadiin suami juga bukannya ada rasa ibanya sama istri malah makin jadi!" gerutunya tak berhenti.


"Kamu tau kesalahan kamu apa?" tanya Raiz.


"Aku nggak salah, nggak ada salahnya aku, kamu itu bukannya belain istri malah belain si belagu? Kamu dapet info dari mana sih, tau aja? Pasti si Winda yang ngasih info?" selidik Jill.


"Iya dia yang ngasih tau, tapi aku nggak bales kok, cuma aku baca udah! Nih!" Raiz memberikan ponselnya pada Jilly, kali saja istrinya itu hendak memeriksa.


"Ihhh kamu yaaa, kenapa juga kamu masih bisanya chat sama dia? Eh maksud aku kamu masih bisa di chat sama dia?" Jill sudah akan marah, jika saja Raiz sampai salah bicara kali ini, tentunya dia tidak akan memaafkan Winda dengan mudah.


"Ya namanya juga sesama guru lah Ay, kan kami ada grup, dia juga ngasih infonya di grup, aku baca aja udah!" jawab Raiz lagi, memperbaiki susunan katanya supaya tidak terjadi kesalahan yang nantinya bisa tidak berkesudahan.


"Aku itu mau tanya sama kamu Ay, apa kamu bikin masalah lagi, tapi kamu malah nggak cerita apapun!" jelas Raiz.


"Ya emang ngapain juga diceritain!" dengus Jill.


"Aku itu cuma minta kejujuran kamu Ay, aku nggak masalah kok kalau kamu ngelawan pada akhirnya meskipun aku bilang lebih baik menghindar, tapi aku itu cuma mau kamu jujur, cerita ke aku nggak kayak tadi kek ada yang ditutupin." jelas Raiz lagi, lebih mendetil dan berharap istrinya itu akan mengerti.


"Jadi?"


"Ya kamu di hukum dong! Karena udah nggak jujur sama suami, itu adalah kesalahan kamu!" jawab Raiz.


Jill menghentakkan kakinya, ia menatap Raiz sinis, masih juga harus dihukum padahal sama suami sendiri, gerutunya membatin.


"Nggak bisa ya, pengecualian?" tawar Jill.


"Kenapa? Kamu mau ditambah hukumannya?" tanya Raiz.


"Ih nyebelin banget!"


"Jangan gitu Ay, nyebelin juga suami kamu!"


"Iya sayangnya..."


"Eh enggak kok Pak, saya beneran cinta kok sama Bapak!" Jill langsung gelagapan.


"Hemmm!"


"Jadi udah siap dihukum?" tanya Raiz lagi, mengingatkan Jill supaya pembicaraan mereka tidak melengser dari topik.


"Ya udah apa?" tanya Jill pasrah.


Raiz mengungkung tubuh Jill hingga menekan kepala ranjang, lalu ia mendekatkan wajahnya pada Jill, pelan bibirnya itu akhirnya berhasil juga mendarat di sana, di tempat yang benar-benar ingin dirasainya sekali lagi setelah waktu itu bibir mereka pernah tidak sengaja bersentuhan. Dikecupnya perlahan namun tidak berlangsung lama kecupan itu berubah menjadi ci*man yang memabukkan, tanpa sadar atau memang sudah siap dan tau cara melakukannya Jill membuka sedikit mulutnya untuk memberikan ruang untuk indra perasa Raiz masuk, saling membelit seolah tidak mau kalah dengan miliknya.


Tangan Raiz juga tidak mau diam, naluri kelakiannya memberontak untuk berkelakuan, di balik piyama tidur istrinya itu satu tangannya juga sudah berhasil memainkan benda kembar yang tampak pas di genggamannya itu.


"Aashhh!" desah Jill yang sedari tadi tertahan karena dibungkam mulut Raiz akhirnya pun terlepas juga.


Saat melihat wajah istrinya yang berantakan saat itu juga Raiz harus menghentikan kegiatan panas mereka.


"Kenapa?" tanya Jill saat Raiz sedikit menjauh darinya.


"Tidak apa?" jawab Raiz santai.


Wajah Jill memerah, bolehkah ia sedikit kesal karena Raiz menghentikannya, sungguh padahal pengalaman pertamanya itu begitu memabukkan, sayang saja Jill masih malu untuk mengakui.


"Kamu menikmatinya Ay?" tanya Raiz.


Jill tertunduk, semakin menggerutu dalam hatinya, mengapa juga Raiz harus menanyakannya.


"Sebenarnya aku ingin memberikan hukuman yang lebih dahsyat dari ini, tapi sayang sekali kita tidak bisa melakukannya!" ujar Raiz lagi.


Jill memicingkan mata dan mendengus kesal, tidak percaya bahwa hukumannya akan seenak ini.


"Sabar yaaa!" Lanjutnya lagi.


"Ih apaan sih, sabar apanya coba?" elak Jill.


"Ya itu, kamu keknya udah siap!" jawab Raiz.


"Siap apa?"


"Ya siap melayani suamimu ini!" jawab Raiz santai, yah buat apa malu karena bagi Raiz mereka sudah menjadi pasangan halal.


"Kata siapa?"


"Kata matamu, kata mulutmu, kata wajahmu yang begitu menikmatinya, kamu kira bisa bohong lagi sama suamimu ini Ay? Sepertinya kamu nantangin untuk aku ngehukum kamu ya? Pake mau bohong lagi, udah tau nggak boleh bohong!"


"Hemmm, senjatanya Pak, mengerikan amat!"


"Ya abis gimana? Murid ini memang mau-maunya di hukum keknya."


"Nggak bilang kalau hukumannya kek gini, bisa-bisa semakin gercep aku bikin masalah lagi!" gumam Jill pelan, namun sayangnya masih bisa didengar oleh Raiz.


"Apa? Seenaknya aja mau bikin masalah lagi, awas aja kamu ya!"


"Hehe, becanda Pak, abis hukumannya enak sayang disia-siain!"


"Astagfirullahhaladzim Ay... Jadi kamu beneran menikmati banget?" Raiz terperangah, padahal dia saja deg-degan di pengalaman pertama, tapi istrinya ini... Ahhh, sayang sekali sarang itu masih banjir, batin Raiz frustasi, karena kalau diizinkan dia juga memang sudah sangat ingin melakukannya.


Bersambung...