
Aku menunggumu di waktu yang tidak terjawab.
^^^Jill.^^^
___
Raiz menunduk, ia menjatuhkan pensil lalu berpura-pura hendak mengambilnya. Jill langsung saja menarik bahunya untuk semakin mendekat, Jill berbisik di telinga Raiz mengatakan kalau dia mengenal siapa itu Anisa.
"Benar?" tanya Raiz heran, menurutnya Raiz, Jill termasuk siswi yang kurang banyak memiliki teman, namun kenapa bisa mengenal Anisa yang padahal adalah siswi di kelas lain.
"Nanti akan aku jelaskan, suruh saja dia kembali ke kelas, aku mungkin tau apa masalahnya!" bisik Jill lagi.
Raiz bangkit dan memperbaiki posisinya, ia merapikan kemeja kerjanya yang padahal tidak terlihat berantakan, "Anisa, apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Raiz berbasa-basi.
Anisa diam, memang benar dirinya merasa tidak nyaman, namun mau bagaimana lagi wali kelasnya itu menyuruhnya untuk menemui Raiz untuk berkonsultasi.
"Kau bisa menceritakan pada Bapak jika sudah siap!" putus Raiz, selain karena tidak adanya tanggapan dari Anisa tentang pertanyaannya, dia juga penasaran apa yang akan dikatakan Jill tentang Anisa ini.
Mungkinkah Jill memang mengetahui sesuatu?
Anisa mendongak, lalu dengan ragu ia bertanya, "Apa... Apa aku bisa kembali ke kelas Pak?" tanyanya terdengar sedikit bergetar.
Raiz mengangguk, "Tenangkan dirimu dan berceritalah jika sudah siap! Bapak siap membantu kapanpun!" kata Raiz ramah.
Anisa mengangguk lagi, kemudian ia segera bangkit dan langsung berlalu meninggalkan ruangan Raiz.
Raiz menunduk lagi, melihat Jill yang saat ini sudah berbaring lagi di pahanya, "Anak nakal!" serunya sembari bangun dari duduknya, ia tidak peduli tentang kepala Jill yang terantuk lagi di kursi karena gerakannya yang tiba-tiba.
"Pak Raiz!" kesal Jill.
Tanpa sadar Raiz tersenyum melihat wajah cemberut Jill.
"Katakan!" pinta Raiz.
"Apa?"
"Ooohh itu!" enteng Jill, "Sabar dong Pak!" Jill bangkit dan beralih duduk di kursi kerja Raiz.
"Dia itu punya masalah sama cowoknya!" ungkap Jill yang memang saat itu melihat Anisa sedang bertengkar dengan seorang pemuda, nampaknya pemuda yang waktu itu dilihatnya bersama Anisa bukan siswa dari sekolah ini, karena seragam mereka berbeda. Dan yang lebih parahnya, Jill mengetahui konflik dari pertengkaran waktu itu, Anisa saat ini sedang hamil.
"Hah? Cuma gara-gara cowok!" sahut Raiz terlihat menyesal.
"Iya, gara-gara cowok yang hamilin dia!" Jill masih santai saja mengatakannya, ya memang dia tidak akan peduli selama itu bukan masalahnya.
"Apa?" kaget Raiz.
Hamil? Jelas saja wajah gadis itu terlihat tertekan dan sulit untuk diajak bercerita.
Jill mengangguk tanpa bersalah telah membuat Raiz terkejut.
"Kamu tau dari mana? Beneran?" selidik Raiz.
"Jadi aku itu kan pas hari pertama dateng ke sekolah ini, aku bolos ke cafe di persimpangan itu, terus pas mau pulang aku ketemu sama dia, dia lagi debat sama cowok, ga tau deh cowoknya atau bukan, tapi dia bilang cowok itu harus tanggung jawab, dia udah hamidun lima bulan, si cowok juga aku liat nampar dia bilangnya suruh gugurin." jelas Jill.
"Aku mau banget belain, tapi kan aku udah janji sama Papa ganteng kalau nggak bakalan berantem lagi, jadi ya udah aku tonton aja!" ucap Jill apa adanya.
"Jill!" geram Raiz, "Bisa-bisanya ya? Kenapa nggak kau pisahin orang berantem, laporin ke orang-orang sekitar kek, biar bisa dipisahkan kalau kamunya nggak bisa!" Raiz benar-benar gila, masa Jill segitu gampangnya bilang nonton aja orang berantem.
"Ya abis mau gimana lagi, seru juga ternyata kalau nonton orang ribut!"
"Seru? Apanya yang seru Jill?" geram Raiz frustasi.
Bersambung...