Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Anak gadis yang nggak mirip Bapaknya.



Terus terang, kalau ada yang harus gue akuin di dunia ini tapi sayangnya males banget buat gue ucapin, ada satu!


Gue kayaknya nggak bisa kehilangan lo pada, nggak bakalan bisa ada yang gantiin lo bertiga!


^^^Jason.^^^


___


“Itu anak lo?” tanya Angga, saat ini mereka tengah merayakan kembalinya satu personil 4 Perjaka dari Jerman setelah sekian lama tidak bertemu, apa lagi kembalinya Yudha kali ini rencananya memang akan menetap di Indonesia.


Yudha memang jarang pulang ke tanah air, terakhir kalinya Yudha pulang mungkin sekitar tujuh tahun yang lalu, itupun karena menghadiri pemakaman Om Radit saudara kandung Papanya. Jadi Jason, Afik dan Angga memang tidak terlalu dekat dengan anaknya Yudha dan Weni, selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat telepon saja, sedang anak gadis Yudha itu memang jarang untuk mengakrabkan diri pada ketiga sahabat Papanya.


Mereka merayakan itu di rumah Jason, acara Barbeque yang wajib di hadiri oleh mereka berempat yang sudah memboyong keluarga kecil mereka masing-masing.


“Lah kenapa?” tanya Yudha heran.


“Kok nggak mirip?” ucap Angga menyampaikan penilaiannya.


“Lah iya! Bener Ga, kok gue baru nyadar yaaa!” Sambung Afik, yang baru saja hadir setelah berhasil mencomot satu potong besar daging barbeque dari piring istrinya.


“Yeee, lo mah emang kagak bakalan sadar kalau udah ketemu makan!” sindir Angga.


“Sa ae lo! Tapi bener lho Yud, anak gadis lo Weni banget!” ucap Afik yang sudah tidak memakai embel-embel ‘Kak’ saat menyebutkan nama Weni. Mereka merasa sudah serasian karena sudah memiliki istri masing-masing.


“Ya kan dia Emaknya ege!” sahut Yudha mulai gondok, mengapa setelah lama tidak bertemu para sahabat-sahabatnya ini malah makin sesat menurutnya.


“Makin tua makin beg* yah lo pada!” gerutunya.


“Tapi katanya nih ya, kalo anak gadis itu biasanya mirip Bapaknya! Nah coba lo liat noh, si Jill bener mirip Junedi kan? Celia juga mirip Afik, nah noh lo saksikan yang paling baru launching, anak gadis gue... Mirip gue kan!” ucap Angga percaya diri.


Benar, Istrinya Angga memang baru saja melahirkan anak ketiga mereka yang perempuan tepatnya sekitar tiga bulan lalu, setelah yang pertama dan kedua adalah laki-laki.


“Ya mau gimana lagi, orang dia bentukannya mau mirip Weni, nah anak lo pada kali takut nggak diakuin, makanya mirip lo!” balas Yudha tidak mau kalah.


“Sialan lo!” dengus Yudha kesal sembari mencekik leher Afik dengan lengannya. “Kelakuan lo ya!”


“Nah lo tersinggung, jangan-jangan bener lagi!” lawan Afik dengan masih mencoba melepaskan lengan Yudha yang melingkar di lehernya.


“Cekik aja Yud, dia kalau ngomong emang suka bener, langsung ngena!” sambung Angga yang tiap kali lagi debat pasti nggak tau mau ikut tim yang mana.


“Sialan lo! Lo dukung siapa sih?” Yudha beralih menoyor kepala Angga.


"Ya kenapa, gue kan cuma dukung yang menang!" enteng Angga.


“Uhukk uhuuk!”


“Wah lo nggak kira-kira Cebong, baru juga pulang ke negara asal udah mau bikin kasus aja, kalo gue mati gimana?” ucap Afik pada Yudha sembari mengelus lembut lehernya.


“Makanya kalo ngomong difilter!” protes Yudha.


“Gue bukannya gak mau milter, tapi filter gue kalo cuma segitu ya masih layak ucap!” ucap Afik nggak mau kalah.


“Cakep! Gue setuju sama lo Fik!” kali ini Angga, yang malah makin bikin gondok keduanya.


“Angga sialan!”


“Lah gue kenapa?” heran Angga.


Seketika Afik dan Yudha langsung saja menyerang Angga, sudah lama sekali rasanya mereka tidak berkelakuan seperti ini, kadang hanya Angga dan Afik yang saling bertemu dan melemparkan candaan, sesekali Jason namun taulah manusia es yang satu itu kalau sedang ngumpul bukannya becanda malah adanya bikin kesal mulu.


Kini rasanya mereka bagai kembali bernostalgia di masa-masa remaja mereka, kehadiran Yudha memang memberikan semangat baru bagi mereka.


“Ekhmmm!” suara batuk Jason berhasil menyudahi drama penyerangan mereka.


Bersambung...