Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Meyakinkan Celia.



"Aku mau ketemu Cel Pa!" ujar Jio saat ditanya apa tujuannya bertamu di rumah Afik.


"Ya sudah masuk!" Afik mempersilakan Jio untuk masuk, dia sedang berusaha menerima Jio, tentunya jika Jio benar-benar bisa memegang teguh janjinya. Karena sekali saja Celia di sakiti lagi, maka Afik tidak akan pernah lagi mau berhubungan baik dengan Jio.


"Bi, panggilkan Cel, saya mau ke kamar dulu!" ujar Afik memerintah asisten rumah tangganya. Dia memang baru pulang kerja sejam yang lalu, jadi wajar saja ia ingin mendinginkan kepala dan merebahkan tubuhnya di kasur, apa lagi matanya benar-benar mengantuk sedari tadi.


Jio menunggu Celia dengan sabar, berharap kali ini Celia tidak menghindarinya.


"Ada apa?" tanya Celia. Masih menampilkan mimik muka juteknya, seakan begitu malas menemui Jio.


"Nih buat lo!" Jio memberikan satu kantong plastik besar coklat untuk cemilan Celia, berharap Celia bisa mempertimbangkan kesungguhannya ingin menikah.


"Dalam rangka apa?" tanya Cel ketus.


"Nggak dalam rangka apa-apa, nggak tau aja tiba-tiba gue kepikiran lo, dan yaudah gue beli aja!" jawab Jio, benar sih dia tidak bohong, tadi sepulang sekolah dia melihat Celia yang asik banget makan coklat dengan brand warna ungu itu, jadi dia pikir mungkin saja calon istrinya ini memang menyukai coklat.


"Makasih!" ucap Celia seadanya.


"Cel, lo beneran belum bisa nerima gue?" tanya Jio lagi, benar-benar tidak habis pikir bagaimana cara pikir Celia, apa cobanya kurangnya dia.


"Gue masih butuh waktu?" sahut Cel.


"Sampai kapan?"


"Kenapa? Lo nggak sanggup kalau kita nikah tanpa cinta?" telak Celia.


"Lo benar nggak ada perasaan apapun sama gue, bahkan setelah kita ngelakuin hal..."


"Kita? Sejak kapan gue mau dan pasrah aja lo bikin kek gitu? Kalau ngomong otak itu dipake ya..." Celia tersenyum miris, jadi coklat sekantong plastik besar ini ya cuma sogokan, dasar murahan pikir Celia.


"Oke! Gue, gue yang salah!" ralat Jio.


"Besok kita harus fitting baju pengantin, minimal kebaya lah buat akad kalau emang lo beneran nggak mau dipajang!" ujar Jio. Memberitahukan pesan Mama Ilennya tadi sebelum dia berangkat.


"Serah lo!" sahut Celia.


Celia yang hangat dan periang malah bisa berubah dingin saat berhadapan dengan Jio, Jio sepertinya akan benar-benar melatih kesabaran jika disandingkan dengan Celia.


"Gue nggak minta lo tanggung jawab kan?"


"Tapi gue mau tanggung jawab Cel, Papa juga nggak bakalan biarin gue lepas tangan gitu aja, Celia gimana kalau sampai terjadi sesuatu sama lo? Apa lo bisa mastiin?"


"Sebenarnya mau lo itu apa sih Yo? Lo bahkan nggak pernah ngelirik gue barang sedikitpun, lo ingat perdebatan kita di Mall, gue rasa lo nggak sedang mendem perasaan sama gue kan, lo bentak gue, lo sama sekali nggak pernah setuju sama apapun yang gue lakuin, bahkan orang gila aja tau kalau lo nggak mungkin ada perasaan sama gue!" tanya Celia, ia memang ingin menanyakan ini pada Jio, berharap Jio bisa jujur saja apa sebenarnya yang tengah pemuda itu rasakan.


"Tiba-tiba aja datang, maksa gue buat ketemu, gue nggak tau apa-apa malam itu Yo, gue kira lo beneran mau bicarain sesuatu yang memang harus sama gue, yang beneran ada hubungannya sama gue, meski gue nggak tau apa itu tapi gue tetep nyoba yakin sama lo, tapi apa? Lo tega, tega banget..."


"Jadi, jika lo masih ada sangkutan sama orang lain, baik itu perasaan atau apapun, lo itu adalah orang teregois yang pernah gue kenal!"


Jio terdiam, memang benar apa yang dikatakan Celia, bahkan hingga kini pun Jio memang belum bisa memastikan sebenarnya apa yang dia rasakan untuk Celia, bisakah dia melihat Celia sebagai seorang wanita yang dicintainya? Atau rasa ini hanyalah sebuah rasa tanggung jawab yang juga didampingi dengan rasa bersalah.


"Gue nggak butuh coklat, gue nggak butuh apapun dari lo, semenjak lo hancurin hidup gue, bahkan gue udah nggak butuh apa-apa lagi!" ujar Celia lagi, yang semakin membuat Jio hancur. Mengapa setiap perkataan yang Celia lontarkan untuknya ini terasa begitu menyayat hati, Celia seolah-olah ingin menenggelamkan dirinya pada rasa bersalah yang teramat, sehingga hanya akan ada sesal sesal sesal saja di sepanjang hidupnya.


"Cel, lo nggak bisa kayak gini, gue bakalan selalu ada kok buat lo!"


"Sayangnya gue nggak suka pura-pura percaya, apa lagi pada suatu hal yang belum pasti kebenarannya!" sahut Celia, telak lagi dan lagi.


"Cel, jadi gue harus apa? Lo mau gue kek gimana, biar bisa buat lo percaya, Cel gue sayang sama lo!" Jio bahkan tanpa sadar mengatakan itu, kata-kata sayangnya pada Celia bagai meluncur begitu saja, ia tidak bisa melihat Celia sakit begini, tidak bisa apa lagi semua itu terjadi karena dirinya.


"Karena apa? Karena apa lo berani bilang gitu ke gue? Karena lo takut sama Papa lo kan, Om Jason tentunya nggak bakalan biarin lo lepas tangan gitu aja kan, setelah apa yang udah lo lakuin sama gue!" pangkas Jill.


"Gue bahkan nggak percaya kata-kata manis ataupun akting lo yang belain gue, gue bener-bener nggak bisa percaya sama lo, karena apa, karena bagi gue sekalinya bajingan tetep bajingan!"


"Cel!" bentak Jio, dia sudah tidak tahan, Celia selalu saja meremehkannya. Berapa kali dia berusaha untuk mengambil hati Celia, namun hati Celia bagai sudah membatu.


"Terserah lo mau ngomong apa tentang gue, pentingnya gue udah tanggung jawab, dan asal lo tau Cel, gue nggak pernah sepeduli ini sama cewek kecuali sama lo, rela ngerendahin diri gue sendiri di hadapan lo. Tapi percuma juga gue jelasin Karen Ali nggak bakalan percaya juga! Kalau bagi lo sikap gue ke lo ini cuma main-main, yaaa... Terusin aja lo berpikir seperti itu, bukannya gue juga nggak bisa larang, nggak bisa maksa lo buat tolong percaya sama gue. Bener kan?


"Tapi lo bisa tenang, karena gue bakalan tetap nunggu, nunggu di mana akan adanya hari lo nyesel karena udah ngeraguin gue, nyesel karena udah nganggep gue adalah orang yang paling buruk, dan gue bakalan nunggu hari itu, di mana hati lo bakalan luluh buat gue, lo bakalan nerima gue, suatu hari nanti!" Ujar Jio, nah kan benar, kalau sudah berhadapan dengan Celia, dia selalu lemah akhir-akhir ini.


"Gue pulang dulu, coklatnya di makan, atau kalau lo nggak mau mending bagi-bagiin aja ke temen-temen lo. Sekali lagi Cel, gue sayang sama lo, maafin gue yaaa..." lanjutnya, Jio mengusap pelan pipi Celia, kemudian benar-benar berlalu pergi.


Bersambung...