Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Drama subuh.



Saat aku melihatmu pertama kali, naluriku menyuruhku untuk mengaku dengan cepat, "Aku menyukaimu!"


^^^Jill.^^^


___


Selepas sholat subuh bersama, Kyai Ahmad yang hendak pulang ke Bandung memberikan sedikit wejangan untuk anak bungsunya itu.


"Minggu depan kalian akan menikah, tidak ada yang perlu ditunda lagi, kedua belah pihak sudah sama-sama menyetujui, kau harus mempersiapkan diri tentunya Raiz!" ucap Kyai Ahmad.


"Anak Ummi...Ummi nggak nyangka, kamu udah mau nikah aja minggu depan, perasaan teh baru aja gitu Ummi gendong kamu, nyuapin kamu pertama kali, nganter kamu ke TK, udah besarnya malah milih jauhan sama Ummi sama Abi, taunya sekarang udah mau jadi suami orang!" lanjut Ummi Hana, ia membelai lembut pipi Raiz.


Setetes air mata mengalir di pipi Ummi Hana, sedari tadi ia menahannya, namun setelah melihat wajah Raiz dan membelainya kini perasaan haru itu tidak bisa juga dirinya tahan.


"Nak, pernikahan bukanlah akhir dari sebuah hubungan antara dua insan manusia. Justru sebaliknya, pernikahan adalah awal dari fase kehidupan baru yang melibatkan dua komitmen penting."


"Mencintai dan mengasihi karena Allah, saling menjaga satu sama lainnya, temui kebahagiaan dalam suatu hubungan yang sah karena Allah!"


"Iya Abi!"


"Raiz sayang, Ummi sama Abi pulang dulu yah, nanti hari jumat sore insyaallah Ummi sama kedua kakakmu datang ke sini lagi!" pamit Ummi Hana.


"Iya Ummi!"


Raiz menyalami tangan kedua orang tuanya, semalam sepulang dari rumah Aliyah mereka sudah berbincang banyak, meski belum sah menikahi Aliyah, namun rasanya Raiz sudah diharuskan untuk bertanggung jawab, terutama untuk mulai mencintai gadis itu.


Aliyah yang telah meminta perjodohan ini, gadis itu mengatakan menyukainya secara terang-terangan, akan sangat menyakitkan jika sampai Raiz melayangkan penolakan. Baiklah, semoga keputusannya semalam adalah yang terbaik, semoga dirinya benar-benar bisa mencintai Aliyah seperti Aliyah yang mencintainya.


Raiz membawakan koper kecil itu ke mobil, sekali lagi Ummi Hana memeluknya sebelum berangkat, dia masih tidak mempercayai kalau sebentar lagi anak bungsunya itu akan menjadi imam untuk sebuah keluarga.


___


"Jill, bangun subuh yuk!" ucap Shirleen sembari mengusap lembut bahu putrinya itu, semalam Jill mendatanginya di kamar, meminta padanya untuk dibangunkan sholat subuh, meski ada sedikit heran karena tidak biasanya namun Shirleen bersyukur itu berarti Jill sudah ada niat untuk menjadi lebih baik.


"Apa sih Ma, ini masih gelap!" terdengar sahutan dari mulut mungil menggemaskan itu, dengan mata terpejam Jill melayangkan protes.


"Katanya mau dibangunin buat sholat subuh, ayok!" ajak Shirleen lagi.


Tangan Jill sibuk mencari keberadaan selimutnya yang ternyata sudah berada di ujung kaki, kemudian ia menariknya untuk membungkus tubuhnya yang mulai merasakan dinginnya angin subuh.


"Jilly!" seru Shirleen lagi.


"Duh, katanya mau sholat subuh!" ucap Shirleen lagi, mengingatkan kembali apa yang menjadi niat Jill.


"Besok aja deh Ma!" gumam Jill, padahal matanya masih terpejam.


"Jilly!" seru Shirleen lagi.


Jill mengambil bantal kemudian membawanya untuk menutupi telinga, matanya memang sungguh mengantuk, jadi ajakan Shirleen malah dianggapnya bak angin lewat saja.


"By!" seru Jason yang ternyata menyusulnya.


"Anak kamu ini lho, katanya minta dibangunin buat sholat subuh tapi liat aja kelakuannya!" adu Shirleen.


"Emang dia ada minta bangunin?" tanya Jason heran.


"Iya, semalam kan pas kamu nggak tau tuh keluar kemana, dia ada nyamperin aku ke kamar, katanya minta bangunin subuh besok mau sholat katanya!" jelas Shirleen.


"Aku udah seneng banget tau! Tau sendiri kan gimana banyak alesannya dia kalau disuruh sholat selama ini. Aku pikir udah berubah taunya mah sama aja!"


Jason mengangguk paham, dia mengerti mengapa Jill bisa melakukan itu, dengan tiba-tiba semangatnya ingin sholat subuh.


"Ya udah, kamu mandi dulu gih, siap-siap juga sholat, biar aku aja yang bangunin!" pinta Jason.


"Ih bangunin gimana coba, orang udah kembali nyenyak gitu!" sahut Shirleen.


"Adalah, nanti aku pake cara ajaib!" ujar Jason.


"Heleh, se-ajaib apa sih? Anakmu ini kalau udah tidur, kebo minta ampun, aku punya empat anak cuma dia doang yang istimewa, bikin darah tinggi mulu!" gerutu Shirleen.


"Udah... Gih mandi gih, biar aku aja yang bangunin, pasti bangun kalau aku mah!" ucap Jason percaya diri.


Shirleen dengan kesal meninggalkan kamar Jill, ia tidak percaya suaminya itu akan bisa membangunkan kebo istimewanya.


"Dikira gampang apa!" sewot Shirleen yang meragukan tindakan suaminya.


Bersambung...