Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Winda datang.



Dia membuatku jatuh cinta, membuatku selalu ingin berada di dekatnya, aku hanya berharap rasa ini tidak akan pernah berubah.


^^^Raiz. ^^^


___


Raiz langsung saja mengambil alih tangan Jill, menyuruh calon istrinya itu bersembunyi di bawah meja kerjanya, ia tidak tau siapa yang akan datang kali ini.


Setelah di rasa tidak akan ketahuan, Raiz langsung membuka pintu, didapatinya lah Winda yang ternyata datang.


"Ada apa Bu Winda?" tanya Raiz sopan, membuat seseorang yang bersembunyi di bawah meja itu mendengus kesal.


"Ah, aku cuma mau tanya sesuatu Pak Raiz, perihal Anisa? Apa Pak Raiz sudah menemukan solusi tentang masalah Anisa?" tanya Winda.


Raiz berpikir cepat, kemarin dia memang sudah menyelidiki itu, tapi sayangnya menemui jalan buntu karena Anisa yang tidak mau berterus terang.


"Saya masih menanganinya, saya akan kabari jika Anisa sudah bisa lebih terbuka, dia masih belum bisa diajak bicara banyak, tapi saya akan terus coba!" ujar Raiz.


"Aahhh begitu ya, saya ke sini juga mau mengabarkan, sudah dua hari Anisa tidak masuk tanpa keterangan, duh Pak Raiz, sejujurnya aku benar-benar khawatir terjadi suatu pada murid saya!" ucap Winda lagi.


"Hemmm, kalau begitu bisakah Bu Winda memberikan data Anisa pada saya? Nanti saya akan coba menemuinya di rumah!"


"Baiklah, nanti akan aku berikan, aku akan mencarinya terlebih dahulu di ruang arsip!"


Raiz mengangguk, dia sebenarnya juga curiga pada Anisa, apa lagi waktu itu Jill pernah bercerita kalau Anisa sedang hamil, gadis itu terlihat tertekan, Raiz juga lumayan takut kalau sampai Anisa bertindak diluar dugaan.


"Pak Raiz sedang makan siang?" tanya Winda, sebisa mungkin ia tidak kehabisan topik obrolan saat bersama Raiz, bahkan kali ini dia sudah masuk ke ruangan Raiz tanpa diminta.


"Apa ini? Kelihatannya enak!" ujarnya jujur. Namun ia heran kala melihat ada dua box nasi di meja, seperti ada yang ikut makan selain Raiz.


Raiz melihat ke arah box makanannya, lalu dengan canggung ia mengangguk.


Winda melihat lagi ke arah Raiz, bukankah terlalu berlebihan dan sulit dipercaya jika Raiz makan ia box sekaligus, pemuda di hadapannya ini terlihat seperti seseorang yang menjaga badannya.


"Tapi..."


"Saya tidak sempat sarapan tadi pagi, jadi saya membawa dua!" dusta Raiz, tepat sekali semenjak mengenal Jill dia jadi sering berbohong.


"Ooohh!" Wanda mengangguk paham, yah sepertinya lumayan masuk akal.


"Apa ada lagi yang ingin Bu Winda tanyakan?" tanya Raiz cepat, kalau sudah tidak ada lagi, bukankah lebih baik wanita itu keluar dari ruangannya. Mengganggu romantisme dirinya dengan Jill saja gerutu Raiz dalam hati.


"Tidak ada, baiklah Pak Raiz, sepertinya aku harus ke ruangan arsip untuk mencari data salah satu siswiku!" pamit Winda.


Raiz mengangguk lagi, mengantar Winda hingga ke depan pintu, memastikan Guru Bahasa Indonesia itu benar-benar pergi lalu dengan segera menutup pintu.


Raiz mengusap dadanya pelan, hampir saja dirinya ketahuan sedang berduaan dengan murid kesayangannya, eh tapi tunggu! Mengapa di sini kelihatannya dia sudah seperti seorang pedofil saja, seorang guru yang mencintai anak muridnya dan sekarang sedang berhati-hati karena takut ketahuan. Ini gila, bukankah dia masih dua puluh empat tahun, masih wajar saja memiliki hubungan spesial dengan anak tujuh belas tahun. Mengapa harus takut?


Raiz menoleh ke belakang bermaksud untuk memberitahukan pada Jill bahwa Winda sudah keluar, namun lagi-lagi jantung Raiz harus maraton tidak pada waktunya kala mendapati Jill sudah duduk di sofa menatapnya dengan sinis.


Raiz menetralkan kerja jantungnya, mencoba bersikap tenang.


"Itu tadi..."


Bersambung...