Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Cerita bagaimana Papa ganteng.



Denger cerita orang-orang tentang siapa itu Jason Ares Adrian tentunya aku mana berani nyakitin putrinya ini? Belum siap dikarungin kan!


^^^Raiz.^^^


___


"Jio... Jio lepasin gue..."


"Jio jangan lakuin itu, Jio..."


"Jio, jangan, Jio aku mohon, jangan Jio sadar, sadar Jio hiks hiks, Jio... Hiks hiks."


"Haaaahhh hah hah hah!" Celia terbangun dari mimpinya, dia benar-benar kesulitan untuk tidur, bayangan Jio yang mengambil paksa keper*wanannya malam itu masih terpatri jelas masuk ke dalam mimpinya.


"Ya Tuhan apa yang harus gue lakuin kalau misal seandainya gue benar-benar hamil anak itu es batu?" frustasi Celia, ia memijit pangkal hidungnya pening pemikirannya saat ini tengah dipenuhi tentang Jio, sebenarnya dia juga sedikit memiliki rasa pada kembaran Jill itu, namun hanya sedikit karena sekarang selebihnya adalah kebencian.


"Haaahhh!" Celia menghela nafasnya berat lalu menuangkan air minum di atas nakas, menenggaknya hingga habis. Mimpi tadi benar-benar menguras energinya, bahkan tubuhnya terasa basah karena keringat.


Dinginnya AC mulai mengenai tubuhnya yang tadi panas menjadi dingin, jika seperti ini terus tampaknya Celia benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak, meski dia bisa menatap nyalang dan garang seorang Jio tapi sungguh terbesit ketakutan dalam dirinya bagaimana jika dirinya nanti hamil, ia ingat sekali malam itu, cairan milik Jio bahkan memenuhi miliknya waktu itu.


...🍓🍓🍓...


"Apa perlu minta bantuan Papa? Papa paling jago kalau urusan menyelidiki orang, kata Ayah sih Papa ganteng itu yang terbaik. Dia mempunyai banyak mata-mata dan juga orang kepercayaan untuk melancarkan segala keperluannya, makanya tidak ada yang berani untuk main-main kalau sama Papa ganteng, aku sih percaya yaaa, karena berapa kali juga Papa seolah tahu aja gitu, apa yang dilakukan oleh aku, bahkan saat aku pindah ke apartemen waktu itu, Papa tahu apa yang aku lakuian." jelas Jill saat mereka sudah sampai di rumah.


Raiz melotot, seberkuqsa itukah Tuan Jason Ares Adrian.


"Yang bener Ay? Jangan-jangan di dekat rumah kita ini malah dipasang juga mata-mata sama Papa!" tanya Raiz, dia main-main sih. Tapi kalau benar adanya, uuhhh menyeramkan sekali.


"Muungkin!" jawab Jill santai.


"Kamu pernah curiga kalau kamu diawasin?" tanya Raiz lagi ia menuangkan air panas untuk menyeduh kopi instannya.


"Enggak! Papa ganteng itu selalu ngelakuinnya sembunyi-sembunyi, nggak ada jejak sama sekali, yah kayak ninja gitu bisa dibilang sih! Ah ya Ay, kamu tahu hal yang paling tidak bisa aku pikir dengan nalar tentang Papa ganteng?" tanya Jill.


"Apa?"


"Dulu kan waktu aku kecil, Papa itu nggak pernah pakai jasa asisten rumah tangga, tapi anehnya rumah kami selalu bersih. Tiap abis makan malam, Papa ganteng pasti nggak bolehin Mama buat cuci piring atau ngelakuin pekerjaan rumah apapun dan kamu tahu, paginya rumah kami udah bersih banget banget bersih." urai Jill tentang keanehannya di anda kecil dulu.


"Udah bersih maksudnya gimana?"


"Bayangan hitam!" bisik Jill.


"Di bawah tanah itu ada kayak semacam ruangan tempat papa memperkerjakan orang-orangnya, jumlahnya lumayan banyak, waktu aku kecil aku sama Jio pernah dibawa ke sana. Mereka kalau kerja selalu pakai pakaian warna hitam, Mama aja pas awal-awal waktu itu Bang Jack masih kecil aku aja belum lahir katanya itu pernah ketakutan, bibi Ipah pengasuh Bang Jack juga pernah lihat." ujar Jill antusias.


"Bayangan hitam itu maksudnya orang apa gimana?"


"Ya orang, bahkan ada namanya! Jadi nanti mereka kalau misalkan orang rumah udah tidur, mereka semua datang lewat pintu khusus buat bersihin seisi rumah, dilihat isi kulkas ada yang kurang enggak Kalau ada yang kurang diisi, pokoknya kayak kerjaan asisten rumah tangga lah gitu, tapi yang udah profesional banget."


"Gila! Sekeren itu papamu Ay?" tanya Raiz melongo tidak percaya, ada orang segampang Jason Ares Adrian di dunia ini.


"Jadi kalau cuma buat ngusut tuntas hilangnya Anisa, aku rasa Papa bisalah, dari pada ngelibatin polisi!" saran Jill.


"Tapi apa nggak nyusahin Papa Ay?"


"Nanti deh aku tanya-tanya dulu, atau kamu langsung aja ke kantor Papa, ada Ayah aku... Ayah juga jago kalau urusan masalah kek gini, hihihi!" Jill teringat lagi akan kegialaannya saat baru mengenal Raiz.


"Kamu kenapa ketawa?" tanya Raiz penasaran.


"Enggak, aku cuma keinget, lucu aja!" jawab Jill.


"Lucu? Lucu apanya?"


"Ini lho Ay, maaf yaaa, aku itu pas baru-baru kenal kamu pernah minta bantuan sama Bunda buat nyari info gimana kehidupan kamu, keseharian kamu, pokoknya semua tentang kamu!" jujur Jill.


"Hah?" lagi-lagi Raiz harus dibuat melongo tidak percaya, kenyataan apa lagi yang didengarnya ini.


"Iya, makanya waktu itu aku bisa tau rumah kamu, itu Bunda yang salinin filenya, bahkan filenya juga masih ada di laptop aku!"


"Masa?"


"Iya lho, makanya aku kasih tau yaaa, jangan macem-macem deh sama keluarga aku, kamu benar-benar harus jaga aku dengan baik, kalau enggak... Yah kamu tau sendiri deh akibatnya!" ancam Jill, sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu, hanya ingin menggoda Raiz sedikit, namun nampaknya Raiz salah mengartikan, buktinya tangan pria itu terlihat sedikit gemetaran.


"Enggak Ay, enggak!" napas Raiz naik turun, terus terang dia benar-benar baru mengetahui sebenarnya keluarga apa yang menjadi keluarga barunya ini.


"Kamu kenapa sih?" tanya Jill heran.


"Aku padahal nggak ada niat untuk nakutin kamu loh Ay, sumpah aku tuh cuma main-main, tapi bener sih Papa aku emang seposesif itu, Ayah juga." ujarnya lagi seraya tergelak kecil.


Bersambung...