
"Aku mau ke Bandung besok, mau nyampein undangan sekalian ada yang mau diambil, kamu nggak papa kan aku tinggal? Sorenya aku balik kok!" ujar Raiz, saat di malam mereka hendak tidur.
"Nggak papa sih, tapi kamu beneran bakalan pulang kan?" tanya Jill, sembari mengoleskan masker ke wajah Raiz, tidak ada yang bisa keduanya lakukan saat di malam hari, mau berc*nta pun tidak bisa karena sarang yang masih banjir.
Jadilah Raiz menjadi kelinci percobaan Jill, sebenarnya selama ini Jill memang sudah memiliki brand kosmetik sendiri, bisnis yang sudah ia jejali kurang lebih satu tahun itu pelan-pelan akhirnya meningkat pesat juga, Raiz tidak tau saja masker yang Jill oleskan ke wajahnya itu adalah salah satu masker yang sedang sangat laris di pasaran, pundi-pundi rupiah pun mengalir deras ke rekening Jill.
"Ay, aku keknya punya ide deh saat ngaplikasiin masker ke kamu kek gini!" ujar Jill saat sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia melihat wajah Raiz yang menggemaskan, selama ini Jio lah yang selalu menjadi kelinci percobaannya, ternyata Raiz lebih menggemaskan dari yang dirinya duga.
"Ide apa?" tanya Raiz, dia tidak lagi banyak bicara, terus terang diperlakukan seperti ini oleh Jill membuatnya mengantuk, masker ini sangat nyaman saat diaplikasikan ke wajah, efek dinginnya memberikan rasa segar, ternyata merawat diri seperti ini nyatanya tidak buruk juga, selama ini Raiz hanya melakukan perawatan sewajarnya saja, cukup selalu terlihat bersih, rapi, dan wangi.
"Jadiin kamu model?" ujar Jill.
"Model?" dahi Raiz sedikit berkerut hingga mengakibatkan keretakan pada masker yang terlapis di dahinya.
"Iya! Ini itu kosmetik aku lho Ay!" jujur Jill.
"Masa sih?"
"Iya, tuh brandnya Almas, kan nama kedua aku!"
"Eh iya ya!" salut Raiz. Ia mengambil bunkus masker yang tadinya ditunjukkan oleh Jill.
"Sejak kapan kamu bisnis gede kek gini Ay?"
"Sejak Papa bolehin!" jawab Jill, "Setahun lalu!"
Raiz kira Jason yang membiayai bisnis Jill hingga berkembang pesat seperti ini, padahal Jill merintis usahanya itu benar-benar dari nol, hasil bolosnya di beberapa tahun. Uang bulanan yang diberikan oleh Jason untuk kebutuhannya sehari-hari, Jill gunakan untuk meniti, beberapa kali ia membuat bahan kosmetik di laboratorium kecantikan yang dirinya sewa, Jill juga mempekerjakan seorang dokter yang dirinya percayai akan bisa membantunya. Setelah semuanya rampung, Jill hanya minta Papanya itu untuk melancarkan pengesahan brandnya saja, karena hal semacam itu sedikit sulit untuk dilakukan anak yang belum genap berusia tujuh belas tahun sepertinya.
Jason yang selalu membebaskan anak-anaknya untuk memilih minat sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, malah dia mendukung keinginan putrinya itu untuk berbisnis, namun saat ia hendak menanamkan modal, Jill menolaknya, dengan alasan putrinya itu tidak mau memakai embel-embel nama ARAD Group, Jill ingin merintis sendiri usahanya, Jason terharu untuk kemandirian putrinya.
Untuk itulah Jason selalu mengatakan Jill adalah anak istimewa, anak itu mirip seperti dirinya, seperti dewasa sebelum waktunya, anaknya itu tidak suka belajar namun bukan berarti anaknya itu bodoh, Jill hanya tidak suka belajar berjam-jam duduk untuk mendengarkan teori, atau mengerjakan soal, atau menjelaskan apapun yang menyangkut pelajaran, saat ditanya kenapa? Jill selalu mengatakan dia bosan, kalau mendengar guru menjelaskan itu entah mengapa dia selalu mengantuk. Jill sering belajar di rumah, meski tidak begitu sering seperti Jio, Jill lebih ke membaca lalu memahami, bagi Jill sudah cukup, dan itu terbukti karena meskipun sering membolos namun Jill tidak pernah keluar dari peringkat kelas sepuluh besar. Entah bagaimana Jill melakukannya namun itulah Jill, seistimewa itu dirinya.
"Kayaknya aku sering liat brand ini deh di aplikasi belanja online!" ujar Raiz, dirinya memang seperti pernah melihat brand itu, dan saat ia ingin memastikan matanya membulat karena masker yang dirinya pakai adalah masker terlaris nomor satu di aplikasi belanja online yang berwarna oranye itu.
"Gilaaakkk! Ini serius Ay?" tanyanya tak percaya. Karena jujur saja dia tidak memperhatikan itu selama ini.
...***...
Celia masih tidak mau makan, dia terus-terusan kepikiran Oliv, bagaimana nanti dia menjelaskan, apakah Oliv akan bisa mengerti atau malah membencinya, Oliv begitu menyukai Jio, Celia bisa melihat tatapan matanya yang berbinar, wajahnya yang bersemangat tiap kali Oliv membahas Jio, meskipun kadang dirinya hanya menanggapi seadanya.
"Wajar dong cowok sekeren Kak Jio bikin orang klepek-klepek!"
"Gue enggak tuh!"
"Yeee, lo mah nggak normal kali, mata lo kebalik, coba deh lo liatin tuh bentuk wajahnya, kalo sampe lima detik lo bisa nggak ngedip berarti lo juga termasuk pengagumnya!"
"Gue? Kagum sama dia? Behhh dosa besar Memunah! Hadas besar itu namanya!"
"Ihhh tuh kan lo nggak normal!"
"Mana ada, tipe gue bukan kek dia kali, makanya gue nggak tertarik!"
"Tuh kan, secara nggak langsung Lo itu udah bener-benar jadi pengkhianat Cel, dih lo bego banget sih pake acara di terima lagi lamarannya Jio!" dengusnya menyesal.
"Sayang, kok makanannya nggak di makan?" tanya Zalin, dia baru saja sampai di rumah, mengunjungi Ibunya di pinggiran kota, sekalian juga ingin menyampaikan bahwa sebentar lagi Celia akan menikah.
"Mama udah pulang?" tanya Cel, ia langsung melahap makanannya meski rasanya hambar.
"Udah dari tadi malah, ngeliatin kamu bengong kek gitu, ada apa sih? Masalah Jio lagi?" terka Zalin.
Afik belum pulang kantor, belakangan ini suaminya itu sangat keras bekerja, kadang dia juga merasa sangat kasihan.
"Enggak kok Ma?"
"Apa Jio lagi-lagi gangguin kamu?" tanya Zalin.
"Enggak Ma, Cel sama Jio baik-baik aja!" dusta Celia.
"Mama harap kamu bisa nerima Jio ya, liat dia yang begitu yakin bilang cinta sama kamu, Mama jadi inget Papa kamu pas masih muda dulu!" Zalin tersenyum kala Afik mengajaknya menikah secara dadakan waktu itu.
"Padahal waktu itu Mama nggak pernah ada perasaan apapun sama Papa kamu, Mama ini sampe sekarang malah nggak inget masa lalu Mama, Papa kamu bilang Mama sama Papa itu udah di jodohin sedari kecil, Mama kayak nggak percaya aja, dan saat Papa kamu ngajakin nikah ya Mama kayak nggak ada pilihan lain, meskipun Mama nggak yakin tapi untungnya Mama mau nyoba, dan Alhamdulillah... Kamu tau kan gimana selama ini Papa memperlakukan Mama, dari Mama yang nggak ada keyakinan sama sekali, eh taunya Mama yang nggak bakalan bisa pisah kalau sama Papa, gitu pun kamu, jalani aja dulu... Jio kayaknya baik!" ujar Zalin mencoba meyakinkan Celia, membuang jauh keraguan yang terpancar di mata putrinya itu.
"Iya Ma, akan Cel coba!" sahut Cel sembari mengumpulkan kepingan kepercayaannya.
Bersambung...