Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Kekesalan Jio.



Terkadang kita bertemu di hari yang menyakitkan, lalu kau memelukku dengan lembut.


Apakah aku bisa merasakan pelukan itu lagi, setelah ini? Tolong katakan 'Ya' meski kau hanya membohongiku, aku hanya ingin mendengarnya untuk menenangkan hati yang sudah kacau ini.


^^^Jio.^^^


___


Mereka sudah mengambil keputusan, Raiz dan Jill akan menikah satu Minggu kemudian. Dan akan dilaksanakan di kediaman Jason, mereka sudah menyepakati itu, termasuk untuk merahasiakan sementara pernikahan Jill dan Raiz setidaknya sampai Jill tamat SMA nantinya.


Mendengar itu, saat Jill dan keluarganya kembali ke rumah, Jio menatapnya tajam seolah memberi tahu kalau kembarannya itu kecewa.


"Jio!" panggil Jason heran, mengapa putranya itu melayangkan tatapan tidak suka padanya.


"Bagus sekali, kalian memutuskan tanpa seizinku!" ujar Jio, rahangnya mengeras, ia tidak pernah merasakan seburuk itu.


"Udah deh Yo, orang aku yang mau kok!" sahut Jill, gadis itu mengacuhkan kembarannya itu dan bersiap pergi ke kamar, sebelum langkahnya terhenti kala Jio memanggilnya dengan berteriak.


"Jilly!" berang Jio.


"Jio, bisa sopan sedikit, Papa kamu masih di sini!" protes Shirleen. Ia tidak tau menahu tentang perubahan sikap Jio, namun yang pasti tentunya memberang keras seperti itu di hadapan orang tua memang bukanlah hal yang benar.


Jio tidak perduli, ia memegang tangan Jilly dan memaksanya untuk menjauh, dia benar-benar merasa hancur, mengapa Jill menikah secepat itu.


"Yo lepas!" Jilly berusaha melepaskan cekalan tangan Jio, dia memberoktak karena sudah tau Jio tentunya akan membahas apa.


"Ikut gue!" dengus Jio kesal.


Shirleen panik, ia menyuruh Jason untuk mengikuti kedua anaknya.


"By ayok, liatin itu, Jio kok mukanya tiba-tiba nyeremin amat?"


"Masa sih?"


Akhirnya mereka berdua mengikuti Jill dan Jio, ternyata Jio membawa Jill ke kolam berenang, terlihat Jill yang menghempaskan kasar tangan Jio, dan menatap nyalang kembarannya.


"Lo udah gila ya?" berang Jill, ia mengelus pergelangan tangannya yang sedikit memerah.


"Lo ngapain pake acara mau nikah hah?" tanya Jio, kasar dia benar-benar kesulitan mengendalikan dirinya.


"Ya serah gue dong, calon calon gue, ngapain lo yang repot?"


"Jill!" tangan Jio terulur hendak mencengkram pundak Jill namun tak jadi dirinya lakukan karena rasanya tidak sanggup, tidak Jio masih sadar seharusnya ia tidak menyakiti adiknya ini. "Aaarrggghhh!" teriaknya mengungkapkan kekesalan.


"Gue kan udah bilang, lo harus bisa ngadepin ini, lo harus lawan!" ujar Jill, kali ini nadanya lemah tidak lagi sesewot tadi.


"Gue nggak bisa Jill!" sahut Jio, dia juga melemah.


"Terus mau lo apa? Lo jangan gila ya?"


"Ya... Yaaa gue nggak tau, pokonya kenapa sih lo harus ninggalin gue secepat ini?" ujarnya lagi frustasi.


"Yo, ya kalau gue udah milih jalan kek gini, artinya gue udah siap!"


"Jill, lo benar-benar nggak ada perasaan, Lo bener-bener nggak mikirin perasaan gue!" keluh Jio.


Mendengar itu, Jill mendengus kesal, apa kata Jio? Dia yang tidak pernah memikirkan perasaan Jio, bukankah selama ini malahan dirinyalah yang selalu memikirkan perasaan kembarannya itu, dia selalu menomorsatukan Jio, tidak peduli bahkan jika dia harus dicap buruk sekalipun.


Bertahun-tahun dia melakukannya, namun Jio dengan gampangnya berkata bahwa dia tidak pernah memikirkan perasaannya.


"Apa gue harus bilang ke lo kalau gue beneran peduli? Apa gue harus bilang ke lo dulu kalau gue mikirin perasaan lo? Lo egois Yo!" sahut Jill, matanya menatap Jio kecewa.


"Lo sebenarnya bukan nggak bisa hidup tanpa gue, tapi justru di sini lo lah yang cuma bisanya mikirin perasaan lo doang, nggak pernah mau liat sekeliling, nggak pernah berdamai sama diri lo sendiri, bukan gue yang nggak mikirin lo, lo yang nggak mau buka hati lo, buat seseorang kali aja ada yang mau masuk!" kemudian Jill berlalu pergi meninggalkan Jio.


Bersambung...