Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Panggilan sayang.



Dia terlalu menggemaskan! Aku selalu ingin bersamanya, setiap hari, setiap jam, menit, bahkan setiap saat!


^^^Raiz. ^^^


___


"Yang tadi..."


"Stop! Jangan dibahas!" cegah Jill, ia tidak siap jika membahas yang terjadi tadi, biarkan saja hal itu seolah tidak pernah terjadi, yah benar! Lebih baik begitu.


"Maaf!"


Raiz sudah tidak berselera lagi untuk makan, malunya sudah sampai di ubun-ubun, dia benar-benar kelepasan tadi, Jill benar-benar begitu menggoda, bahkan hanya dengan memikirkannya saja Raiz sudah hor.ny duluan. Awas saja saat di malam pernikahan nanti, gadis itu benar-benar tidak akan dia lepaskan.


"Kamu bisa makan, nanti keburu dingin!" ucap Raiz, canggung sekali, yang dirinya inginkan saat ini hanyalah pulang, tidur dan melupakan semua itu, dan berharap besok benar-benar lupa.


Jill menyendokkan nasi putih dan kemudian sayur sup, dia makan dengan tenang sembari sesekali melirik Raiz, jantung Jill benar-benar deg-degan, takut Raiz melakukan sesuatu, namun pemikirannya masih saja berusaha untuk positif.


"Kamu tidak makan?" tanya Jill, melihat Raiz yang diam saja ia jadi tidak nyaman, calon suaminya itu benar-benar menjadi pendiam saat ketahuan kalau ada sesuatu yang menyembul dibalik celana.


"Aku sudah!" ujarnya beralasan, tentu saja itu berdusta.


Kruuuuukkk,


"Pfftt!" Jill menahan tawanya karena mendengar suara perut Raiz yang sepertinya butuh asupan makanan, dilihatnya Raiz yang hanya bisa nyengir kuda.


Raiz merutuki kebodohannya, mengapa sang perut harus juga berbunyi di saat yang tidak tepat.


"Nggak baik loh boong, kalau laper makan aja sih!" ujar Jill menggoda.


Raiz mengalihkan pandangannya, habis sudah, ini benar-benar memalukan.


"Yakin nggak mau makan?" tawar Jill lagi.


Jill tersenyum, dia melihat Raiz yang salah tingkah, sudahlah dia juga sebisa mungkin akan melupakan itu. Dari pada diingat-ingat malah akan menambah canggung mereka.


"Kamu mau dipanggil apa? Kalau udah nikah nanti?" tanya Jill, ia mencoba mencairkan suasana. Mengingat Raiz pernah membahas tentang panggilan sayang, jadi dirinya juga akan membahasnya lagi.


"Kenapa? Emangnya kamu mau?" tanya balik Raiz.


"Emmm!" Jill mengangguk pelan.


"Ay! Aku mau manggil kamu kek gitu, boleh?" tanya Raiz.


Jill tampak berpikir, not bad, cukup romantis menurutnya.


"Oke aja, jadi kalau aku panggil kamu apa?" tanya Jill, bagai anak SD yang baru mengenal pacaran. Untung bukan Ayah Bunda kayak yang pernah dilihatnya di media sosial dengan lambang huruf F biru.


"Ay juga, atau Ayang!" jawab Raiz.


"Hemmm, jadi Ay, Ayang, kok aneh ya?" gumam Jill.


"Kamu nggak mau?" spontan Raiz langsung peka.


"Aahhh, eh enggak enggak, bukannya nggak mau, cuma belum terbiasa aja kali ya!" sahut Jill.


"Kalau kamu nggak mau aku nggak papa kok!"


"Aku mau kok Ay..." ujar Jill lembut, serasa langsung ngena tepat di hati Raiz, entah kenapa dia ingin saja dipanggil semacam itu, bahkan dia pernah berencana jika dia menikah nanti, dia akan tetap memanggil panggilan sayang itu untuk sang istri.


"Makasih ya!"


Lalu keduanya melanjutkan makan, beberapa kali Jill memikirkan panggilan itu, tidak buruk sih sebenarnya tapi entah kenapa dia sepertinya lumayan geli. Ternyata yang bucin banget di sini bukan dia, tapi Raiz.


Bersambung...