
Kau terlihat semakin cantik jika tersenyum, aku semakin suka!
^^^Raiz. ^^^
___
"Ramah banget Pak!" sindir gadis itu cemberut. Dia tentu saja tidak suka akan kedekatan Raiz dan Winda, karena dia tau Winda memiliki perasaan lebih terhadap Raiz.
"Ya harus ramah lah, namanya juga sesama guru!" elak Raiz.
"Ohhh gitu!" Jill bangkit dan hendak pergi, namun pergelangan tangannya langsung saja dicekal oleh Raiz.
"Mau ke mana sih? Sini aja dulu!" cegahnya.
"Mau balik!" sewot Jill.
"Jill ngapain sih, kamu marah, cemburu sama Bu Winda?"
"Tau ah!" Jill kesal.
"Sini sini!" Raiz membawa Jill duduk di sofa, lalu dia juga duduk di sebelahnya.
"Sebenarnya di bagian mana yang kamu nggak suka? Coba jelasin, dia kan cuma nanya perihal Anisa, ya wajar dong!" Raiz mencoba memberi pengertian pada kekasihnya itu, barang kali saja Jill masih mau mendengarkannya.
"Iya cuma mau nanya tentang Anisa, tapi nggak pake ngurusin box makanan kamu juga dong!" gusar Jill.
"Oh masalah itu... Udah ah jangan ngambek, masalah gitu aja digedein, ilang nanti cantiknya kamu!" goda Raiz.
"Receh!" Jill mengalihkan wajahnya menghindari Raiz, seulas senyum terukir di bibir tipisnya, niatnya ingin marah malah bungkam hanya karena disogok pujian, dasar labil makinya pada diri sendiri.
"Lah apanya yang receh coba, emang beneran cantik kok!" rayu Raiz, sebenarnya tidak ada yang salah sih dengan perkataannya, meskipun orang bilang cantik itu relatif, tapi percaya deh, sembilan dari sepuluh orang di dunia ini tentunya akan setuju jika Jill disebut-sebut sebagai gadis yang cantik.
Jill menoleh kembali Raiz, ia menatap heran gurunya itu, masih juga kepikiran tentang hal semacam itu, dia tidak menyangka kalau Raiz lumayan bucin.
"Emangnya biasanya orang pacaran manggil apa?" tanya Jill pura-pura tidak tau.
"Yaa... Banyak, sayang, emmm beib, atau apalah?"
"Kayak Mama sama Papa aku?" tebak Jill.
Jill sebenarnya kadang suka sewot karena Papa dan Mamanya itu udah tua juga masih aja panggilannya By, Baby, dasar bucin ampun nggak ketulungan, umpatnya tidak mengerti. Tapi tentunya itu saat ia belum mengenal cinta, lah sekarang saat Raiz menanyakan itu padanya mengapa dia juga antusias dan mau juga kan rasanya. Ah otak warasku, mengapa pada akhirnya kau juga harus berkhianat? Batin Jill.
"Emang mereka gimana?" tanya Raiz ingin tau.
"By, panggilannya By, Baby, udah tua juga! Katanya sih dari waktu pacaran manggilnya udah gitu, keterusan kayak udah biasa!" jelas Jill.
"Hemmm, romantis juga ternyata Papa kamu?"
"Heh, baru tau Papa ganteng romantis, bukan cuma romantis kadang juga suka nggak waras, over dosis posesif gilak!" Jill tampak antusias menggosipkan Papanya.
"Papa ganteng?" heran Raiz, iya dia ingat berapa kali dia mendengar Jill memanggil calon mertuanya itu Papa ganteng, sebenarnya bagaimana sih kehidupan di dalam keluarga Jason Ares Adrian itu, yang lumayan tertutup karena selama ini Jason memang tidak membiarkan keluarganya menjadi konsumsi publik.
"Iya, si Jason yang kalian bangga-banggakan itu sebenarnya penganut narsisme, kalau udah ngaca bisa kalah anak perawan!" heboh Jill lagi, dia benar-benar sudah lama tidak bergosip tentang Papanya karena tidak memiliki teman, dulu dia selalu melakukan itu dengan Misca, namun karena saat ini Misca sedang menjalani studinya di Amerika, jadi Jill benar-benar kesepian jika di rumah.
"Oh ya?" Raiz ingin tertawa, tapi apa tidak apa.
"Iya!" angguk Jill senang, hilang sudah kisah cemburunya dengan Winda, sepertinya Raiz memang bisa mengambil hati Jill.
Bersambung...