
Bisakah aku mencintaimu, jika kau masih tidak mencintai orang lain?
Aku sudah sangat sadar bahwa aku juga memiliki perasaan terhadapmu, jadi bisakah aku membalasnya sekarang?
^^^Raiz.^^^
___
Raiz menatap kosong pada cermin yang menampilkan wajahnya. Ia akan menikah sebentar lagi, orang-orang juga sudah ramai berdatangan, namun dirinya enggan keluar dari kamar yang telah disediakan untuknya di rumah Aliyah itu.
Ia benar-benar tidak ingin menikah, Raiz baru menyadari saat acaranya sudah akan berlangsung, rasanya jika boleh memilih dia benar-benar belum siap untuk menikah, atau mungkin lebih tepatnya tidak siap menikahi Aliyah. Karena sedari tadi pikirannya tertuju pada wanita lain yang memang lebih menarik perhatiannya, wajah Jill benar-benar telah memenuhi ruang pikirannya.
Namun semuanya sungguh sudah terlambat, dia tidak bisa lagi mengajukan penolakan jika sudah seperti ini.
"Raiz kok belum keluar?" tanya Ummi Hana, dia mencari putranya itu, namun tidak nampak di mana-mana, semenjak tadi datang Raiz sudah dibawa ke sebuah kamar untuk berganti pakaian, setelah itu dia benar-benar tidak berniat keluar dari kamar itu.
"Acaranya udah mau mulai Mi?" tanya Raiz. Ia mencoba menetralkan rasa canggungnya, meski bagaimanapun dia tidak boleh mengecewakan kedua orang tuanya.
"Sudah, ayok! Kamu lagi apa sih di dalem mulu, banyak yang tanyain mana calonnya Aliyah, tapi kamunya nggak terlihat di mana-mana!" gerutu Ummi Hana.
Raiz bangkit, dia melangkah keluar kamar, tak disangka ternyata ruang keluarga itu sudah penuh akan orang yang ingin menjadi saksi pernikahannya dan Aliyah.
"Wah, benar-benar tampan!"
"Pak Januar benar-benar tidak salah memilih mantu!"
"Ini anak Kyai yang terkenal itu kan, benar-benar suami idaman, pantas saja Aliyah ngotot mau minta nikahin!"
"Iya, duh beruntung sekali Aliyah!"
Desus-desus puja dan puji memenuhi ruang telinga Raiz, dia hanya bisa menggeleng pelan kala dirinya lah yang menjadi bahan pembicaraan emak-emak yang kelewat rempong itu.
Raiz melihat wajah Aliyah dewasa untuk pertama kalinya, karena saat mereka melayangkan pertemuan kemarin Raiz benar-benar tidak melirik Aliyah, mungkin dia melihat wajah itu namun sudah lupa bagaimana rupanya, masih dengan alasan yang sama, Jill.
"Calon mempelai pria silakan duduk!" pinta Pak penghulu, yang ternyata sudah hadir sedari tadi.
Raiz duduk di hadapan Pak penghulu, ia masih mencoba bersikap tenang, dan memfokuskan dirinya bahwa ia akan menikah.
Raiz hanya duduk sendiri, di hadapannya sudah ada penghulu dan juga calon mertuanya. Sementara Aliyah duduk sedikit jauh darinya didampingi Ibunya dan juga Ummi Hana.
"Siap!" sahut Raiz mencoba yakin.
"Saudara Raiz Hanif Al-Haaqi bin Kyai Haji Muhammad Asrun, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Aliyah Difta Qhistina binti Januar Haidir dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..."
"Saya terima nikah dan kawinnya Jilly Almas Putri Adrian dengan maskawin tersebut tunai!" sambung Raiz langsung, dia sampai tidak tau apa yang dirinya ucapkan.
"Apa? Maaf Nak Raiz, sepertinya anda salah mengucapkan nama!" ujar Pak Penghulu yang mengamati.
"Ah maksudnya Pak?" tanya Raiz tidak mengerti, ia mengedarkan pandangannya, dilihatnya banyak orang yang sudah berbisik-bisik, tanpa Raiz ketahui penyebabnya.
Kyai Ahmad melotot tidak percaya, bagaimana bisa Raiz menyebutkan nama orang lain menggantikan nama Aliyah. Apa lagi di saat mengucapkan ijab qobul seperti ini. Dan lagi, siapa pula itu Jilly, pikirnya.
Aliyah juga tidak percaya, Raiz bahkan bersikap memalukan di hadapan tamu mereka pagi ini, dia penasaran dengan siapa wanita yang disebut namanya oleh Raiz itu.
Sementara Ummi Hana, ia memegangi dadanya yang sesak, mendengar Raiz menyebutkan nama Jilly, tentunya ia sebagai seorang Ibu yang peka, takut akan suatu hal, mungkinkah Raiz dan Jilly memang memiliki sesuatu yang spesial. Tapi bukankah kemarin keduanya baik-baik saja, memiliki hubungan guru dan murid, rasanya tidak ada yang lebih jika dilihat dari kedekatan keduanya waktu itu.
"Anda menyebutkan nama orang lain tadi!" ungkap Pak Penghulu menjawab segala kebingungan Raiz.
Mendengar itu Raiz merasa tidak nyaman, ia berusaha untuk tetap tenang lalu menunduk meminta maaf pada calon mertuanya yang terlihat kecewa.
"Maafkan Raiz Om!" ucap Raiz.
"Ya sudah, kita mulai lagi dari awal!" ujar Pak penghulu.
"Nak Raiz, apa sudah di hapal betul siapa nama calon istrinya?" tanya penghulu.
Raiz mengangguk, "Aliyah Difta Qhistina!" ucapnya menyebutkan nama lengkap Aliyah dengan lancar.
"Baiklah, silakan Pak!" penghulu itu kemudian menyuruh Ayahnya Aliyah untuk memulai.
"Saudara Raiz Hanif Al-Haaqi bin Kyai Haji Muhammad Asrun, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Aliyah Difta Qhistina binti Januar Haidir dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..."
"Saya terima nikah dan kawinnya Jilly Almas Putri Adrian dengan maskawin tersebut tunai!" sambung Raiz lagi dengan cepat, dia benar-benar tidak sadar apa yang dirinya ucapkan, karena pemikirannya yang terus tertuju pada Jill, akhirnya dia sampai salah menyebutkan nama wanita yang ingin dirinya nikahi, atau secara tidak langsung Raiz benar-benar tengah mengharapkan bahwa Jill-lah yang seharusnya menjadi istrinya.
Bersambung...