Oh My Jilly!

Oh My Jilly!
Perubahan Jill.



Aku akan selalu berdoa untuk anak-anaku, bahagia selalu, tertawa, tetap menjadi periang dan penghangat suasana, jika aku sudah tiada nanti semoga kalian semua bisa menjaga keharmonisan itu lebih lama lagi, lebih lebih lebih lama lagi.


^^^Shirleen.^^^


___


Malamnya, Raiz dan Jilly memang menginap di rumah utama, karena Jilly harus membereskan barang-barangnya terlebih dahulu untuk pindah ke rumah Raiz, besok rencananya sekalian sekolah mereka akan pindah, karena jarak sekolahan mereka ke rumah utama sungguh jauh jadi Raiz dan Jilly memutuskan untuk pindah lebih cepat.


Raiz heran saat Jill tetap saja mengenakan jilbab saat dia baru saja datang karena habis mengobrol banyak dengan Jacob dan Jason, setelah mandi dan berganti pakaian dengan piyama, istrinya itu malah mengenakan jilbab dan mematut sebentar wajahnya di cermin.


"Kamu pake jilbab Ay?" tanya Raiz.


"Iya, gimana udah cocok belum?" tanya Jill, beberapa hari ini sebelum pernikahan dia memang memesan via online beberapa potong pakaian tertutup serta jilbab untuk melancarkan niatnya yang ingin segera berubah menutup aurat.


"Masyaalah! Cantiknya istriku!"


"Dih receh lagi kan!"


"Lho, dipuji malah bilang receh, aku beneran lho Ay!" ucap Raiz, ia mulai mendekati Jill dan dengan pasti kedua tangannya sigap melingkar memeluk Jill.


"Kamu lebih cantik kayak gini, aku suka!" bisik Raiz yang sejurus membuat Jill mer*mang, tiba-tiba ingatan tentang dirinya yang pernah tidak sengaja melihat sesuatu menyembul dibalik celana Raiz waktu itu terputar ulang, Jill segera melepaskan diri, matanya berkedip-kedip karena sedang menghalau pemikiran tidak senonohnya itu.


"Kamu kenapa sih? Kedip-kedip gitu?" tanya Raiz.


"Hah?"


"Kamu... Tiba-tiba kedip-kedip, kenapa? Kelilipan? Sini aku liat?" Raiz langsung membawa tubuh Jill mendekat padanya, ia memeriksa mata Jill namun anehnya tidak menemukan apapun.


"Nggak ada kotoran atau bulu mata, masih perih apa gimana?" bingung Raiz.


Mataku nggak perih ya Tuhan, hanya saja pikiran kotor ini kenapa sudah menjarah di separuh otakku?


"Udah, aku udah nggak papa!" untuk menghindari canggung Jill merasa dia harus mengakhiri ini, "Aku kebawah dulu ya, belum makan!" ujar Jill.


"Hemm, ya udah, aku juga mau mandi!" sahut Raiz.


"Anak Bunda..." ucap Shakira, dia begitu senang akan perubahan Jill, dia juga menginap di rumah utama, dia masih sangat rindu dengan putrinya itu.


"Aku cantik nggak sih Bun?" tanya Jill antusias.


"Cantik, cantik kok!" angguk Shakira.


"Abang mana Jill?" tanya Shakira, karena sedari tadi dia sulit sekali untuk menemukan Jio.


"Nggak tau Bun, sama Bang Jack kali!" jawab Jill, dia saja baru keluar kamar, jadi tentunya tidak mengetahui keberadaan Jio.


"Bang Jack sama Ayah itu lagi sama Papa kamu, kamu udah makan?" tanya Shakira.


"Belum Bun, laper sih!"


"Duh kasian banget pengantinnya kelaparan!" Shakira langsung saja menyendokkan nasi beserta lauk untuk Jill, kemudian dengan telaten menyuapi putrinya itu.


"Udah gede ngapain diturutin sih Bun, kelewat manja nanti!" ujar Shirleen yang baru ikut bergabung, dia juga lapar karena sedari tadi ada saja yang diurusnya.


"Tidak apa-apa Nona, saya senang melakukannya!" sahut Shakira.


"Tuh denger Ma, Bunda ini emang paling the best deh!" puji Jill.


"Oh gitu!" cibir Shirleen, "Kayaknya Mama akan berada di nomor kesekian deh mulai saat ini, sama Bunda aja Mama suka kalah, ini ditambah lagi satu saingan, Ummi kamu juga kayaknya bakal manjain kamu, bakalan tereliminasi lebih cepat ini Mama keknya!" Shirleen memasak mimik muka sedihnya.


"Saya tidak pernah mengharapkan itu Nona, karena saya tidak pantas mendapatkannya!" ujar Shakira, ia langsung saja bangkit dan kemudian membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf, ia tidak bisa melihat Shirleen bersedih, apa lagi hal itu terjadi karena dirinya.


"Shakira kamu ini nggak berubah-berubah yaaa, udah tujuh belas tahun lho, kamu ini robot atau apa sih, aku cuma becanda ya salaaaammm Shakira!" gondok Shirleen sembari menepuk jidatnya. Dan sayangnya selama tujuh belas tahun ini juga dirinya juga tidak percaya ada orang seperti Shakira.


Jill hanya bisa tertawa saat melihat Mamanya yang lagi-lagi harus uji kesabaran dibuat Bundanya, sudah lagu lama kalau ini mah, batinnya di sela-sela tawa. Bunda memang ajaib!


Bersambung...