
"Cel, lo kenapa sih ngehindarin gue mulu? Gue ada salah sama lo?" sergah Oliv karena dari tadi Celia tampak enggan bersamanya. Sahabatnya itu benar-benar menghindarinya.
"Gue..."
"Gue udah tau dari Papa gue, maafin gue yaaa!" ujar Oliv kemudian, ia langsung saja memeluk sahabatnya itu, satu-satunya orang yang mau menjadi temannya pertama kali saat dia pindah ke Indonesia.
"Hah?"
"Papa udah cerita semuanya, gue bakalan bantu lo pegang rahasia ini, kita hadapi sama-sama, gue juga sakit dengernya, maafin gue karena sempet benci sama lo, gue kira emang kemauan lo yang pacaran sama Kak Jio, tapi nyatanya semua itu nggak seperti yang gue bayangin, maafin gue ya sekali lagi!" lirih Oliv.
Yah, dia memang sudah mendengar kabar dari Papanya kalau Celia akan menikah dengan Jio karena suatu kesalahan, Papanya juga bilang kalau Jio yang ngebet banget pengen nikahin Celia, selain untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, katanya Jio juga begitu mencintai Celia. Meski untuk poin yang kedua, Oliv tidak bisa mempercayai sepenuhnya, tapi oke akan ia coba untuk percaya.
Dia sedang berada di tahap merelakan, meskipun berat namun mau bagaimana lagi, dia tetap harus merelakan Jio, kalau pun Jio tidak bersama Celia bukankah juga belum tentu Jio punya perasaan padanya, bahkan jika kehadirannya saja sudah dianggap ada oleh Jio, Oliv sudah sangat bersyukur, namun kelihatannya dari mulai dia berada di Indonesia hingga kini, Jio bahkan tidak pernah melihatnya barang sedikitpun.
"Hiks hiks!" Celia membalas pelukan Oliv erat, baginya hanya Oliv lah yang mengetahui bagaimana perasaannya. "Gue nggak tau harus gimana Liv, gue susah banget sekarang, gue... maafin gue udah ngerebut Jio dari lo! Sungguh gue nggak ada maksud sama sekali Liv! Maafin gue!"
"Udah udah, lo malahan nggak perlu minta maaf kali, apa lagi kan katanya Kak Jio juga cinta sama lo, lo harus terima dong, sayang barang bagus kalau disia-siain!" ujar Oliv menghibur, yah meskipun tidak tau bisa atau tidaknya menghentikan tangis Celia.
"Lo ini, emangnya lo kira tuh es batu barang apa!"
"Kayaknya nikah sama es batu nggak selamanya buruk deh Cel, kan ada kalanya itu es bakalan cair!" lanjutnya.
"Gue nggak berharap dia berubah sih!" lirih Celia.
"Yah, lo gimana dong, semangat dong, lo pasti bisa naklukin dia, kalian itu keknya beneran jodoh, yang satunya dingin, yang satunya suka menghangatkan suasana, jadi pas deh, Tuhan kayaknya emang adil!" dari dulu pembahasan tentang Jio selalu membuat Oliv bersemangat, nyatanya perasaan itu belum bisa hilang sepenuhnya, dan Oliv sedang berusaha untuk melupakan Jio dari angan-angannya, Jio sudah tidak mungkin lagi dirinya gapai.
...***...
"Jilly ya?" tanya seorang cowok.
Jill menoleh, namun sedetik kemudian dia tidak menghiraukan.
"Lo emang kayak gini ya?" tanyanya lagi.
"Sombong gitu?"
Jilly masih betah melihat ke arah lapangan, tatapannya kosong, dia tidak bersemangat karena suaminya tidak masuk.
"Gue tau lo cantik, punya segalanya, tapi kalau nggak ada sopan santun juga percuma kali!"
Dan berhasil, Jill menoleh, mengangkat sebelah alisnya seolah mengisyaratkan berani sekali cowok itu berkata seperti itu tentangnya.
"Gue bicara apa adanya? Lo bahkan nggak mau gue ajak kenalan!"
"Kalau gue nggak mau, itu berarti gue nggak mau berurusan sama lo, jadi temen ataupun jadi musuh! Sampai sini paham kan? Kadang antara gigih sama nggak tau diri itu bedanya tipis banget!" ujar Jill telak.
"Lo!" berang Ramond.
Ramond menahan kesalnya, niat awal dirinya mendekati Jill tadi ingin mengajak gadis itu berkenalan, namun apa ini, gadis itu malah menantangnya.
Jill bangkit dan hendak meninggalkan Ramond, namun tangannya segera di ambil alih oleh pemuda itu.
"Lepasin gue!" ujar Jill, tidak membentak namun tidak juga ramah, suaranya seperti sedang menahan sabar.
"Heh, lo kira lo bisa ngenghindarin gue?" kali ini Ramond lagi yang menatap remeh Jill.
Jill tersenyum smirk, dalam hatinya ia kembali meminta maaf pada Raiz, karena terpaksa harus berbuat masalah lagi.
Braakkk!
Jill menendang tepat di pusaka milik Ramond, kemudian tangan Ramond yang melemah memberinya kesempatan untuk kabur, tapi bukan Jill namanya jika dia harus menghindar, Jill malah mengambil kedua tangan Ramond membawanya ke belakang, dengan cepat mengunci pergerakan Ramond, Jill menengkurapkan tubuh Ramond ke lantai kemudian menahan tubuh itu dengan kakinya kuat.
"Lo pasti tau kan prestasi gue sebelumnya di SMA lama gue? Guna Bhakti itu lumayan disiplin, hampir sama kek sekolah kita ini, tapi gue nggak bakalan segan-segan bikin masalah, kenapa? Karena gue paling nggak suka liat orang-orang belagu kayak lo ini!" ujar Jill, sembari kakinya semakin menekan tubuh belakang Ramond.
Ramond benar-benar tidak bisa membayangkan bahwa dirinya akan kalah dengan seorang gadis, saat ia ingin melepaskan diri saja entah kenapa kuncian yang dilakukan Jill padanya tidak mudah ia lepaskan.
"Sialan lo!" umpat Ramond.
"Gue harap, ini terakhir kalinya Lo nunjukkin muka nggak tau diri lo ini sama gue, atau gue bakalan bikin lo sakit jiwa kayak korban gue waktu itu?" ancam Jill.
"Bangs*t lo!" Ramond memberontak.
"Kalian!" teriak Winda, dia baru saja akan masuk kelas, namun ia melihat pemandangan yang tidak seharusnya ada di sekolah ini, Jill tengah menginjak tubuh seorang siswa.
Jill tersenyum smirk, ia menatap Winda dengan nyalang, lalu ia melepaskan Ramond dan mendekati Winda. "Setelah ini, pastinya lo berniat buat aduin gue ke kepsek? Kang ngadu! Fyuuuhhhh!" Jill meniupkan napasnya tepat di wajah Winda, kemudian benar-benar berlalu meninggalkan Winda dan Ramond.
Memberikan kesempatan pada Ramond untuk membuat pengaduan tentang dirinya, heh! Tentunya hanya orang bodoh yang akan percaya.
"Dasar banci!" gumamnya mengumpat.
Winda membantu Ramond berdiri, jejak sepatu Jill bahkan tercetak jelas di seragam siswanya itu.
"Nggak mungkin dia yang nyerang kamu kan?" tanya Winda memastikan.
Ramond mengalihkan pandangannya, kemudian berlalu tanpa berniat menyahuti pertanyaan Winda, dalam posisi serba salah, jika dia mengatakan Jill yang menyerangnya itu berarti dia harus kalah dengan anak perempuan, tapi jika dia bilang dialah yang membuat masalah, hal itu tentunya tidak akan terdengar baik pula.
Satu-satunya jalan yang lebih baik mungkin dia bisa bungkam saja tanpa menjelaskan apapun, mau bagaimana lagi? Setidaknya dirinya harus mempertahankan harga diri.
"Tidak menjawab? Tidak mungkin anak cowok itu kalah sama Jilly kan?" gumam Winda tak percaya.
Bersambung...