
Aku akan mencoba dengannya, selama dia bisa mencintaiku maka selama itu juga aku akan terus bersamanya.
^^^Raiz.^^^
___
"Ini obatnya, tadi juga sudah dikasih suntikan!" ujar perawat sembari memberikan nota pembayaran yang harus ditebus Raiz.
Jill sedang menunggu tak jauh darinya, gatal-gatalnya sudah sedikit mereda, hanya tinggal ruam kemerahannya saja yang masih belum menghilang.
Raiz membayar obat Jill, setelahnya ia langsung mengantar Jill untuk pulang.
"Pulang ke mana?" tanya Raiz saat mereka sudah sampai di parkiran.
"Ke apartemen aja." sahut Jill.
"Oke!"
Raiz mengantar Jill ke apartemen, dia tidak mengizinkan lagi calon istrinya itu kembali ke sekolah, dan Raiz tidak menerima bantahan, dia sudah sangat bersalah telah membuat Jill sakit begitu.
Lima belas menit berlalu, akhirnya mereka sampai di apartemen.
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Raiz, ia mengedarkan pandangannya pada paartemen yang sudah seluas rumah minimalisnya itu, sepertinya Jason memang sangat kaya, lebih kaya dari apa yang dirinya bayangkan. Terbukti dari apartemen untuk tempat persinggahan Jill saja sudah semewah ini.
"Iya!" sahut Jill, gadis itu duduk di sofa, menghidupkan televisi untuk membunuh kecanggungan.
"Nggak ada pembantu? Tapi apartemen kamu bersih!" Raiz pikir, Jill tinggal bersama seorang pembantu untuk menemaninya, tapi ternyata tidak, tidak ada siapapun di apartemennya ini, apa Jill membersihkan semuanya sendiri ya pikirnya.
"Tiap pagi ada orang yang beresin, aku juga jarang di rumah, kalau mau makan palingan ke bawah, atau makan di luar, kalau sabtu minggu jadwal aku pulang ke rumah." ujar Jill, ia melihat ponselnya, karena sedari tadi bergetar, ternyata Papanya yang menelpon. Ingin menelpon balik tapi pikirnya nanti saja saat Raiz sudah pergi.
"Raiz!" seru Jill, ia ingin menanyakan suatu hal pada calon suaminya itu.
"Hemmm!" Raiz mendekat dan duduk di samping Jill.
Keduanya memang sudah sepakat untuk memanggil nama masing-masing, Raiz tidak nyaman dipanggil 'Pak' oleh calon istrinya, cukup di sekolah saja Jill memanggilnya begitu.
Raiz memegang tangan Jill tiba-tiba dan mengusapnya perlahan, "Bukannya ini yang kamu mau? Kamu bilang suka sama aku kan, aku rasa sudah sepatutnya aku membalas, awalnya aku emang ragu, takut kalau kamu cuma main-main, tapi makin hari ngeliat kamu selalu bertindak diluar dugaan, aku malah jadi mikir apa kamu beneran serius?"
"Jilly, kamu nggak mencintai sendirian kok! Aku juga sama, udah suka sama kamu, bahkan dari awal kamu masuk ke sekolah, aku udah sering liat kamu, entah kenapa kamu itu kayak narik aku untuk selalu gunain mata aku ini buat ngawasin kamu, tapi yaaa aku cukup tau diri lah, pertama umur, status kita beda, kamu juga anak dari Tuan Jason, kayaknya aku terlalu serakah kalau sampai ngejar kamu, meskipun kamu berapa kali pernah bilang kamu suka, ya aku tetap aja nggak yakin, lagian selama ini aku emang nggak ada niatan untuk pacaran, kalau serius ya langsung aja nikah!"
"Dan juga, gak lama aku taunya emang dijodohin sama Aliyah kan, aku yang waktu itu emang nggak yakin sama kamu ya nurut aja apa kata Abi, Ummi!" jelas Raiz, sekalian ia mengungkapkan perasaannya pada Jilly, menegaskan bahwa gadis itu sebenarnya tidak pernah mencintai sendirian.
"Masa sih? Tapi kamu cuek gitu, aku aja hampir nyerah!" Jill menahan senyumnya, namun sayangnya tidak bisa.
"Apa? Beneran kamu hampir nyerah?"
"Iya, beberapa hari kemarin, aku males banget keluar, mau menghindar rencananya, tapi pas hari jumat itu, Papa sama Ayah dateng ke sini, mereka kasiin fakta tentang Aliyah."
"Terus?"
"Ya aku mikir dong, kalau udah ngancurin pernikahan orang itu ya kayak gimana, tapi Papa bilang, katanya kalau cinta harus pertahanin sampe akhir, makanya nekad cegah kamu nikah!"
"Sempat ragu juga, karena kamu kan tau sendiri, apa yang dibilang Papa itu semuanya bener, aku ini keknya cuma taunya mau nikah, tapi sebenarnya nggak begitu paham, nikah itu apa sih? Kalau udah nikah itu gimana sih?Aku harus apa, suami harus apa, aku cuma taunya kamu harus sama aku, maaf ya kalau aku kesannya kek maksa!" ungkap Jill tulus.
Raiz tersenyum, kemudian ia mengusap lagi tangan Jill, "Nggak papa kok, kita belajar sama-sama, kalau kamu nggak bisa masak, aku masih bisa aja ngatasin itu, paling nantinya belajar dikit-dikit, biar nggak mesti langsung pinter tapi seenggaknya bisa lah ngasih cinta ke suami lewat masakan yang dibikin kamu sepenuh hati, aku mau coba nanti, aku siap jadi orang pertama yang cobain kalau kamu udah ada niat buat masak!"
"Kalau urusan rumah, kita kerjain sama-sama, kamu juga masih sekolah, pokoknya sekolah yang bener aja dulu! Itu yang pertama!"
"Kamu nggak marah kan? Nggak nyesel sama keputusan kamu kan?" tanya Jill, ia terharu saat Raiz mengatakan bisa memakluminya.
"Aku mau nyoba dan pertahanin kamu!" angguk Raiz.
Bukan tanpa sebab Raiz memutuskan untuk memilih Jill, selain karena ia merasakan rasa yang tidak biasa dengan gadis itu, tentunya ia bisa melihat bahwa Jill sebenarnya adalah gadis yang baik, diluar ke bar-barannya, diluar sifat tengilnya, sebenarnya Jill adalah gadis yang baik, Raiz hanya merasa perlu memperbaiki sedikit bagaimana Jill menyikapi hidup.
Bersambung...