
Dari kisah kami yang belum dimulai pun aku sudah cemburu, jadi itu juga alasan mengapa aku harus segera menghalalkannya.
^^^Raiz.^^^
___
"Kayaknya ini deh!" ujar Jill, memilih gaun berwarna biru pastel kesukaannya dengan belahan d*da yang sedikit terbuka, Jill meneliti gaun itu dengan mata berbinar dan membayangkan bagaimana jika dia memakai gaun itu, tentunya akan terlihat cantik sekali.
"No, big No!" tolak Raiz cepat, terang-terangan melayangkan tatapan tidak suka.
"Lho kenapa? Ini cantik!"
"Terlalu terbuka!"
"Perasaan enggak, cuma dikit!"
"Haaahhh!" Raiz menghela napas keberatan, "Aku nggak suka Ay, ini aja kamu seharusnya pake hijab lho, tapi berhubung kamu nggak mau ya oke! Tapi seenggaknya jangan yang macem-macem lah gaunnya!" jelas Raiz.
Jill tampak cemberut lalu meletakkan kembali gaun yang memikat hatinya itu.
"Kamu marah?" tanya Raiz.
"Enggak!" terdengar ketus, mana mungkin seorang Jilly tidak ngambeknya jika kemauannya tidak dituruti, hal itu sudah jauh-jauh diperingatkan oleh Jason pada Raiz, supaya dirinya bisa mewaspadai ketidaksinkronan hati calon istrinya itu.
"Meski tamu yang datang cuma kerabat dekat aja karena pernikahan kita emang harus dirahasiain, tapi bukannya kamu bisa kayak gitu Ay, aku nggak mau kamu make itu, terlalu mengumbar aurat, aku nggak rela!" ujar Raiz jujur saja.
"Iya Pak Ustadz, iya..." Jilly mencoba memahami, yah memang beginilah jadinya jika ia harus menikah dengan anak ustadz, keluarga Raiz tentulah taat agama dan tidak akan senang jika dia memakai gaun dengan potongan seperti itu, itu sudah harus menjadi konsekuensinya saat berani menerima Raiz.
"Hemmm..."
Jill lalu berjalan lagi, dia sudah tidak berminat untuk melakukan fitting gaun pengantin, dari tadi dia sudah menjelajahi setiap gaun berwarna biru pastel, namun tidak ada yang cocok baginya, dan sekalinya ia mendapatkan yang pas di hati, malah Raiz tidak mengizinkannya. Sekarang dia malah jadi tidak mood, karena sesungguhnya Jill benar-benar memimpikan pernikahan sesuai kehendaknya.
"Ini juga cocok buat kamu!" Raiz memperlihatkan gaun yang dipilihnya, warna putih gading dengan sentuhan swarovski itu tampak lebih sopan, bagian dadanya lebih tertutup, namun terus terang meskipun memang bagus, Jill benar-benar masih menyukai gaun yang dipilihnya pertama kali.
Dengan berat hati Jill mengangguk, ia mencoba tersenyum dengan pilihan Raiz, biarkan saja, yang penting dirinya menikah dengan kesayangannya.
Jill diminta Raiz untuk mencoba gaun yang dipilihkan, dengan malas Jill menuju ruang ganti.
"Udah milihnya?" tanya Shirleen lembut, dia juga datang untuk menemani Jill, tadinya dia memang sedang berbincang dengan Ummi Hana jadi tidak sempat membantu Jill dan Raiz untuk memilih gaun.
"Sudah Tante!" sahut Raiz pada Shirleen, yang meski sudah berumur namun masih terlihat cantik.
"Lho kok Tante? Mama..." Shirleen menekankan kata Mama karena mereka sudah sepakat waktu itu.
"Iya Ma, sudah!" ucap Raiz.
Ummi Hana juga melihat-lihat, bagai sebuah mimpi rasanya sebentar lagi dirinya akan berbesanan dengan keluarga terpandang seperti Adrian, Jason Ares Adrian itu sebenarnya adalah juga idolanya, sayangnya Jason membatasi media jika memberitakan tentang kehidupannya. Jadi, yang Ummi Hana tau hanyalah Jalan Ares Adrian itu adalah pengusaha muda sukses dan terkenal, dengan kepandaiannya, kekayaannya, dan ia sungguh mengagumi itu.
"MasyaAllah Nak... Cantik sekali..." puji Ummi Hana saat melihat Jill yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Shirleen tersenyum setuju, anak bungsunya itu memang cantik, dan rasanya saat melihat itu Shirleen masih tidak percaya bahwa sebentar lagi putri bungsunya itu akan menikah. Rasanya baru saja ia merawat Jill dan Jio, melihat langkah pertama keduanya. Ahhh terkadang waktu memang cepat saja berlalu.
Bersambung...